2- Berinfak di Bulan Maulid

قَالَ رَسُوْلُ الله `ِ: مَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا فِي مَوْلِدِى فَكَأَنَّمَا أَنْفَقَ جَبَلًا مِنْ ذَهَبٍ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ

Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa berinfak satu dirham untuk merayakan hari kelahiranku, maka ia seakan menginfakkan emas sebesar Gunung di jalan Allah.”

Hadis ini sebenarnya adalah lanjutan dari Hadis mengagungkan Maulid di atas. Untuk itu, kualitas Hadis ini sama nilainya dengan Hadis di atas, la ashla lahu (tidak ada dasarnya), maudhu’ (palsu) karena Rasulullah Saw tidak pernah bersabda demikian. Memang ada juga qaul al-shahabah (perkataan Sahabat) yang redaksinya sebagai berikut;

قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ الصِّدِّيْقِ : مَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا فِيْ مَوْلِدِ النَّبِيْ  ` كَانَ رَفِيْقِيْ فِي الْجَنَّةِ

Abu Bakar al-Siddiq berkata: “Barangsiapa yang berinfak satu dirham di hari kelahiran Nabi Saw, kelak ia akan menjadi temanku di surga.”

قَالَ عُثْمَانُ بْنِ عَفَّانَ: مَنْ أَنْفَقَ دِرْهَمًا عَلَى قِرَاءَةِ مَوْلِدِ النَبِي  ` فَكَأَنَّمَا شَهِدَ يَوْمَ وَقْعَةِ بَدْرٍ وَحُنَيْنٍ

Utsman bin Affan berkata: “Barangsiapa yang berinfak satu dirham dalam perayaan maulid Nabi Saw., maka ia seakan telah syahid di peperangan Badar dan Hunain.”

Ungkapan ini tidak dapat dibenarkan sebagai perkataan Sayyidina Abu Bakar dan Utsman bin Affan. Sebab nilainya sama dengan qaul al-shahabah sebelumnya, otentisitasnya sangat diragukan, la ashla lahu (tidak ada dasarnya). Karena itu, kualitasnya palsu (maudhu’).

 

Infak Menurut al-Qur’an dan Hadis

Kata kunci dalam Hadis di atas adalah infak. Digambarkan dalam Hadis tersebut bahwa orang yang berinfak satu dirham saja pahalanya seperti orang yang menginfakkan emas sebesar gunung, dan seperti orang yang syahid di medan perang Badar dan Hunain dalam perkataan Utsman bin Affan. Bukan hanya itu saja, ia dijanjikan surga bersama Abu Bakar. Cukup menggiurkan pahala infak dalam Hadis dan qaul al-shahabah ini.

Baja Juga  Hikmah Dibalik Rabi’ul Awwal Sebagai Bulan Kelahiran Rasulullah Saw

Berinfak memang sangat baik dan dianjurkan. Tapi jika pijakannya adalah Hadis ini, akan berdampak pada penyempitan makna infak itu sendiri, di mana umat muslim hanya akan rajin berinfak di bulan Maulid saja, namun di bulan lainnya akan bermalas-malasan atau tidak berinfak. Imbas lainnya adalah prilaku korupsi bisa bebas dan marak berkeliaran dikarenakan orang akan berpikir dosa korupsinya diampuni cukup dengan berinfak di bulan Maulid. Dengan ini Hadis tersebut maknanya sudah sangat meragukan, yakni antara pahala dan pekerjaannya jauh tidak sebanding.

Bentuk Hadis seperti ini dalam kajian ilmu Hadis harus dicurigai kepalsuannya. Al-Suyuthi dalam Tadrib al-Rawi menjelaskan bahwa tanda-tanda kepalsuan Hadis antara lain adalah rakakatu alfazhiha wa ma’aniha (lafazh maupun maknanya lemah meragukan). Ternyata benar, dari segi makna, Hadis tersebut meragukan karena amalannya ringan namun pahalanya sangat melimpah. Apalagi isinya juga tidak selaras dengan penjelasan infak di dalam al-Qur’an dan Hadis. Al-Qur’an kurang lebih menjelaskan bahwa apa saja yang dinafkahkan (diinfakkan) di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup dan tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. al-Anfal [8]: 60). Dan apa saja yang diinfakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki terbaik. (QS. Saba’ [34]: 39). Dan apa saja yang diinfakkan, maka sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya. (QS. Alu Imran [3]: 92).

Memang ada Hadis yang menjelaskan bahwa pahala orang berinfak itu dilipatgandakan menjadi 700x kebaikan. Begitu disebutkan Imam Hanbal dalam Musnad Ibn Hanbal, al-Nasa’i dalam al-Sunan al-Kubra, al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, dan lainnya. Ada pula Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim dalam Shahihnya, al-Tirmidzi dan al-Nasa’i dalam Sunannya yang menyebutkan; Barangsiapa yang mendermakan (menginfakkan) sepasang harta di jalan Allah, maka kelak para penjaga surga akan memanggil-memanggilnya. Namun berinfak dalam Hadis ini harus secara berpasang-pasangan seperti sepasang kuda, dan lainnya. Sepertinya maksud berinfak dalam Hadis ini bukan dalam jumlah yang sedikit seperti satu dirham, tapi dalam skala yang agak besar atau sangat besar. Jika ada Hadis kuat lainnya yang menjelaskan fadilah (keutamaan) orang berinfak, maka pahalanya tidak akan setara apalagi melebihi pahala berinfak seperti disebut tadi. Sehingga dapat dipastikan bahwa redaksi (matan) Hadis tersebut juga palsu (maudhu’).

Baja Juga  Masjid Qairawan, Sentral Peradaban Muslim Bar-Bar

Meski begitu, berinfak di bulan Maulid tidak salah, sangat baik dan dianjurkan sebagaimana telah dijelaskan di atas. Namun sebaik-baik orang berinfak adalah mereka yang tidak memperdulikan kapan dan di mana akan berinfak. Jika sudah memiliki daya dan upaya untuk berinfak, berinfaklah di jalan Allah tanpa menunggu kapan waktunya dan di mana tempatnya. Allah Maha Tahu, Allah Maha Melihat, dan Allah Maha Membalas perbuatan hamba-Nya dengan setimpal tanpa merugikannya sedikitpun.