Maulid Nabi Dianjurkan

Hadis di atas memang bermasalah, tapi bukan berarti peringatan Maulid juga bermasalah. Memang secara khusus tidak ada satu pun dalil yang menjelaskan peringatan Maulid, baik di dalam al-Qur’an, Hadis, maupun keterangan ulama salaf, perayaan Maulid tidak pernah ada. Karenanya kemudian beberapa kalangan memvonis perayaan Maulid adalah bid’ah sayyi’ah dhalalah (perbuatan tercela yang sesat), walaupun isinya baik, tidak menyalahi syari’at, bahkan dianjurkan seperti bacaan al-Qur’an, bershalawat, bershadaqah, dan lainnya. Namun, mereka tetap menyatakan Maulid Nabi bid’ah dan haram.

Padahal banyak ulama yang memberikan legalitas terhadap perayaan Maulid ini asal isinya baik, bermanfaat dan tidak menyalahi syari’at, misalnya Ibn Hajar al-‘Asqalani, al-Suyuthi dalam al-Hawi li al-Fatawi, Ibn Dihyah dalam al-Tanwir fi Maulid al-Basyir al-Nadzir, Abu Umar bin al-‘Ala’, Abu Abdillah bin al-Hâj dalam al-Madkhal ila ‘Amal al-Maulid, Nashir al-Din al-Dimasyqi dalam Maurid al-Shadi fi Maulid al-Hadiy, al-Kamal al-Adfawi dalam al-Thali‘ al-Sa‘id, Syamsuddin bin al-Jaziri dalam ‘Urf al-Ta‘rif bi al-Maulid al-Syarif, dan lainnya. Kesimpulan dari penjelasan mereka mengkerucut pada niat (tujuan) dan isinya, jika tujuan dan isinya baik, bermanfaat, dan tidak melanggar syari’at. Maka perayaan Maulid Nabi sangat dianjurkan.

Bahkan mereka mencatat ada Hadis yang memiliki relasi kuat terhadap legalitas perayaan Maulid Nabi Saw ini, yang di antaranyan sebagai berikut;

  1. Maulid Seperti Hari Asyura

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ ` لمَاَ قَدِمَ اْلَمدِيْنَةَ وَجَدَهُمْ يَصُوْمُوْنَ يَوْمَ عَاشُوراءَ فَقَالُوْا هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَى اللهُ فِيْهِ مُوْسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فصَامَ مُوْسَى شُكْرًا ِللهِ تَعَالَى فَقَالَ (أَنَا أَوْلَى بِمُوْسَى مِنْهُمْ). فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Ibn ‘Abbas menceritakan bahwasanya saat Nabi Saw datang ke Madinah, beliau mendapati mereka (orang-orang Yahudi) berpuasa Asyura. Saat ditanya, mereka menjawab: Ini adalah hari agung, hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir’aun. Maka puasa ini karena bersyukur kepada Allah. Rasulullah Saw kemudian bersabda: Aku lebih berhak (memuliakan) Musa daripada mereka. Rasulullah pun berpuasa dan menganjurkannya.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih-nya. Ibn Hajar –seperti dikutip al-Suyuthi dalam al-Hawi li al-Fatawi– menjelaskan bahwa dari Hadis tersebut dapat diambil pengertian tentang kebolehan berbuat sesuatu di hari tertentu sebagai wujud rasa syukur atas anugerah nikmat-Nya. Bentuk syukur ini dapat dilaksanakan melalui ibadah seperti shalat, puasa, shadaqah dan lainnya. Rasulullah saja berpuasa di hari tertentu –seperti Asyura’– karena bersyukur atas nikmat-Nya. Bukankah kelahiran Rasulullah Saw. adalah nikmat terbesar, dan sebaik-baik nikmat adalah Rasulullah Saw. itu sendiri? Lalu mengapa bersyukur atas nikmat itu harus dilarang.

Baja Juga  Hadis Kontroversial Abu al-A'rab at-Tamimi Tentang Keutamaan Afrika

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-Ma’arif menyebutkan bahwa lahirnya Nabi Muhammad Saw. dan diangkatnya sebagai Nabi dan Rasul adalah nikmat yang paling agung, bahkan jauh melebihi nikmat adanya langit dan bumi, matahari dan rembulan, siang dan malam, dan atau nikmat apapun itu, Rasulullah tetap adalah nikmat terbaik di antara segala nikmat-Nya. Ibn Rajab kemudian menuturkan bahwa berpuasa di hari adanya nikmat agung ini sangat bagus (hasan jamil) dan termasuk cara menyikapi kenikmatan yang diterima dengan cara bersyukur. Dengan ungkapan berbeda, al-Suyuthi dalam al-Hawi li al-Fatawi menyatakan bahwa kelahiran Nabi Muhammad Saw. adalah nikmat terbesar (a‘zham al-ni’am) dan wafatnya adalah musibah terbesar (a‘zham al-masha’ib). Karenanya syari’at sangat menganjurkan untuk bersyukur atas nikmatnya, bersabar dan tenang atas musibah yang menimpa. Maka bersyukur atas nikmat agung berupa lahirnya Nabi Muhammad Saw. sangat dianjurkan.

Jika memperingati sesuatu seperti Maulid Nabi ini dilarang, Rasulullah pada saat itu tidak akan berpuasa Asyura bahkan melarangnya, apalagi puasa Asyura itu juga dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Tapi faktanya Rasulullah bukan hanya berpuasa, tapi juga meganjurkannya. Untuk itu Ibn Rajab dalam Latha’if al-Ma’arif menyatakan bahwa puasa ini setara dengan puasa Asyura (wa nazhiru hadza shiyamu yauma Asyura’). Maka perayaan Maulid Nabi memiliki ruhnya dalam Hadis ini, dengan catatan isinya tidak mengandung kemafsadatan, kemudaratan atau kemaksiatan.