1. Imam al-Khaththabi R.A. (w. 388 H)

Dalam kitabnya Ma’âlim al-Sunan yang merupakan kitab syarah (penjelasan) dari kitab Sunan Abû Dâwud. Imâm al-Khaththâbî menyatakan bahwa penggunaan metode hisab untuk menentukan awal Ramadhân, Syawâl, dan Dzûl Hijjah baru muncul pada abad ke-4 H. Pernyataan ini secara eksplisit menunjukan bahwa menggunakan metode hisab untuk menetapkan awal bulan-bulan tersebut adalah sesuatu yang baru yang belum pernah ada pada masa Nabi SAW., sahabat, tabiin, dan para ulama salaf. Dalam istilah Hadis, sesuatu yang baru dalam masalah ibadah itu disebut Muhdatsaât, suatu hal yang Nabi SAW. mengingatkan umatnya agar menghindarinya, karena ia merupakan bid’ah dan menyesatkan.

 

2. Imam Ibnu Taimiyah R.A. (w. 728 H)

Dalam kitab Majmû’ Fatâwa Syeikh al-Islâm Ibn Taimiyah beliau menyatakan sebagai berikut:

Kita mengetahui dengan pasti dalam agama Islam bahwa masalah puasa Ramâdhan, Haji, ‘Iddah, Ila, dan hukum-hukum lain yang berkaitan dengan hilal tidak boleh menggunakan pendapat ahli hisab apakah dia melihat atau tidak melihat bulan. Beliau juga mengatakan, “tidak diragukan lagi bahwa Hadis-hadis dan Ijma para sahabat Nabi telah menetapkan bahwa tidak boleh menggunakan hisab dalam masalah penetapan awal bulan-bulan tersebut.” Selanjutnya apabila ada orang yang berpegangan dengan metode hisab dalam menetapkan bulan-bulan tersebut, Imâm Ibn Taimiyah R.A. menegaskan bahwa orang yang berpegang dengan ilmu hisab dalam menetapkan awal bulan tersebut, ia adalah orang yang sesat dalam syariah dan pelaku bid’ah dalam agama. Ia juga keliru menurut akal dan ilmu hisab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here