Aturan Puasa Syawal yang Sering Disalahpahami

Majalahnabawi.com – Menjalani puasa selama sebulan penuh di bulan Ramadan ternyata tidak membuat umat Nabi Muhammad merasa lelah atau enggan untuk kembali berpuasa. Justru, banyak yang melanjutkannya dengan puasa sunnah di Bulan Syawal. Inilah yang kita kenal sebagai Puasa Syawal, amalan yang juga Rasulullah contohkan setelah menunaikan kewajiban puasa Ramadan. Sebagaimana sabda beliau yang Imam Muslim riwayatkan:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ» [مسلم، صحيح مسلم، ٨٢٢/٢]
Sesungguhnya Rasulullah Saw telah bersabda. Barangsiapa berpuasa ramadan lalu setelahnya berpuasa selama 6 hari dari Bulan Syawal maka puasanya sebagaimana puasa dahr (puasa setahun penih)
Namun, tidak sedikit orang yang memilih untuk tidak berpuasa di awal bulan ini. Dikarenakan beberapa hari setelah Idulfitri biasanya diisi dengan kegiatan silaturahmi ke rumah keluarga dan kerabat, yang identik dengan berbagai hidangan lezat.
Fleksibilitas Waktu Pelaksanaan
Bagi kalian yang ingin menyantap hidangan kerabat atau tetangganya, tapi juga hendak mendapatkan sunnah rasul, jangan khawatir. Sunnah tersebut masih bisa kita kerjakan selama bulan syawal belum berakhir. Hal ini berdasarkan keterangan yang ada dalam kitab Nihaya al-zain karya Syekh Nawawi Al-Bantani:
وَلقَوْله أَيْضا صِيَام رَمَضَان بِعشْرَة أشهر وَصِيَام سِتَّة أَيَّام بشهرين. فَذَلِك صِيَام السّنة. أَي كصيامها فرضا وَتحصل السّنة بصومها مُتَفَرِّقَة مُنْفَصِلَة عَن يَوْم الْعِيد.
لَكِن تتابعها واتصالها بِيَوْم الْعِيد أفضل وتفوت بِفَوَات شَوَّال. وَيسن قَضَاؤُهَا [نووي الجاوي، نهاية الزين، صفحة ١٩٧]
Dikarenakan Sabda Rasul juga, puasa ramadan itu sama seperti berpuasa selama 10 bulan. Adapun puasa 6 hari itu sama seperti 2 bulan berpuasa. Oleh karenanya puasa tersebut sama halnya dengan berpuasa selama setahun, maksudnya seperti puasa fardhu. Kesunnahan berpuasa syawal akan tercapai, baik kita lakukan terputus-putus (sehari berpuasa sehari tidak) maupun terpisah dari hari raya.
Meskipun begitu, berturut-turut dan menyambung puasa syawal dengan hari raya itu lebih utama. Puasa syawal ini akan selesai ketika berakhirnya bulan syawal dan sunnah untuk meng-qadha-nya.
Dengan demikian, puasa sunnah ini tidak harus kita lakukan tepat setelah hari raya atau pada tanggal dua Syawal. Seseorang boleh melaksanakannya kapan saja di bulan ini, bahkan hingga menjelang akhir bulan. Selain itu, tidak wajib pula secara berturut-turut; boleh juga kita kerjakan secara selang-seling sesuai kemampuan.
Jadi, bagi siapa saja yang ingin meraih keutamaan puasa sunnah ini, manfaatkan kesempatan yang ada sebelum bulan Syawal berakhir. Wallahu a‘lam.