Al-Quran

Sikap Antipati dan Pesimisme Untuk Menghafal Al-Quran

Penulis: Muhammad Lathif · 2 min read

Majalahnabawi.com – Mengawali suatu tema di atas, penulis ingin membawa pembaca terhadap realita yang menjadi problem ketika berikhtiar, untuk menghafal dan sering kali dikeluhkan oleh saudara-saudara kita. Seringkali umat Islam menjadikan kata “takut lupa” sebagai penghalang mereka menghafal al-Quran, dengan sebagian paham “melupakan hafalan al-Quran adalah dosa besar”. Sehingga ketakutan mereka akan lupa, lebih besar dibandingkan harapannya untuk memperoleh karunia Tuhan. Tidak hanya satu kali dua kali, penulis mendengar pernyataan ini dari diri mereka punya bersikap antipati untuk menghafal al-Quran, atau bisa jadi motivasi mereka rendah karena tidak mengetahui tentang keistimewaan menghafal al-Quran.

Ada beberapa hal yang penulis ingin garis bawahi, tentang tema di atas “perasaan takut lupa dan dosa besar jikalau melupakan hafalan al-Quran!”

Pertama, lupa. Lupa adalah naluri setiap manusia, sehingga tidak ditemukan manusia di dunia ini yang tanpa lupa. Sehingga menjadi manusia sempurna, “bebas dari lupa”. Nabi Adam As pernah diuji dengan lupa sebelum ia diturunkan dari surga. Kasus lain, Nabi Musa juga pernah lupa mengingatkan kaumnya dari menyembah patung anak sapi. Nabi kita pun pernah lupa dalam jumlah rakaat shalatnya, dan sahabat lainnya pun turut mengingatkan beliau untuk menyempurnakan salatnya. Begitu pula dalam kehidupan nyata sewaktu-waktu kita kadang lupa!.

Saudara, inilah lupa yang merupakan satu kenikmatan dari Tuhan untuk mengingatkan kita agar menjadi insan yang berwaspada, berhati-hati dalam segala hal. Bukanlah kita telah mengenal bahwa obat lupa adalah mengingat? Bukankah kita telah mengenal bahwa dengan sering mengingat sesuatu akan semakin terekam di kepala?  Ini adalah hikmah pertama.

Melupakan Hafalan Tidak Dosa

Kedua, tidak ada nash yang secara tegas menyatakan melupakan hafalan al-Quran adalah dosa besar, melainkan nash yang tegas mengecam keras melupakan al-Quran dari segi pangamalan. Terlalu berlebihan paham sebagian masyarakat selama ini dosa besar ketika melupakan hafalan al-Quran.

Baca Juga:   Resensi Buku Renungan Kalam Langit

Dosa melupakan al-Quran dari segi lafaznya adalah hadis Dhaif (lemah) yang keluarkan oleh  Imam Ahmad (W. 241 H) dalam Musnadnya. Berikut ini adalah silsilah sanadnya: Menceritakan kepada kami Abdullah, menceritakan kepada kami Ali bin Syuaib bin Basysyar, menceritakan kepada kami Yaqub bin Ishaq, menceritakan pada kami Abu Awanah, dari Yazid bin Abi Ziyad, dari Isa, dari Ubadah bin Shamit Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang mempelajari al-Quran lalu ia melupakannya, maka kelak ia bertemu dengan Tuhannya dalam kondisi Ajdzam, (tidak sempurna)”. Dalam riwayat lain, riwayat  Anas bin Malik r.a, dari Rasulullah Saw bersabda: “Diperlihatkan kepadaku dosa-dosa umatku, lalu aku tidak pernah melihat dosa yang lebih besar dari pada dosa seseorang yang diberikan satu surah al-Quran kemudian ia melupakannya”. Dengan sanad yang Dhaif, Imam Ibnu Hajar telah menelitinya.

“Kata-kata takut lupa atau dosa besar ketika menghafal al-Quran”. Pernyataan ini tidak seyogyanya menjadi prinsip kebenaran yang final. Karena informasi yang menyebar luas di masyarakat saat ini terkait dosa besar melupakan hafalan al-Quran, yang mayoritas mengatakan hadis. Betul hadis tersebut adalah hadis Dhaif, yang tidak menjadi suatu keharusan kebenarannya. Artinya pernyataan tersebut bukanlah kebenaran yang mutlak.

Kualitas Perawi

Sebagian sighat redaksi perawi hadis di atas adalah Mu’an’an, yang dimungkinkan terjadinya Tadlis (penipuan) atau terputusnya. Imam al-Hafidz Ibnu Hajar (W. 974 H) telah menjarh sebagian perawi hadis di atas, di antaranya Yazid bin Abi Ziyad, yang berstatus Majhul (tidak diketahui identitasnya). Imam al-Zahabi (W. 748 H) berkata: Laisa bi Hujjah (tidak bisa dijadikan hujah). Sementara Imam al-Iraqi mengelompokkan dalam kitab Mudallisin.  Begitu juga dengan perawi Isa yang majhul.

Lantas bagaimana dengan mereka yang  mempunyai semangat tinggi ingin menghafal al-Quran, tetapi tekad mereka telah dipatahkan dengan informasi yang menyebar “dosa besar melupakan hafalan al-Quran” yang seharusnya mereka terbebas dari hadis Dhaif tersebut. Memang lebih sayang kalau ia meninggalkan dan tidak mau menghafal dan mempelajari al-Quran karena hadis Dhaif itu.

Baca Juga:   Alam Semesta Dalam Perspektif Islam

Ini sebabnya satu sisi orang berfikir ekstrim karena ketidaktahuannya tentang hakikat sesuatu. Terlalu banyak hadis-hadis Shahih yang berbicara tentang keutamaan menghafal al-Quran,  maka seseorang yang berfikir jernih tidak layak bersikap antipati untuk mendekat kepadanya. Karena dosa melupakan atau alasan lainnya, kemudian dia meninggalkan al-Quran yang merupakan karunia Allah yang sangat besar.

Kelebihan Penghafal Al-Quran

Hendaknya siapa saja yang bermimpi dan mempunyai semangat yang kuat untuk menghafal al-Quran,  maka kejarlah mimpi tersebut. Karena menghafal al-Quran adalah pekerjaan yang agung, serta sunahnya Salaf al-Shalih yang tidak pernah padam dalam setiap masa. Tak kalah pentingnya al-Quran adalah sarana terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt yang pasti mendapatkan pahala. Belum lagi kelak al-Quran menjadi syafaat yang tak tertolakkan, bagi pembacanya dan mahkota terindah, teruntuk kedua orang tua mereka yang putranya menjadi penghafal al-Quran yang sejati.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, penulis merasa perlu menukil tentang kreteria lupa yang berakibat dosa dalam pandangan ulama Fikih; pertama, Imam Ibnu Hajar al-Haitami (W. 974 H) berkata: Melupakan hafalan al-Quran yang telah berlalu adalah berdosa ketika hafalannya tersebut tidak bisa dibaca kembali. Adapun lupa yang hanya sebatas lupa ringan saja, semisal bisa diingat dengan berfikir atau dengan mendengarkan dari bacaan orang lain, ini tidak dianggap sebagai lupa yang berakibat dosa.” Kemudian tidak dianggap sebagai muqasshir (lalai) apabila lupanya karena sakit yang menghalangi lisan dan hatinya untuk menjaga hafalannya. Sementara Ibnu Uyainah berpendapat, yang dimaksudkan dengan dosa besar adalah lupa yang tercela, yaitu meninggalkan pengamalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.