Bergembira Datangnya Ramadan: Meninjau Hadis Secara Kritis

Majalahnabawi.com – Sudah menjadi lazim menjelang masuknya bulan Ramadan 1447 H di kalangan masyarakat Muslim Indonesia mengadakan semacam tarhib Ramadan. Tradisi ini muncul sebagai respon bahwa dalam bulan Ramadan terdapat keistimewaan, sehingga kita dianjurkan untuk menjalankannya dengan penuh semangat.
Tentu saja sekilas tradisi ini memiliki nilai positif karena memotivasi umat muslim untuk menjalankan ibadah puasa Ramadan. Namun hal ini akan terasa janggal ketika alasan adanya tradisi tersebut dinisbatkan atas nama Nabi Muhammad Saw., seolah untuk melegitimasi bahwa “cukup dengan bergembira datangnya bulan Ramadan saja kita akan bebas dari api neraka”.
Hadis “Bergembira Datangnya Ramadan” dalam Kitab Durrah al-Nashihin
Secara eksplisit saja, ungkapan di atas rasanya tidak mungkin jika bersumber dari Nabi Muhammad Saw. Memang tampaknya ungkapan ini bersumber dari sebuah redaksi berikut:
مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللَّهُ جَسَدَهُ عَلَى النَّيْرَانِ
“Barangsiapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadan, maka Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka”
Ternyata hadis dengan teks seperti di atas itu terdapat dalam kitab Durrah al-Nashihin, karya Utsman al-Khubawi, kitab yang dituding sebagai penyebar hadis-hadis palsu dan kisah-kisah imajinasi. Dalam kitab itu, hadis ini tidak disebutkan siapa rawinya, dan apa kualitasnya. Perlu diketahui bahwa kitab Durrah al-Nashihin sendiri bukan termasuk kitab hadis. la termasuk kitab akhlak yang berisi nasihat-nasihat untuk berperilaku luhur.
Faktanya di dalam kitab ini terdapat banyak hadis-hadis palsu dan kisah-kisah imajinasi. Sehingga, pada gilirannya bagi orang yang tidak dapat menyeleksi mana hadis yang shahih, dan mana hadis yang palsu, kemudian ia menyebarkan hadis-hadis itu, dapat disebut sebagai penyebar hadis palsu.
Dalam buku hasil disertasi Ahmad Luthfi Fathullah yang berjudul Takhrij Hadis Durratun al-Nasihin dikatakan bahwa hadis tersebut berkualitas Maudhu (palsu) tidak memiliki sumber yang jelas. Tentu, sudah menjadi kemufakatan dikalangan ulama hadis, bahwa beramal dengan bersumber dari hadis yang maudhu tidak dapat dibenarkan.
Kritik Matan Hadis Perspektif Ali Mustafa Yaqub
Menurut Ali Mustafa Yaqub dalam karyanya yang berjudul Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadan, dari segi matan atau substansinya juga tampak bermasalah. Ia berpendapat: “sangat mudah jika hanya bergembira masuknya bulan Ramadan, seseorang akan diharamkan jasadnya masuk neraka”. Padahal kita dapat melihat betapa banyak orang yang bergembira dengan masuknya bulan Ramadan. Pedagang sarung dan busana muslim yang terkadang dari kalangan non-Muslim, mereka selalu bergembira dengan datangnya bulan Ramadan, karena dagangan mereka akan laris.
Hal ini tentu tidak masuk akal apabila para pedagang yang bisa jadi dari non-Muslim itu akan terbebas dari siksa neraka hanya karena mereka bergembira dengan datangnya bulan Ramadan. Karenanya, dari segi matan, hadis ini juga tidak shahih. Apalagi bila dilihat bahwa dari segi sanadnya hadis ini tidak dapat dilacak keshahihannya.
Hadis Shahih tentang Keutamaan Ramadan
Meski demikian penulis berpendapat, mungkin saja tradisi “bergembira masuknya bulan Ramadan atau tarhib Ramadan” didasari dari hadis shahih yang terdapat dalam kitab Hadis Sunan al-Nasa’i dan Musnad Imam Ahmad dengan redaksi berikut;
أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ، تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ، وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ
“Telah datang kepada kalian Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan yang durhaka dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa terhalang dari kebaikannya, maka sungguh ia telah terhalang (dari kebaikan yang besar).”
Memang hadis ini bersumber dari Abu Hurairah ra., namun jika diperhatikan hadis ini hanya menjelaskan terkait adanya keberkahan di bulan Ramadan dan adanya malam yang disebut dengan lailatul qadr (satu malam lebih baik dari seribu bulan). Dengan kata lain hadis ini secara redaksi tidak sama sekali memerintahkan kepada kita untuk “bergembira”.
Meski demikian, tentu saja perasaan yang diselimuti dengan rasa kegembiraan karena akan datang bulan Ramadan merupakan hal positif. Terlebih lagi jika kita mengisinya dengan kebaikan-kebaikan semata-mata mengharapkan ridha Allah Swt. Yang salah adalah ketika kita meyakini dan menisbatkan bahwa “bergembira masuknya Ramadan agar jasad tidak tersentuh oleh neraka” itu bersumber dari Nabi Muhammad Saw. Wallahu ‘Alam.
Sumber
Utsman al-Khubawi. Durrah al-Nashihin. Indonesia: Maktabah Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah, 1980 M.
Ali Mustafa Yaqub. Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadan. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2018.
Ahmad Lutfi Fathullah. Takhrij Hadis Durrah al-Nasihin. Jakarta: Jakarta Islamic Centre, 1998.