Artikel Utama, Hadis

Hadis Allah Sakit, Benarkah?

Avatar Written by zulyatul amri · 2 min read

Majalahnabawi.com – Setiap manusia pernah mengalami sakit. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sakit adalah perasaan tidak nyaman di bagian tubuh karena menderita sesuatu, baik itu berupa demam, dan sebagainya.

Sakit membuat orang yang ditimpanya menjadi lemah. Meski demikian, hal itu merupakan cara Allah meleburkan dosa-dosa yang dilakukan oleh hamba-Nya. Bahkan dia diberikan pahala jika bersabar.

Tak hanya itu, orang yang menjenguk orang sakit, akan mendapatkan pahala juga. Hal ini dikarenakan ia telah memenuhi hak sesama muslim. Sebagaimana sabda Rasul yang diriwayatkan dari Abi Hurairah:

عن أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:  حَقُّ المُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ: رَدُّ السَّلاَمِ، وَعِيَادَةُ المَرِيضِ، وَاتِّبَاعُ الجَنَائِزِ، وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ، وَتَشْمِيتُ العَاطِسِ

Dari Abi Hurairah r.a, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: Hak muslim atas muslim lainnya adalah menjawab salam, mengunjungi orang yang sakit, mengikuti proses penyelengaraan jenazah hingga pemakaman, memenuhi undangan dan mendo’akan orang yang memuji Allah saat bersin. (HR. al-Bukhari)

Menjenguki Orang Sakit

Sakit yang dialami seseorang akan berpengaruh pada keadaan psikisnya. Makanya orang yang menjenguk dianjurkan untuk memberikan kata-kata positif dan harapan kesembuhan serta mendoakan kebaikan untuknya. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ummi Salamah:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِذَا حَضَرْتُمُ الْمَرِيضَ فَقُولُوا خَيْرًا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ

Dari Ummi Salamah, ia berkata: aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Apabila kalian mendatangi orang sakit maka ucapkanlah kata-kata yang baik. Karena sesungguhnya para malaikat akan mengaminkan apa yang kalian ucapkan.”  (HR. al-Nasa’i)

Demikianlah hadis-hadis yang kita temukan tentang keutaman orang sakit dan mengunjunginya.

Baca Juga:   Ismul A’zham dan Doa Nabi Ketika Mengalami Kesulitan

Sakitnya Wali-wali

Dalam salah satu al-Kutub al-Sittah, Shahih Muslim yang mana hadisnya berisi pernyataan bahwa Allah sakit dan pertanyaan kenapa tidak menjenguk-Nya. Berikut hadis yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah r.a:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلََّمَ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُوْلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِيْ، قَالَ: يَا رَبِّ كَيْفَ أَعُوْدُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِيْنَ؟ قَالَ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِيْ فُلَانَ بْنَ فُلَانٍ مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ . أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ وَجَدْتَنِيْ عِنْدَهُ

Sesungguhnya pada hari kiamat, Allah ‘Azza Wajalla berfirman: “Wahai anak Adam (manusia), Aku sakit, namun kamu tidak menengok-Ku.” Anak Adam berkata: “Ya Tuhan, bagaimana caranya aku menengok-Mu sementara Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Allah menjawab: “Tahukah kamu bahwa hamba-Ku Fulan bin Fulan sakit, namun kamu tidak menengoknya. Tahukah kamu, andai kamu menengoknya, maka kamu akan mendapati-Ku berada di sisinya. (H.R Muslim)

Hadis di atas telah ditakhrij oleh imam Muslim dengan nomor hadis 2569. Periwayat hadis tentang Allah Sakit, terdiri dari orang-orang yang tsiqoh. Tidak hanya dalam Shahih Muslim, hadis ini juga diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam kitabnya Shahih Ibn Hibban, dan al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’ab al-Iman.

Secara sanad hadis, tidak ada masalah dalam perawinya. Namun untuk matan hadis, ada beberapa kalimat yang rancu jika dipahami secara tekstual. Di antaranya adalah “Aku sakit” dan “andai kamu menengoknya, maka kamu akan mendapati-Ku berada di sisinya”. Mustahil Allah sakit dan mustahil juga kita dapat menemukan Allah secara zahir di Rumah Sakit atau di manapun orang sakit berada.

Pentakwilan Hadis

Oleh karena itu hadis ini perlu ditakwil. Takwil menurut Ibn al-Atsir dalam bukunya al-Nihayah fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar adalah mengalihkan teks lafaz dari makna asalnya (secara eksplisit) kepada makna yang memerlukan suatu indikasi yang jika indikasi ini tidak ada, maka tidak perlu mengabaikan makna eksplisit dari teks tersebut.

Baca Juga:   Melatih Anak Berpuasa Sejak Dini

Imam al-Ashbihani dalam kitabnya Musykil al-Hadits wa Bayanuh menjelaskan maksud Aku sakit di sini adalah wali-walinya Allah. Digunakan Aku adalah untuk memuliakan wali-walinya Allah, mengangkat nasib dan mengapresiasinya. Ungkapan ini biasa dalam perkataan bahasa Arab dan non Arab. Apabila majikan mengatakan suatu hal atas nama dia, padahal yang dimaksud adalah hamba sahayanya, maka jelaslah tujuannya untuk memuliakan dan mengagungkan. Hal ini dibuat seolah-olah derajatnya disamakan dengan derajat hambanya.

Kemudian Ibn al-Jama’ah dalam  Idhah al-Dalil fi Qath’i Hujaji Ahli al-Ta’thil menerangkan bahwa lafaz “andai kamu menengoknya, maka kamu akan mendapati-Ku berada di sisinya” yaitu bermakna, menemukan rahmatnya Allah, karunia-Nya, pahala-Nya, kemuliaan-Nya dan ridha-Nya. Lalu KH. Ali Mustafa Ya’qub mengatakan dalam bukunya, Cara Benar Memahami Hadis, makna “di sisi-Nya,” merupakan isyarat bahwa kepayahan dan kemalangan memiliki nilai dan perhatian di sisi Allah Swt. Dia berfirman: “Maka kamu akan menemukan-Ku di sisinya”, hal ini mengandung isyarat bahwa Allah Swt lebih dekat kepada orang yang lemah dan miskin.

Oleh karena itu, kita sangat dianjurkan untuk menjenguk orang sakit dengan beberapa etika yang telah kita ketahui. Apalagi yang sakit adalah wali-wali dan kekasihnya Allah yang diwakilkan dengan kata “Aku” dalam hadis. Namun alangkah baiknya lagi jika kita merupakan si fulan yang disebutkan dalam hadis, tetapi sudah pantaskah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.