Syamail

Belajar Sifat Malu dari Rasulullah

Penulis: Rini Yulia · 2 min read

majalahnabawi.comKarena dengan adanya sifat malu seseorang dianggap hidup di dunia dan selamat di akhirat. Akan tertanam rasa malu di dalam dirinya untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang mendatangkan murka-Nya. Akan ada penyesalan di dalam dirinya ketika melakukan perbuatan yang tidak diridlai oleh Allah. Ia akan segera bertaubat dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Akhir-akhir ini, pemerintah sedang gencar memasang kata-kata berisi motivasi yang dipasang di jalan-jalan. Hal itu bertujuan agar masyarakat tetap bersemangat menjalani aktifitas di balik hiruk-pikuknya kehidupan.

Salah satu kata motivasi yang ditemukan di jalan itu adalah “Budaya Malu Budaya Kesadaran”. Dari bacaan itu saja sudah dapat disimpulkan bahwa sifat malu merupakan suatu sifat yang tertanam disebabkan adanya kesadaran di dalam diri seseorang.

Definisi Malu

Kata malu dalam bahasa Arab adalah al-hayaa’ yang merupakan turunan dari kata al-hayaat (kehidupan). Malu dan kehidupan memiliki kaitan yang sangat erat. Kenapa demikian? Karena dengan adanya sifat malu seseorang dianggap hidup di dunia dan selamat di akhirat. Akan tertanam rasa malu di dalam dirinya untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang mendatangkan murka-Nya. Akan ada penyesalan di dalam dirinya ketika melakukan perbuatan yang tidak diridlai oleh Allah. Ia akan segera bertaubat dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Sebaliknya, jika seseorang tidak memiliki sifat malu, maka ia sama saja seperti mayat di dunia dan akan celaka di akhirat. Orang yang tidak memiliki rasa malu tidak akan risih ketika melakukan perbuatan maksiat. Tidak ada sedikit pun penyesalan di dalam hati setelah melakukan dosa kepada Allah Swt.

Islam secara gamblang telah mengatur seluk-beluk kehidupan manusia dalam pergaulannya dengan manusia yang lain. Hal tersebut termasuk ke dalam adab-adab yang harus diperhatikan dan menjadi pedoman bagi manusia dalam menjalani kehidupan sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasul Saw.

Tauladan Nabi dengan Sifat Malu

Rasul Saw senantiasa mencontohkan dan memberikan tauladan dalam pergaulan manusia. Hal itu sesuai dengan tujuan pengutusan beliau oleh Allah Swt yaitu menyempurnakan akhlak manusia.

Baca Juga:   Bagaimanakah Cara Rasulullah Berpakaian?

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Semua tindak-tanduk manusia sudah diatur sedemikian rupa mulai dari hal yang paling kecil sampai hal yang besar sekalipun. Salah satu sifat yang dapat kita contoh dari Baginda Nabi Saw adalah sifat malu beliau.

Malu merupakan ciri khas akhlak orang yang beriman. Bahkan ada satu hadis yang mengatakan bahwa Rasul Saw merupakan orang yang paling pemalu. Rasa malu yang dimiliki oleh Rasul tersebut lebih besar dibandingkan seorang gadis yang sedang dipingit. Ketika melihat sesuatu yang tidak beliau sukai pun, maka akan tampak rasa malu dari wajahnya.

Menurut Ibnu Rajab dalam kitab Fathul Bari, malu dalam istilah syar’i adalah

خُلُقٌ يَمْنَحُهُ اللهُ الْعَبْدَ وَيَحْبَلُهُ عَلَيْهِ فَيَكُفُّهُ عَنِ ارْتِكَابِ الْقَبَائِحِ وَالرَّّذَائِلِ وَيَحُثُّهُ عَلَى فِعْلِ الْجَمِيْلِ

Sifat yang dikaruniakan Allah kepada seorang hamba sehingga membuatnya menjauhi keburukan dan kehinaan serta menghasungnya untuk melakukan perbuatan yang bagus”.

Kemuliaan Sifat Malu

Ada banyak hadis yang menceritakan tentang mulianya sifat malu di antaranya adalah

1. Sifat Malu Merupakan Etika Islam

عَنْ أَنَسٍ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا، وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ (رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ)

Sesungguhnya setiap agama itu memiliki etika, sedangkan akhlak (etika) Islam adalah rasa malu”.

2. Sifat Malu Merupakan Sifat Yang Dicintai Allah Swt

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْأَشَجِّ الْعَصَرِيِّ: إِنَّ فِيْكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ الْحِلْمَ وَالْحَيَاءَ (رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ)

Nabi Saw bersabda kepada al-Asyaj al-‘Ashari: “Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sikap yang dicintai oleh Allah; sifat santun dan malu”.

3. Sifat Malu Akan Mendatangkan Kebaikan

الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ أَوْ قَالَ الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ، فَقَالَ بُشَيْرُ بْنُ كَعْبٍ: إِنَّا نَجِدُ فِيْ بَعْضِ الْكُتُبِ أَنَّ مِنْهُ سَكِيْنَةً وَوَقَارًا وَمِنْهُ ضَعْفًا (رَوَاهُ ابْنُ دَاوُ،دَ)

Malu itu baik semuanya.” Atau beliau mengatakan: “Malu itu semuanya baik.” Busyair bin Ka’b lalu berkata, “Kami mendapatkan dalam beberapa buku bahwa malu dapat mendatangkan ketenangan, kewibawaan dan kelemahan!”.

Baca Juga:   Berikan Satu Waktu untuk Hidup Bersama Keluarga

Jangan Sampai Rasa Malu Dicabut!

Oleh karena itu, sebagai seorang yang beriman, kita harus menumbuhkan dan membiasakan rasa malu dalam setiap tindak-tanduk dalam kehidupan sehari-hari dan dalam hal-hal yang positif tentunya. Karena salah satu cara Allah membinasakan seorang hamba adalah dengan mencabut rasa malu dari dalam dirinya. Dengan dicabutnya rasa malu tersebut, akan menumbuhkan sifat-sifat yang dimurkai oleh Allah. Lebih parahnya lagi, Allah akan mecabut ikatan Islam dari seseorang. Na’uzubillah min dzaalik

Sebagaimana dalam hadis Nabi Saw.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ عَبْدًا نَزَعَ مِنْهُ الْحَيَاءَ فَإِذَا نَزَعَ مِنْهُ الْحَيَاءَ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا مَقِيْتًا مُمَقَّتًا، فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا مَقِيْتًا مُمَقَّتًا نُزِعَتْ مِنْهُ الْأَمَانَةُ، فَإِذَا نُزِعَتْ مِنْهُ الْأَمَانَةُ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا خَائِنًا مُخَوَّنًا، فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا خَائِنًا مُخَوَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِذَا نُزِعَتْ مِنْهُ الرَّحْمَةُ لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا رَجِيْمًا مُلَعَّنًا، فَإِذَا لَمْ تَلْقَهُ إِلَّا رَجِيْمًا مُلَعَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ رِبْقَةُ الْإِسْلَامِ (رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ)

“Apabila Allah ‘azza wajalla hendak membinasakan seorang hamba maka Dia akan mencabut rasa malu darinya, apabila rasa malu sudah dicabut darinya maka kamu akan mendapatinya dalam keadaan sangat dibenci. Jika kamu tidak mendapatinya melainkan dalam keadaan sangat dibenci, maka akan dicabut amanah darinya, apabila amanah telah dicabut darinya, maka kamu tidak mendapatinya kecuali dalam keadaan menipu dan tertipu. Apabila kamu tidak menjumpainya melainkan dalam keadaan menipu dan tertipu, maka akan dicabut darinya sifat kasih sayang, dan apabila dicabut darinya kasih sayang, kamu tidak akan menjumpainya kecuali dalam keadaan terlaknat lagi terusir, dan apabila kamu tidak menjumpainya melainkan dalam keadaan terlaknat lagi terusir, maka akan dicabut darinya ikatan Islam.”

Rini Yulia
Mahasantri Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences 2020 dan Mahasiswa Hukum Keluarga UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2019 Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.