‹ Kembali ke Beranda

FOMO dalam Perspektif Islam: Antara Media Sosial, Kecemasan, dan Rasa Syukur

Oleh Risa Alpionita·23 Mei 2026·19
FOMO dalam Perspektif Islam: Antara Media Sosial, Kecemasan, dan Rasa Syukur

Majalahnabawi.com – Pernah gak sih kamu merasa resah dan gelisah ketika belum membuka media sosial selama beberapa jam karena takut ketinggalan info terbaru? Atau kamu merasa tertinggal ketika teman-temanmu membahas berita atau tren terbaru sedangkan kamu belum tahu info tersebut? Nah, mungkin kamu sedang mengalami Fear of Missing Out (FOMO).

Definisi Fear of Missing Out

FOMO, atau takut ketinggalan, adalah suatu kondisi yang terjadi saat orang menunjukkan keinginan yang kuat untuk memantau aktivitas daring orang lain di media sosial, yang membuat mereka cemas saat membandingkan perilaku mereka sendiri dengan perilaku orang lain yang lebih sukses daripada mereka. Sederhananya, FOMO adalah situasi saat seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain dan merasa harus terus memantau dan mengamati aktivitas orang lain di media sosial.

Hubungan antara FOMO, Kecemasan Sosial, dan Harga Diri

Kecemasan sosial dan harga diri merupakan faktor yang memengaruhi FOMO. Kecemasan sosial adalah perasaan cemas yang muncul ketika seseorang berada dalam situasi sosial, terutama yang berkaitan dengan penampilan yang dimana seseorang merasa terancam untuk diperhatikan oleh orang lain dan khawatir akan dihina atau dipermalukan. Sementara itu, harga diri merupakan cara seseorang menilai dirinya, apakah ia merasa diterima atau ditolak oleh orang lain dan seberapa yakin ia dengan kemampuannya.

Menurut hasil penelitian, FOMO memiliki hubungan erat dengan kecemasan sosial dan harga diri. Semakin tinggi tingkat kecemasan sosial seseorang maka akan semakin tinggi pula FOMO yang dialami, sementara semakin rendah tingkat kecemasan sosial seseorang, maka akan semakin rendah pula FOMO yang dialami.

FOMO yang dialami seseorang akan menurun seiiring dengan meningkatnya harga diri dan FOMO seseorang meningkat seiring dengan durasi waktu yang dihabiskan seseorang untuk bermain media sosial. Mereka yang mengalami tingkat kecemasan sosial yang tinggi lebih cenderung terlibat dalam perilaku FOMO, sedangkan mereka yang mengalami kecemasan sosial rendah lebih cenderung tidak terlibat perilaku FOMO. Seseorang yang merasa cemas saat mengalami FOMO dapat mengatasi rasa cemasnya ketika memiliki harga diri yang positif seperti memandang dirinya dengan cara positif.

Pandangan Islam tentang FOMO

Dalam Islam, manusia diajarkan untuk hidup dengan rasa syukur dan tidak berlebihan dalam melihat kehidupan orang lain. Salah satu penyebab FOMO adalah terlalu fokus pada apa yang dimiliki orang lain hingga lupa mensyukuri nikmat yang Allah Swt. berikan kepada diri sendiri. Allah Swt. berfirman:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ اِلٰى مَا مَتَّعْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)

Ayat ini mengajarkan bahwa terlalu sibuk melihat kehidupan orang lain hanya akan membuat hati gelisah dan sulit merasa cukup. Rasulullah Saw. juga bersabda:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى ، وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ ، قَالَ قُتَيْبَةُ : حَدَّثَنَا، وَقَالَ يَحْيَى : أَخْبَرَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحِزَامِيُّ ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ ، عَنِ الْأَعْرَجِ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِذَا نَظَرَ أَحَدُكُمْ إِلَى مَنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ فِي الْمَالِ وَالْخَلْقِ ؛ فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ، مِمَّنْ فُضِّلَ عَلَيْهِ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Qutaibah bin Sa’id. Qutaibah berkata: “Telah menceritakan kepada kami,” sedangkan Yahya berkata: “Telah mengabarkan kepada kami,” Al-Mughirah bin Abdurrahman Al-Hizami, dari Abu Az-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah, bahwa Muhammad Saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian melihat orang yang dilebihkan darinya dalam harta dan penampilan, maka hendaklah ia melihat kepada orang yang berada di bawahnya, yaitu orang yang ia lebihkan darinya.” (HR.Muslim: 2963)

Hadis ini mengajarkan pentingnya bersyukur dan tidak terus-menerus membandingkan hidup dengan orang lain. Karena sering kali apa yang terlihat di media sosial hanyalah bagian terbaik dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan hidupnya.

Efek FOMO bagi Pengguna Media Sosial

  1. Sulit melepaskan diri dari media sosial, seperti saat makan, belajar, bahkan sebelum dan sesudah tidur.
  2. Menggunakan media sosial secara berlebihan.
  3. Munculnya kecemasan sosial yang berlebihan.
  4. Ketergantungan terhadap gadget terutama media sosial.
  5. Sulit menikmati momen bersama keluarga atau teman.
  6. Merasa rendah diri karena sering membandingkan diri dengan orang lain.

Dampak FOMO terhadap Hati dan Ibadah

FOMO bukan hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga bisa memengaruhi hubungan seseorang dengan Allah. Terlalu sibuk dengan media sosial dapat membuat seseorang lalai dari ibadah, sulit khusyuk, bahkan menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat.

Padahal dalam Islam, waktu adalah nikmat yang sangat berharga dan akan dimintai pertanggungjawaban. Rasulullah Saw. bersabda:

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ نَصْرٍ النَّيْسَابُورِيُّ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا : حَدَّثَنَا أَبُو مُسْهِرٍ ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَمَاعَةَ ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ ، عَنْ قُرَّةَ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Nashr An-Naisaburi dan beberapa orang lainnya, mereka berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Mushir, dari Isma’il bin Abdullah bin Sama’ah, dari Al-Auza’i, dari Qurrah, dari Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Muhammad Saw. bersabda: “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi: 2317)

Karena itu, media sosial seharusnya digunakan secukupnya dan untuk hal-hal yang membawa manfaat, bukan malah membuat hati semakin gelisah dan tidak tenang.

Tips Menghindari FOMO

  1. Jangan selalu membandingkan diri dengan orang lain.
  2. Menetapkan batasan waktu penggunaan media sosial.
  3. Meluangkan waktu untuk kegiatan offline seperti kumpul bersama keluarga atau teman-teman.
  4. Melihat konten yang memberikan manfaat, inspirasi, dan edukasi.

Tips Islami Mengatasi FOMO

  1. Perbanyak rasa syukur atas nikmat yang dimiliki.
  2. Mengingat bahwa standar kebahagiaan bukanlah validasi manusia, tetapi ridha Allah Swt.
  3. Mengurangi konsumsi konten yang memicu insecure atau iri hati.
  4. Mengisi waktu dengan ibadah, belajar, atau aktivitas yang lebih bermanfaat.
  5. Memilih lingkungan pertemanan yang membawa pengaruh positif.

Penutup

FOMO bukan hanya sekadar takut ketinggalan, tetapi juga dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan ketenangan hati seseorang. Dalam Islam, kita diajarkan untuk hidup sederhana, bersyukur, dan tidak berlebihan dalam melihat kehidupan orang lain.

Media sosial boleh digunakan, tetapi jangan sampai membuat hati jauh dari rasa syukur dan lupa menikmati kehidupan nyata. Karena kebahagiaan sejati bukan berasal dari pengakuan manusia, melainkan dari hati yang dekat dengan Allah Swt.

Bagikan: