5. Buya Hamka (w 1984 M)

Pada dekade 1970-an, Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah yang lebih dikenal dengan Buya Hamka mengatakan, “Saya kembali ke rukyat”. Pernyataan Buya Hamka ini boleh jadi lebih dari sekedar fatwa karena hal itu merupakan sikap.

 

6. Majlis Ulama Indonesia (MUI)

Pada tanggal 14-16 Desember 2003, Majelis Ulama Indonesia telah mengadakan ijtima ulama komisi fatwa MUI seluruh Indonesia ditambah dengan pimpinan ormas Islam tingkat nasional, pimpinan perguruan tinggi Islam tingkat nasional, dan pimpinan pesantren dari seluruh Indonesia. Ijtima (pertemuan) ini kemudian menetapkan keputusan tentang penetapan Ramadan, Syawal, dan Zulhijjah. Keputusan itu kemudian secara formal dijadikan sebagai Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia No. 2 Tahun 2004, yang isinya:

  1. Pihak yang berwenang untuk menetapkan masuknya bulan Ramadan, Syawal, dan Zulhijah untuk wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Menteri Agama RI.
  2. Keputusan Menteri Agama dalam menetapkan bulan-bulan tersebut berlaku untuk semua wilayah Republik Indonesia.
  3. Umat Islam Indonesia wajib menaati Keputusan Menteri Agama dalam masalah ini, dalam kapasitasnya sebagai ûlîl amrî dari mereka.

Dari beberapa pendapat di atas kita bisa menyimpulkan bahwa metode yang tepat untuk menentukan awal puasa Ramadan adalah rukyat dan ikmâl, karena metode tersebut merupakan rekomendasi langsung dari Rasul SAW. Allahu A’lam.