Budaya Toxic Positivity dan Konsep Kesabaran dalam Islam

Majalahnabawi.com – Di era media sosial yang serba kilat, kita kerap menjumpai kalimat-kalimat seperti “Tetap semangat ya!”, “Jangan sedih, masih banyak yang lebih susah darimu,” atau “Bersyukurlah, pasti ada hikmahnya.” Kalimat-kalimat ini, meski tampak penuh kebaikan, pada kenyataannya sering kali justru menekan perasaan seseorang yang sedang dalam kesulitan.
Fenomena inilah yang dalam psikologi modern dikenal sebagai toxic positivity. Sebuah budaya yang secara berlebihan mendorong sikap positif sembari menolak, meremehkan, atau bahkan menghakimi perasaan negatif yang sesungguhnya valid.
Pertanyaan yang kemudian muncul di tengah masyarakat Muslim adalah: apakah ajaran Islam tentang sabar dan syukur memiliki keselarasan dengan budaya toxic positivity ini? Apakah konsep kesabaran dalam Islam mengharuskan seseorang untuk selalu tersenyum dan tidak mengeluh? Artikel ini berupaya mengurai benang kusut tersebut dengan menelisik makna kesabaran yang sesungguhnya dalam perspektif Islam, serta membedakannya secara tegas dari praktik toxic positivity yang kerap disalahpahami sebagai bagian dari ajaran agama.
Apa Itu Toxic Positivity?
Istilah toxic positivity merujuk pada keyakinan berlebihan bahwa seseorang harus selalu mempertahankan pandangan positif terhadap segala situasi, terlepas dari betapa menyakitkan atau sulitnya kondisi tersebut. Psikolog Susan David dalam karyanya ‘Emotional Agility (2016)’ menjelaskan bahwa penolakan terhadap emosi negatif justru berbahaya bagi kesehatan mental dan tidak mendorong pertumbuhan pribadi yang sejati.
Budaya ini, alih-alih menyembuhkan, justru dapat menciptakan rasa malu (shame) pada individu yang merasa emosinya “tidak pantas” atau “tidak bersyukur.”
Kesabaran dalam Islam: Lebih dari Sekadar Diam dan Tersenyum
Kata sabar dalam bahasa Arab berasal dari akar kata ṣa-ba-ra (صَبَرَ) yang secara harfiah berarti menahan, mengekang, atau menguasai diri. Dalam ‘‘Uddah ash-Shābirin‘, Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah mendefinisikan sabar sebagai kemampuan jiwa untuk menahan diri dari hal-hal yang menentang akal dan syariat, sambil tetap menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Dari definisi ini, dapat kita pahami bahwa sabar bukan berarti tidak merasakan rasa sakit. Sabar mencerminkan bagaimana seseorang menyikapi rasa sakitnya. Apakah ia tetap menaati Allah, mempertahankan harapan akan rahmat-Nya, dan menghindari hal-hal haram sebagai respons atas penderitaannya.
Dampak Toxic Positivity Berbalut Ajaran Agama
Ketika seseorang membalut toxic positivity dengan frasa keagamaan seperti “Sudah, bersabar saja,” “Jangan bersedih, dosa lho,” atau “Itu cobaan, harusnya bersyukur,”. Tindakan tersebut justru menimbulkan dampak yang lebih dalam dan merusak, karena:
1. seseorang yang sedang menderita bisa merasa bersalah secara spiritual atas emosinya yang “tidak tepat,” sehingga memperparah kondisi psikologisnya.
2. hal ini menciptakan hambatan bagi individu untuk mencari bantuan profesional seperti psikolog atau konselor. Karena mereka merasa bahwa “orang beriman tidak perlu itu.”
3. komunitas menjadi kehilangan kemampuan berempati yang otentik. Yang mana dalam Islam justru merupakan bagian dari akhlak mulia dan tanggung jawab sosial (fardhu kifayah).