3- Berakikah Setelah

     Menjadi Nabi

عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ: أَنَّ النَّبِىَّ  ` عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَ النُّبُوَّةِ

Dari Qatadah, Anas bin Malik menceritakan bahwasanya Nabi Saw berakikah (menyembelih kambing akikah) untuk dirinya setelah masa kenabian.

Hadis ini diriwayatkan oleh imam al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubra, Abdurrazaq dalam Mushannaf-nya, dan al-Bazzar dalam Musnad-nya. Banyak ulama yang kemudian mencantumkan Hadis ini ke dalam kitabnya, di antaranya al-Haitsami dalam Majma’ al-Zawa’id, al-Maqdisi dalam Dzukhairah al-Huffazh dan Ma’rifat al-Tadzkirah, dan lainnya.

 

Hadis Bermasalah

Hadis tentang Rasulullah berakikah setelah diangkat menjadi Nabi ini merupakan indikasi kuat bahwa Rasulullah Saw merayakan hari kelahirannya dengan cara berakikah. Benarkah Rasulullah merayakan hari kelahirannya? Apakah benar akikah ini untuk merayakan kelahirannya?

Untuk mengetahuinya, maka sangat perlu mengkaji kualitas Hadis tersebut. Jika ternyata kualitasnya bagus, tidak diragukan lagi Rasulullah merayakan kelahirannya dengan berakikah. Jika ternyata lemah, maka itu tidak bisa dijadikan landasan karena isinya berimplikasi pada masalah hukum. Sebagaimana fungsinya, Hadis dha’if tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah hukum dan akidah. Apalagi jika ternyata Hadisnya palsu (maudhu’), itu sangat tidak bisa diterima dalam segala hal apapun.

Banyak ulama yang menilai Hadis di atas dha’if jiddan (sangat lemah) dengan ungkapan munkar, matruk, bathil dan lainnya. Penilaian ini rupanya dikarenakan seorang rawi bernama Abdullah bin Muharrar yang dinilai sangat lemah (dha’if jiddan) oleh para ulama kritikus Hadis. Al-Bukhari menilai Muharrar munkar al-hadits. Al-Nasa’i, al-Daruquthni, Abu Hatim dan beberapa ulama lain menilai matruk al-hadits. Abu Nu’aim al-Ashbihani bahkan secara khusus menilai Muharrar ini meriwayatkan banyak Hadis munkar dari Qatadah (rawa ‘an Qatadah al-Manakir). Sedangkan Yahya bin Ma’in menyatakan Muharrar dha’if, pada kesempatan lain ia berkata laisa bi tsiqah (tidak dapat dipercaya). Dan tidak ada seorang pun dari ulama yang menilai baik terhadap Abdullah bin Muharrar ini. Bukan hanya itu, semua riwayatnya juga dianggap sangat bermasalah.

Baja Juga  Sekelumit tentang Ghanimah

Untuk itu, Ibn Hajar dalam Taqrib al-Tahdzib berkesimpulan Abdullah bin Muharrar matruk. Al-Dzahabi dalam Mizan al-I’tidal menyatakan munkar al-hadits, di samping ia juga berkata; Hadis terparah yang diriwayatkan Abdullah bin Muharrar adalah Hadis tentang Akikah Nabi Saw seperti telah disebutkan. Karenanya tidak mengherankan bila al-Baihaqi sendiri menilai Hadis tersebut munkar, al-Shan’ani dalam Subul al-Salam juga menilai munkar, Abdurrazzaq menilai matruk dengan pernyataanya; mereka (para ulama) menilai matruk terhadap Hadis ini (innama tarakuhu bi hali hadza al-hadits), dan kemudian al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menilai Hadis tersebut bathil (keliru). Maka sampai di sini Hadis tersebut sangat lemah (dha’if jiddan), baik itu bentuknya munkar atau matruk sama saja, tidak bisa dijadikan hujjah (landasan).

 

Hadis Hasan

Penjelasan sebelumnya menyebutkan kualitas Hadis tersebut sangat lemah (dha’if jiddan). Penilaian ini benar secara parsial saja karena hanya menyoroti satu Hadis saja. Namun ini belum sepenuhnya final (tuntas) jika penilaiannya dilakukan secara kolektif dengan riwayat lainnya. Sebab ternyata Hadis ini memiliki jalur lain yang bisa saja dapat mengangkat derajatnya menjadi hasan.

Hadis pertama jalurnya adalah; Abdullah bin Muharrar – Qatadah – Anas. Para ulama sepakat menilai jalur ini sangat lemah seperti dijelaskan di atas. Hadis kedua, jalurnya adalah; al-Haitsam bin Jamil – Abdullah bin al-Mutsanna bin Anas – Tsumamah bin Anas – Anas. Jalur ini diriwayatkan oleh al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath, al-Thahawi dalam Musykil al-Atsar, Ibn A‘yan dalam Mushannaf-nya, Ibn Hazm dalam al-Muhalla, dan lainnya. Jalur kedua ini menurut al-Haitsami dalam Majma’ al-Zawa’id kuat dan sangat bagus. Kecuali Abdullah bin al-Mutsanna yang sempat menjadi perdebatan ulama karena ada yang menilai dha’if. Namun ini tidak berpengaruh, sebab al-Mutsanna tetap dinilai baik (shaduq), dan Hadisnya baik (shalih al-hadits). Ibn Hajar dalam Fath al-Bari memang menilai Hadis tersebut tidak kuat (la yatsbut). Namun hal ini bukan pernyatan mutlak yang menafikan jalur kedua tersebut. Sebab di saat yang sama Ibn Hajar juga mengomentari jalur kedua dengan ungkapan sanad Hadisnya sangat kuat (fa al-hadits qawiy al-isnad). Bahkan Ibn Hajar menambahkan Hadis ini bisa saja menjadi shahih jika rawi bernama Abdullah bin al-Mutsanna tidak sempat menjadi perdebatan ulama. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Ibn Hajar menilai Hadis tersebut Hasan karena ada riwayat lain yang menguatkan.

Baja Juga  Empat Hikmah Poligami Rasulullah Saw

Karenanya Muhammad Syatha al-Dimyathi dalam I’anat al-Thalibin secara tegas menilai Hadis tersebut hasan (baik) dikarenakan ada jalur lain yang menguatkan tadi. Adapun penjelasan ulama yang mendha’ifkan, seperti imam al-Nawawi, al-Shan’ani dan lainnya, itu tak lain dikarenakan mereka menilai secara parsial terhadap riwayat Abdullah bin Muharrar yang bersumber dari Qatadah dari Anas bin Malik, tanpa mengkompromikannya dengan Hadis lain. Sampai di sini, dapat dipastikan Hadis tersebut kualitasnya adalah hasan.