‹ Kembali ke Beranda
Opini

Dekonstruksi Makna Permainan dalam Al-Qur’an

Oleh Ahmad Alif Azka·28 Januari 2026·68
Dekonstruksi Makna Permainan dalam Al-Qur’an

Majalahnabawi.com – Di dalam Al-Qur’an banyak termaktub tasybih atau perumpamaan. Contoh dari perumpamaan di dalam Al-Qur’an adalah اِنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ. Ayat ini mengibaratkan kehidupan dunia sebagai permainan dan senda gurau belaka. Namun sayangnya, tasybih itu tidak ada wajh syibh nya. Muncul pertanyaan, “apa yang Al-Qur’an jelaskan ketika menyebut dunia adalah permainan belaka?” Jika melihat penafsiran-penafsiran ulama, maka akan mendapati kalimat ini selalu ditafsirkan dengan makna negatif. Seperti dalam Ma‘ālim al-Tanzīl, Al-Baghawi menafsirkannya sebagai بَاطِلٌ وَغُرُورٌ (hal yang batil dan tipuan), atau seperti dalam Mafatih al-Ghaib, Ar-Razi menafsirkannya sebagai ما تَشْتَغِلُ بِهِ ولا يَكُونُ فِيهِ ضَرُورَةٌ في الحالِ ولا مَنفَعَةٌ في المَآلِ (hal yang menyibukkan, tapi tidak ada kebutuhan mendesak saat itu juga dan tidak ada manfaat pada akhirnya). Kamus-kamus Arab seperti al-Taʿrīfāt dan Lisān al-ʿArab juga mengartikan ayat ini secara negatif.

Hal ini menjadi masalah, karena manusia merupakan Homo Ludens yang memiliki fitrah bermain. Menurut Johan Huizinga, penggagas filsafat permainan, selain sebagai Homo Sapiens (makhluk berpikir) dan Homo Fiber (makhluk pekerja), manusia juga merupakan makhluk bermain (Johan Huizunga, 1949). Fahrudin Faiz juga menjelaskan dalam bukunya Menjadi Manusia Menjadi Hamba, bahwa manusia yang merupakan bagian dari dunia tentu memiliki sifat bermain (Fahrudin Faiz, 2022). Melalui pemaparan ini, terjadi dekonstruksi makna, bahwa term permainan dalam ayat di atas bukan lagi bermakna negatif, tapi bisa sangat positif

Dunia Adalah Permainan

Salah satu dialog yang terkenal dalam karya Shakespeare adalah all the world’s a stage, and all the men and women merely players yang artinya seluruh dunia adalah panggung, sedangkan semua pria dan wanita adalah pemerannya (William Shakespeare, 1955). Di Indonesia hal ini terkenal dengan ungkapan, “dunia adalah panggung sandiwara.” Manusia hidup di dunia sebenarnya hanya bermain drama. Ada masanya memerankan sebagai murid ketika di sekolah, namun ketika di pasar perannya berganti menjadi pembeli, dan ketika di masjid perannya berubah lagi menjadi makmum. Adakalanya memerankan peran sedih di suatu episode kehidupan, tapi tentu suatu saat akan memerankan peran bahagia, marah, jahat, baik, atau bahkan cemburu. Hal itu bisa pengaruhi oleh waktu tampil yang tentu memiliki durasi tertentu. Beberapa ada yang memiliki durasi yang lama di suatu peran, namun ada juga yang memiliki waktu tampil sebentar.

Melalui permainan sifat asli manusia bisa terbuka. Seseorang bisa saja mengatakan beberapa sifat tentang dirinya, apalagi jika sekadar membaca biografinya dan belum pernah bertemu langsung. Namun jika ikut terlibat dalam permainannya, keasliannya akan terlihat. Baik dan jahat tidak bisa diukur hanya melalui kata-kata, tapi harus dilihat bagaimana ketika dia bermain, apakah dia baik atau jahat. Karena bermain adalah fitrah manusia. Jika manusia selalu serius, bisa saja dia kehilangan fitrahnya. Sampai-sampai sifat jail dan iseng itu adalah bentuk sifat kekanak-kanakan setiap manusia yang ingin bermain.

Variabel Permainan

Dunia hanyalah permainan, maka tidak perlu menyikapinya terlalu serius. Tapi, sebagaimana bermain sebuah peran, akting harus serius. Bintang film kerjanya hanyalah akting, tapi jika tidak serius tentu film tidak akan bagus, bahkan tidak bisa mendapat Piala Citra. Seorang atlet tidak akan mendapat piala jika tidak berlatih dan bertanding dengan serius, meski bila dipikir, kalau ingin piala tinggal beli saja. Begitu juga pemain basket harus serius dalam merebut bola, meski sebenarnya bola bisa dibeli sendiri. Maka variabel utama dalam bermain adalah serius dalam ketidakseriusan. 

Variabel kedua adalah sukarela. Setiap manusia bebas memilih apa yang maunya untuk bermain. Seseorang yang tidak bisa bermain catur, tidak bisa memaksakan diri untuk bermain catur, karena bisa salah gerakan. Memaksa orang yang tidak ingin bermain bola justru dapat merusak permainan Oleh karena itu permainan harus dengan dasar sukarela.

Variabel ketiga adalah dimensi intelektual. Selain jasmani yang bergerak, permainan memiliki sisi intelektual yang ikut bekerja. Di permainan sepak bola, selain berlari, menendang, dan mengoper bola, seorang pemain juga harus mengerti seperti timing mengoper, teknik tipuan, membaca tendangan lawan, dll. Apalagi di zaman sekarang, permainan bisa sangat mudah mainkannya hanya dengan menggerakkan jari di gadget. Dimensi intelektual pada permainan seperti ini tentu lebih tinggi daripada permainan fisik.

Variabel berikutnya adalah menyenangkan. Rugi sekali orang yang bermain tapi tidak bahagia, karena tujuan bermain seperti sepak bola, monopoli, petak umpet, adalah untuk mencari kesenangan. Semua bagian kesedihan, kabar tidak menyenangkan, kekecewaan, adalah casting saja untuk memerankan adegan. Sutradara semesta, yaitu Tuhan, telah mengatur seluruh sandiwara dalam kehidupan.

Kelima adalah bisa menikmati Inti dari permainan itu adalah ketika menjadi bagian dari permainan tersebut. Ikut bermain tentu lebih nikmat daripada hanya melihat orang lain bermain peran tersebut. Ikut menggiring bola tentu lebih nikmat daripada hanya menonton pertandingan bola. Menonton bola secara langsung di stadion atau setidaknya di TV tentu lebih seru daripada hanya melihat skor akhir di pagi hari. Dalam hidup juga demikian. Sakit, sedih, kecewa, cemburu, dan kesal haruslah menikmati proses kehidupan dan seni bermain dalam kehidupan. Karena sejatinya baik senang maupun sedih keduanya memiliki energi yang besar.

Teori Klasik Permainan

Dalam kajian permainan, Lazarus mengemukakan teori rekreatif yang terkenal. Kehidupan tidak selalu memiliki isi, namun juga ada masa-masa kosong. Terdapat ungkapan bahwa makan akan terasa lebih nikmat karena ada kelaparan dan ketika sakit akan terasa sekali nikmatnya sehat. Oleh karena itu hidup akan sempurna jika ada kebahagiaan dan kesedihan, santai dan serius, kerja keras dan istirahat.

Anak-anak tidak bisa terus belajar, misal pagi sekolah, siang sering kali bermain. Karena rekreatif itu komplementernya, pasangannya adalah serius. Hidup tidak bisa nikmat jika penuh dengan keseriusan, misal pagi sekolah, siang les, sore mengaji, dan malam mengerjakan pr. Berlaku kebalikannya juga, meski membutuhkan sisi rekreatif, tapi juga tidak bisa selalu rekreasi. Jalan-jalan atau piknik memang perlu, tapi tidak bisa setiap hari piknik. Orang juga harus bekerja mencari uang agar dapat kembali piknik Demikian teori rekreatif.

Kesimpulan

Al-Qur’an secara jelas menyebutkan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan belaka. Jika melihat penafsiran klasik dan kamus-kamus Arab, makna permainan akan selalu bersifat negatif. Padahal di sisi lain, manusia merupakan Homo Ludens yang memiliki fitrah bermain. Oleh karena itu, dengan menggunakan hermeneutika radikal, penafsir dapat mendekonstruksi makna permainan untuk mencari pandangan lain yang lebih positif terhadap ayat-ayat Al-Qur’an

Bagikan: