Hadis Shahih

Polemik panjang rupanya menyertai Hadis ini, dari semi palsu, dha’if, hingga hasan pun bergulir. Namun pada pembahasan ini, Hadis tersebut justru menjadi shahih. Mengenai hal ini, Ibn Hajar sejatinya telah memberikan isyarat seperti disebutkan tadi, namun hal itu tidak disampaikan secara tegas. Meski demikian, sikap Ibn Hajar sebenarnya tercermin dari komentarnya terhadap al-Dhiya’ al-Maqdisi yang mencantumkan Hadis tersebut ke dalam al-Ahadits al-Mukhtarah Mimma Laysa fi al-Shahihayn (Hadis-hadis pilihan yang tidak ada dalam kitab Shahihayn), yang menyatakan; Dapat dikatakan, jika Hadis ini shahih maka itu merupakan pengkhususan untuk Nabi Saw

وَيَحْتَمِلُ أَنْ يُقَالَ إِنْ صَحَّ هَذَا الْخَبَرُ كَانَ مِنْ خَصَائِصِهِ

Tidak mengherankan bila kemudian al-Albani secara tegas menyatakan shahih dan memasukannya ke dalam kitabnya yang berjudul Silsilah al-Shahihah, kitab yang secara khusus memuat Hadis-hadis shahih menurut al-Albani. Pernyataan ini sangat tepat, sebab penilaian al-Albani ini tak lain adalah refleksi dari penjelasan ulama salaf seperti Ibn Sirin yang tercatat dalam kitab Mushannaf Ibn Abi Syaibah, al-Hasan al-Bashri yang tercatat dalam dalam al-Muhalla karya Ibn Hazm al-Andalusi, dan beberapa ulama lainnya. Karena itulah dapat disimpulkan Hadis tersebut kualitasnya adalah shahih.

 

Dalil Maulid Nabi Saw

Setelah dipastikan Hadis di atas shahih, maka tentunya Hadis tersebut bisa menjadi pijakan atau dalil. Sangat tepat, al-Suyuthi dalam al-Hawi li al-Fatawi menyatakan Hadis tersebut bisa menjadi dalil/dasar (ashl) perayaan Maulid Nabi Saw. Pertanyaannya mengapa Hadis akikah yang menjadi dalilnya?

Padahal al-Suyuthi menjelaskan bahwa setelah diangkat menjadi Nabi, Rasulullah tetap berakikah untuk dirinya sendiri, padahal kakeknya –Abdul Muthallib– telah berakikah di hari ketujuh kelahirannya. Akikah cukup sekali saja (لا تعاد مرة ثانية), namun Rasulullah tetap melakukannya. Maka apa yang dilakukan Rasulullah itu adalah untuk bersyukur kepada-Nya karena telah menjadikannya rahmatan lil alamin dan pembawa syari’at kepada umatnya. Adapun kaitan Hadis tersebut dengan perayaan Maulid adalah cara bersyukur Rasulullah Saw dengan kembali berakikah. Padahal Rasululullah tahu kakeknya sudah berakikah untuknya saat usia tujuh hari. Mengapa demikian? Seperti dijelaskan al-Suyuthi tadi, syukur itu dilakukan Rasulullah karena Allah telah menjadikannya sebagai rasul pembawa rahmat untuk seluruh alam beserta isinya dan pembawa syari’at untuk umatnya. Karena itulah Ibn Hajar menyebut apa yang dilakukan Rasulullah Saw ini sebagai suatu yang spesial (khushushiyat) untuk Nabi Saw.

Baja Juga  Amanah, Pesan Penting Al-Quran Terhadap Penguasa

Begitu besar cinta Rasulullah Saw ini kepada umatnya sampai-sampai diekspresikan dengan cara berakikah lagi. Bahkan kelak di akhirat yang pertama kali Rasulullah Saw cari adalah umatnya, ya rabbi ummaty ummaty (ya Allah umatku umatku). Begitulah bentuk ekspresi cinta dan perhatian Nabi kepada umatnya. Jika demikian, bagaimana dengan kita umatnya? Bagaimana wujud dan ekspresi kecintaan kita terhadap Rasulullah Saw? Bukankah khushusiyat Rasul itu karena umatnya yang juga spesial? Bukankah akikah Nabi itu juga dikarenakan bersyukur atas kelahirannya? Lalu apa wujud syukur kita terhadap Nabi yang sangat spesial ini?

Untuk itu, perayaan Maulid Nabi Saw ini, sebagaimana disampaikan al-Suyuthi dalam al-Hawi li al-Fatawi menjadi media penting untuk mengekspresikan rasa syukur kita dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah dan lebih memperbanyak amal kebaikan seperti bershalawat, berinfak, membaca al-Qur’an, dan lainnya. Hingga akhirnya Maulid Nabi ini tujuannya tak lain kecuali al-taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah), mengagungkan Rasulullah, dan ekspresi syukur atas kelahiran Nabi mulia Muhammad Saw. Maka dengan ini, Maulid Nabi Muhammad Saw patut dan sangat dianjurkan.