Artikel Utama, pemikiran, Tokoh

Ajaran Rasa Jalaluddin al-Rumi

Penulis: Muhammad Ilham Barizi · 4 min read

Kebebasan sejati dan kebahagian yang sesungguhnya dapat diperoleh bukan hanya dengan harta, tapi dengan keluasan hati dan tingginya rasa syukur yang kita panjatkan pada Sang Pencipta.

Majalahnabawi.com – Ada seorang ilmuwan mengunjungi sebuah rumah sakit jiwa,

Aku ingin berkeliling melihat kondisi para pesakitan” kata si ilmuwan sembari mengetuk pintu. Ketika masuk, tampak seorang pesakitan dengan tangan dan kaki diborgol, berteriak penuh kegembiraan dan matanya tampak begitu berbinar-binar. Si ilmuwan lalu mendatanginya.

Wooow…!” kata si ilmuwan terkesima. “Dalam keadaan  tangan dan kaki terikat, kegembiraan macam apakah ini? Engkau ini seorang tahanan, apakah tidah sadar?”

“Tangan dan kakiku memang terikat,” kata si pesakitan, “tapi hatiku tidak. Ketika hatiku bebas, apa yang bisa mereka perbuat? Apa yang engkau sebut dengan dua dunia? Sebuah lautan, bernama kebebasan. Ya, lautan itu adalah aku!” (Hikmah)

Jika cerita pada Masnawi di atas ditilik secara zahir saja, kita pasti akan berpikir bahwa cerita di atas adalah cerita murahan, cerita fiksi, atau cerita yang biasa dibeli anak-anak dengan harga lima ratusan. Namun, jika ditilik oleh pikiran yang dilandaskan dengan logika dan nalar, cerita ini akan menjadi narasi yang menakjubkan, mengandung banyak pesan, bahkan dapat menyelesaikan masalah-masalah besar yang kian tumbuh subur di era industri ini.

Dilematika di Era Industri

Di era industri ini, pola pikir manusia telah berubah drastis, mereka menjadi semakin perhitungan, sesuatu yang dianggap menguntungkan akan mereka kerjakan dan sesuatu yang merugikan akan mereka tinggalkan meskipun hal itu baik secara sosial. Hal ini menunujukkan bahwa “pada era ini, sesuatu yang tidak bernilai produktif maka tidak akan memiliki nilai”. Padahal, pada hakikatnya manusialah yang tidak memiliki nilai apa-apa.

Fakta telah membuktikan bahwa lambat laun mesin canggih akan menjadi sesuatu yang lebih berharga daripada manusia. Para petani yang dahulunya memilih buruh untuk mengerjakan pemanenan sawahnya, sekarang lebih memilih mesin untuk melakukan pekerjaan tersebut. Hal ini karena petani menganggap mesin lebih produktif dibandingkan para buruh. Mesin dapat mengerjakan pekerjaan lebih cepat, lebih baik, dan lebih efisien dengan biaya yang lebih murah. Petani pun tergiurkan dengan pekerjaan mesin yang begitu hebat. Sehingga, mereka tega untuk memecat para buruh dan mengganti posisi mereka dengan mesin-mesin pemanen sawah. Padahal kehidupan buruh sangat bergantung pada gaji yang diperoleh dari pekerjaannya itu.

Selain perhitungan, manusia sekarang juga sudah mulai mendewa-dewakan suatu kebebasan, kebebasan yang mereka definisikan sebagai “ bebas untuk melakukan segala hal, bebas melakukan semua yang mereka sukai, dan bebas untuk melakukan semua yang mereka inginkan”. Manusia telah banyak berpacu untuk mendapatkan harta, tahta, dan wanita yang akan mengantarkan mereka pada suatu kebebasan. Mereka rela untuk mengorbankan apapun untuk meraih kebebasan tersebut. Teman, saudara, dan rakyat bisa jadi akan menjadi tumbal empuk yang akan mereka persembahkan untuk mencapai keinginan mereka.

Perseteruan karena Harta

Dahulu, pada tahun 2006, di pulau Madura, kita mendapati dua gelombang kelompok yang saling angkat senjata, tikam menikam, dan bahkan bacok membacok hanya karena selahan tanah yang mereka sengketakan. Mereka tidak peduli terhadap konsekuensi dari apa yang mereka perbuat, mereka hanya fokus pada tanah yang mereka sengketakan dan mengabaikan nyawa para penduduknya. Akhirnya, korbanpun kembali berjatuhan, tujuh nyawa terlepas dari tubuh dan Sembilan orang mengerang kesakitan karena digigit senjata. Kita juga tidak akan lupa sosok para koruptor yang telah mengambil jutaan bahkan milyaran uang rakyat. Dengan tanpa rasa tanggung jawab, mereka merampas hak-hak rakyat; hak-hak orang miskin yang seharusnya mendapatkan bantuan, hak-hak masyarakat yang seharusnya mendapatkan fasilitas, dan hak-hak penduduk yang seharusnya mendapatkan kesejahteraan. Semua yang mereka lakukan hanya bertujuan untuk memuaskan diri dan golongannya saja tanpa mempedulikan akibat dari perbuatanya. Akhirnya hak-hak orang lainpun terkorbankan; puluhan rakyat resah, ratusan masyarakat hidup tidak nyaman, dan ribuan orang miskin menderita.

Modernitas telah menjelaskan arti kebebasan sebagai “apa yang ingin kamu kerjakan maka kerjakanlah, kerjakanlah semua hal yang kamu inginkan maka kamu akan merasakan suatu kebebasan”. Pada titik ini, arti kebebasan akan berubah seratus delapan puluh derajat dari kebenaran. Orang-orang yang mendefinisikan kebebasan seperti di atas akan cenderung bertindak ngawur dan tidak berpikir panjang sehingga akan berpotensi untuk menimbulkan embrio-embrio negatif yang dapat merugikan kehidupan manusia.

Ajaran dalam Buku-buku Jalaluddin al-Rumi

Di dalam dunia yang sedang carut marut dengan kengawuran ini, kita kembali membutuhkan karya-karya Jalaluddin al-Rumi, karya-karya yang berisikan kisah-kisah unik namun mengandung ribuan pesan. Dengan menyelami karya-karyanya (seperti cerita pembuka di atas) dan menghidupkan kembali ajarannya, kita akan dapat menemukan solusi bagi permasalahan-permasalahan yang terpapar barusan.   

Pada kisah di atas, si pesakitan, meskipun secara fisik diborgol dan terbatasi dalam bergerak, ia masih dapat merasakan suatu kebebasan yang luas. Lalu bagaimana bisa kita masih merasa bahwa kehidupan kita masih tidak bebas, sedangkan kondisi fisik kita sangatlah berbeda dengan kondisi fisik si pesakitan?. Dari sini Jalaluddin al-Rumi mencoba mengajarkan kita bahwa “untuk meraih kebebasan, kita memerlukan fungsi hati yang dalam”. Dari segi kebahagiaan, kebebasan hati atau keluasan jiwa jauh lebih penting daripada sekedar kebebasan fisik. Kita bisa saja mengikat tangan dan kaki seseorang dengan paksa. Namun, kita tidak akan pernah bisa untuk mengikat kebebasan hati yang terdapat pada dirinya.

Kebebasan atau kebesaran hati ini akan menuntut seseorang untuk mensyukuri dan menerima semua yang terjadi. Hati, pada fase, ini akan berfungsi untuk mendorong manusia menjadi pribadi yang siap siaga untuk menghadapi segala keadaan, baik terpuruk ataupun terangkat. Sehingga, ia pun akan menjadi pribadi yang selalu merasa bahagia pada keadaan apapun.

Di pedesaan, kita kerap mendapati para rakyat jelata yang memiliki pekerjaan dengan gaji yang pas-pasan. Hari-hari mereka dijalani dengan menunggu pekerjaan tambahan. Jika ada suatu pekerjaan yang ditawarkan mereka akan bekerja. Tapi jika tidak ada, mereka akan senantiasa menunggu pekerjaan- pekerjaan tersebut. Namun, dalam kondisi yang sedemikian rupa, mereka masih saja dapat tertawa lepas, bergurau dengan anak dan keluarga, dan merasa bahagia sekalipun makanan sehari-hari mereka hanya berlauk tahu dan tempe.

Bersusah Payah demi Kebahagiaan Sesaat

Di sisi lain, di perkotaan, kita juga kerap mendapati orang-orang yang memiliki pekerjaan tetap dengan gaji yang berlimpah. Hari-hari mereka dihabiskan dengan duduk di kantor, berangkat pagi pulang malam. Waktu yang mereka miliki diabdikan untuk mencari harta demi memenuhi kebutuhan hidup yang serba mewah. Dengan kondisi yang bisa dibilang lebih dari cukup ini, ternyata masih banyak dari mereka yang merasa kuarang bahagia, mereka ingin merasakan kehangatan keluarga yang jamak dirasakan oleh masyarakat desa. Namun, profesi selalu menuntut mereka untuk berpikir dan bekerja demi kemajuan bisnis dan usahanya. Sehingga, ia hanya dapat merasakan kebahagiaan tersebut di waktu yang sangat singkat.

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa kebebasan sejati dan kebahagian yang sesungguhnya dapat diperoleh bukan hanya dengan harta, tapi dengan keluasan hati dan tingginya rasa syukur yang kita panjatkan pada Sang Pencipta. Oleh karena itu salahlah orang yang menganggap bahwa “kebebasan adalah ketika dapat melakukan semua yang kita mau, melakukan semua hal yang kita senangi meskipun melanggar aturan”. Karena sejatinya kebebasan ini hanya akan membuat seseorang senang sementara dan terkucilkan berkepanjangan.

Ketika kita ditanya, “ Sel apakah di dalam tubuh yang aktif bergerak bebas?” jawabannya adalah sel kanker. Hal ini karena sel kanker akan memusnahkan sel-sel sebelahnya dan menghabiskan gula darah lebih banyak dibanding sel-sel lainnya, sehingga ia dapat berkembang biak dengan cepat dan mendapatkan suatu kebebasan. Namun kebebasan yang dilakukan oleh sel kanker ini adalah kebebasan yang tidak bertanggung jawab, bebas seperti iblis. Begitu bebasnya ia menelan sel-sel yang ada di sekitarnya, tapi pada akhirnya ia akan mati dengan tubuh yang ia hinggapi.

Keterkekangan demi Menuju Kebebasan

Ya, itulah kebebasan yang kebablasan, kebebasan yang narsis. Begitu pula orang-orang yang egois. Para koruptor yang tanpa rasa tanggung jawab memakan uang rakyat, para bandit yang tak segan-segan melayangkan nyawa manusia, dan para pria hidung belang yang tak punya rasa malu menggauli istri orang. Merekalah bagian dari sel kanker sosial yang bergerak bebas dengan narsis sesuai kehendaknya. Namun akhirnya akan terkucilkan di masyarakat dan bahkan menempuh kehidupan sehari-harinya di penjara.

Jadi, hal yang ingin diajarkan al-Rumi di sini adalah “apabila si pesakitan yang diborgol masih bisa menjadi makhluk yang bebas, maka akan menjadi suatu kesalahan besar jika seorang yang sehat justru merasa kebebasannya dibelenggu oleh peratutan-peraturan. Kita berhak memberikan kebebasan seluas-luasnya bagi diri kita, namun dengan tetap menjaga norma-norma yang telah ditetapkan di dunia”. Marilah merubah semua prespektif-prespektif salah di lini kehidupan kita dan menggantinya dengan presepektif yang benar. “mari kembalilah dari semak berduri, datanglah ke taman bunga mawar” (Maulana Jalaluddin al-Rumi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.