Adab, Amaliyah

Adab Memperlambat Menjawab Shalawat Nabi

Penulis: luxman saidun firdaus · 1 min read
Nabi Muhammad Saw

Majalahnabawi.com – Subuh, mata pelajaran Hadis Akhlak di kelas menjadi saksi bagi Nabi bahwasannya apa yang mereka ucapkan menjadi sebuah wadah hidayah, keberkahan, dan petunjuk bagi para santri di muka bumi ini. Dengan membacakan sabda-sabda beliau pada pagi hari, di sebelah tepatnya masjid Munirah Salamah terdapat mahasantri yang sedang membacakan kitab Hadis, kemudian di kelas enam madrasah Darus-Sunnah pun membacakan Hadis Nabi juga.

Pagi itu, kami mengaji kitab Riyadh al-Shalihin karya imam al-Nawawi yang kemudian menjadi mata pelajaran sekolah. Diawali dengan membacakan al-Fatihah kepada penyusun kitab, berlanjut dengan pembahasan pada bab al-shalat ‘ala Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam kitab tersebut terdapat sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Sayidina Abu Hurairah

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّهِ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ. (رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ)

Entah kenapa setelah hadis ini dibacakan oleh santri, ustaz Subhan sebagai pengampu mata pelajaran tersebut secara perlahan memaknai Hadis tersebut, kemudian memberitahukan kepada kami dengan gaya bercerita beliau memaparkan makna sisi lain dari Hadis tersebut.

“Kalian kalo baca shalawat ke Nabi jangan dicepetin semisal shallalhu ‘alaihi wa salam [nada cepat], jangan kaya gitu tidak sopan, masa mau cepet-cepet lepas dari keberkahan“.  Jika dilihat dengan hadis di atas, ada kata rogima yang berarti hina dalam konteks tersebut bilamana ada orang yang mendengar nama Nabi kemudian tidak menjawabnya maka orang tersebut hina.

Orang Pelit Yang Tidak Mau Shalawat

Dalam riwayat lain yang diriwayatkan oleh Sayidina Ali, “Orang yang pelit (bahkhil) adalah orang yang ketika disebutkan namaku (Nabi) kemudian ia tidak bershalawat kepadaku”. Maka dari kedua hadis itu, bisa kita simpulkan  bahwasannya orang yang rugi adalah orang yang tidak bershalawat kepada Nabi dan juga orang orang yang mempercepat shalawat kepada Nabi.

Baca Juga:   Dakwah dengan Suri Tauladan di Masyarakat

Marilah kita bershalawat kepada Nabi dengan segenap hati yang gembira tidak tergesa-gesa, dalam keadaan khusyuk, kemudian kondisi yang tenang dan berwudhu, setelah itu berselawat kepada Nabi dan menikmati sensasi shalawat kepada Nabi, sebagaimana dalam sabda beliau sendiri, yang diriwayatkan dari Sayidina Abdullah bin Amr bin al-Ash, “Barang siapa yang bershalawat sekali shalawat kepadaku, maka baginya sepuluh kebaikan“.

luxman saidun firdaus
Santri madaris madrasah Darus-Sunnah Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.