3. Syekh bin Bâz R.A. (w 1419 H/1999 M)

Mufti Besar kerajaan Saudi Arabia dalam kitabnya Majmû’ Fatâwa Syeikh Bin Bâz mengatakan bahwa semua orang yang berakal sudah mengetahui bahwa hilal (anak bulan) itu sangat berbeda ketika ia dekat atau jauh dari matahari, ketika udara cerah atau tidak, dan ketika penglihatan mata setiap orang berbeda karena tajam atau lemah. Oleh sebab itu Nabi Muhammad SAW. hanya mengaitkan penetapan awal bulan dengan dua metode saja yaitu rukyat (melihat bulan) dan ikmâl (menggenapkan bulan yang sedang berjalan menjadi 30 hari, ketika bulan tidak dapat dilihat). Nabi SAW. tidak mengaitkan dengan metode lain. Oleh sebab itu dapat diketahui bahwa orang yang menggunakan metode lain dalam menetapkan awal bulan (tidak menggunakan rukyat atau ikmâl) maka dia telah membuat syariat dalam agama, sesuatu yang tidak diizinkan Allah SWT.

Fatwa Syaikh bin Bâz ini tidak berlawanan dengan dua ulama pendahulunya yaitu Imam Ibnu Taimiyah dan Imam al-Khaththabi, hanya saja beliau menggunakan bahasa yang berbeda. Kesimpulannya sama, yaitu bahwa menggunakan metode selain rukyat dan ikmâl dalam menetapkan awal bulan adalah perbuatan bid’ah dan sesat dalam agama.

 

4. Majelis Tarjih Muhammadiyah

Keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah Nomor: K. 973/66, tanggal 19 Ramadan 1376 H/ 31 Desember 1966 M tentang masalah Rukyat dan Hisab yang ditandatangani oleh H. Ahmad Badawi (Ketua) dan H. Jindar Tamimi (Sekretaris) menyatakan sebagai berikut:

Berpuasa dan berlebaran adalah dengan menggunakan rukyat dan tidak ada larangan menggunakan hisab. Hal ini berdasarkan Hadis :

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا العِدَّةَ ثَلَاثِيْن

Berpuasalah kamu karena melihat bulan, dan berlebaranlah kamu karena melihat bulan, dan apabila bulan tidak terlihat oleh kamu, maka genapkanlah bulan (yang sedang berjalan) menjadi 30 hari.” (HR. al-Bukhârî)

Baja Juga  Aswaja dan Aswajah

dan berdasarkan firman Allah SWT:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ

Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)” (QS. Yunus: 5).

Selanjutnya Keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah menyatakan bahwa apabila seorang ahli hisab menetapkan bahwa hilal tidak wujud, atau dia mengatakan hilal wujud tetapi tidak mungkin dapat dirukyat, sementara ada orang yang melihat bulan pada malam itu maka Majelis Tarjih berpegangan pada rukyat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here