1. Nabi Berpuasa di Hari Senin

عَنْ أَبِى قَتَادَةَ الأَنْصَارِىِّ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ ` عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الاِثْنَيْنِ قَالَ : ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

Dari Abu Qatadah, suatu ketika Rasulullah Saw ditanya tentang berpuasa di hari Senin. Rasulullah menjawab: “Itu adalah hari kelahiranku dan hari aku di utus menjadi Nabi.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya. Menjelaskan Hadis ini, Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-Ma’arif berkata; Hadis ini adalah isyarat akan kesunnahan berpuasa di hari-hari yang terdapat nikmat-nikmat Allah Swt. atas hamba-Nya. Sesungguhnya nikmat paling agung itu adalah kelahiran Rasulullah Saw., dan diangkatnya beliau sebagai Nabi dan Rasul. Namun beberapa kalangan menolak dan menyebutkan bahwa dalam Hadis ini Rasulullah Saw bukan berpuasa untuk hari kelahirannya, dan tidak mengkhususkannya di hari Senin saja, sebab ia berpuasa hari Kamis juga. Puasa Senin Kamis ini rutin dilaksanakan, dan tidak ada kaitannya puasa ini dengan kelahirannya. Penjelasan ini termasuk analisis keharaman Maulid Nabi yang disampaikan Ahmad al-Tuwaijiri dalam kitabnya al-Bida’ al-Hauliyah. Al-Tawijiri berkesimpulan apapun bentuk peringatan Maulid –meski isinya baik– tetap melanggar dan menyalahi syariat karena tidak pernah dijelaskan oleh al-Qur’an, Hadis dan ulama salaf.

Padahal Rasulullah Saw adalah orang yang paling rajin dalam beramal kebaikan. Sebagaimana Imam al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih-nya menyampaikan Hadis sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ` أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ

Ibn ‘Abbas mengabarkan bahwa Rasulullah Saw adalah orang yang paling rajin dalam kebaikan, terutama di bulan Ramadhan.”

Hadis ini menjelaskan bahwa Rasulullah adalah orang yang paling rajin berbuat baik. Berbuat baik bebas dilakukan kapan saja, di mana saja dan dengan cara apa saja, yang penting tidak melanggar syari’at. Maka perayaan Maulid asal niat dan isinya baik sangat dianjurkan. Karenanya al-Suyuthi dalam al-Hawi li al-Fatawi menyatakan; Jika memasuki bulan Rabi’ul Awal, maka hendaknya memuliakan, mengagungkan dan menghormatinya sesuai dengan tuntunan Nabi Saw, yaitu lebih memperbanyak berbuat kebaikan.

Baja Juga  Logo Haul Kiai Ali Mustafa Yaqub ke 4

Sepertinya Ahmad al-Tuwaijiri melewatkan begitu saja penjelasan al-Suyuthi lainnya di dalam al-Hawi li al-Fatawi, bahwa al-Suyuthi menegaskan memuliakan hari kelahiran Nabi adalah termasuk pula dengan memuliakan bulan kelahirannya, maka sudah sepatutnya menghormati dan memuliakan bulan yang sangat Allah muliakan ini. Karena itu, Hadis di atas sebenarnya adalah isyarat dari Rasulullah Saw mengenai keagungan bulan Maulid Nabi tersebut. Karenanya saat Rasulullah Saw ditanya tentang puasa hari Senin beliau langsung menjawab; Itu adalah hari di mana aku dilahirkan dan diangkat menjadi Nabi.

Maka dari itu, perayaan Maulid Nabi baik dan bagus dilaksanakan. Sebagaimana Rasulullah Saw mengistimewakan dan menyebutkan hari Senin sebagai hari kelahirannya. Namun perlu ditekankan, isi dan nilainya harus baik dan sesuai dengan tuntunan syari’at.