‹ Kembali ke Beranda

Hadis vs Sains: Menjawab Kontroversi Sayap Lalat mengandung Penawar

Oleh Ana Farihatus Sholihah·5 Juli 2026·0
Hadis vs Sains: Menjawab Kontroversi Sayap Lalat mengandung Penawar

Majalahnabawi.com – Lalat identik dengan sesuatu yang menjijikkan dan kotor. Ia suka hinggap sampah, bangkai, hingga limbah dan kotoran. Namun janggalnya mengapa Nabi Muhammad SAW. dalam salah satu sabdanya justru menyebut lalat mengandung penawar? Bukankah justru mengandung banyak kuman dan patogen? Lantas apakah Nabi bersabda dengan sesuatu yang bertolak belakang dengan akal dan ilmu pengetahuan sains? Berikut uraiannya.

Hadis tentang Lalat

Terdapat salah satu hadis dalam kitab Shahih Bukhari, diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW. pernah bersabda:

 إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ، ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ، فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالأُخْرَى شِفَاءً

“Jika seekor lalat jatuh ke dalam minuman salah seorang dari kalian, hendaklah ia mencelupkannya (ke dalam minuman) dan mengeluarkannya, karena salah satu sayapnya mengandung penyakit dan sayap yang lainnya mengandung obat untuk penyakit tersebut.”

Sekalipun hadis ini berstatus shahih dan ditemukan dalam kitab yang paling otoritatif setelah al-Qur’an, hadis ini tetap menuai banyak kritikan. Pasalnya, jika dilihat secara tekstual hadis ini terlihat seperti bertentangan dengan dengan prinsip-prinsip kebersihan dan kesehatan, sehingga memunculkan berbagai interpretasi. Di era modern, hadis ini semakin menjadi sorotan dan dipertanyakan relevansinya dengan temuan ilmiah.

Komentar dari Beberapa Ulama

Sejumlah ulama dan kritikus hadis hadir memberikan pandangan terhadap hadis ini. Muhammad Nasiruddin al-Albani menyebut hadis ini dalam kitabnya Silsilah al-Ahadits al-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah. Hadis ini beliau anggap dha’if (lemah) karena beliau menganggap lalat sebagai pembawa kuman penyakit sehingga tidak mungkin membenamkannya justru menjadi obat.

Ulama lain seperti Yusuf al-Qaradawi turut mengomentari hadis ini, melalui kajian ilmu sanad hadis, beliau menilai hadis ini termasuk hadis ahad (diriwayatkan oleh satu jalur saja) sehingga berfaidah zhanni (praduga) bukan qath’i (pasti). Sehingga ruang kritik dan diskusi masih terbuka luas di dalamnya.

Muhammad al-Basyir al-Naifar dalam tulisannya “Mukjizat Ilmiah dalam Hadis Nabi: Hadis Lalat”, menunjukkan bahwa hadis ini dianggap problematik karena bertentangan dengan ilmu pengetahuan dan sulit untuk di takwil atau dijelaskan secara ilmiah. Ia juga menyebut bahwa sebagian hadis diriwayatkan dengan makna, sehingga bisa jadi makna yang sebenarnya tidak tertangkap secara utuh atau akurat oleh perawi.

Kritik-kritik yang bermunculan menunjukkan bahwa hadis tersebut berada dalam wilayah perdebatan, baik dari sisi pemahaman tekstual maupun kesesuaiannya dengan realitas ilmiah. Memuncaknya kontroversi ini mendorong perlunya pendekatan hadis agar pemahaman terhadap teks tidak menimbulkan kesalahpahaman. Dalam hal ini, sains modern dapat digunakan sebagai salah satu kacamata untuk membaca dan menjelaskan fenomena yang disebutkan dalam hadis, sehingga memungkinkan ditemukannya titik temu antara hadis dan penjelasan ilmiah.

Memahami Hadis dengan Pendekatan Sains Modern

Pendekatan sains modern mencoba menjawab hal ini dengan lebih hati-hati. Dalam kajian mikrobiologi, ditemukan bahwa serangga, termasuk lalat, memiliki sistem pertahanan alami terhadap mikroorganisme. Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Colorado di Amerika membuktikan bahwa dalam tubuh lalat terdapat mikrobiota, yaitu bakteriofag yang menyerang bakteri dan virus. Mikrobiota dalam tubuh lalat terdiri dari sel-sel berbentuk longitudinal yang hidup sebagai parasit di area abdomen mereka. Untuk menyelesaikan siklus hidupnya, sel-sel ini berpindah ke tubulus respiratori lalat. Ketika lalat dicelupkan ke dalam cairan, sel-sel tersebut akan keluar dari tubulus dan masuk ke dalam cairan.

Dalam riset lain ditemukan bahwa permukaan sayap lalat tidak hanya bekerja secara mekanis, tetapi juga mengandung enzim dan peptida antimikroba yang mampu menetralkan aktivitas patogenik beberapa jenis mikroba. Dan masih banyak jurnal dan penelitian yang telah membuktikan adanya enzim alami yang dihasilkan oleh lalat yang bisa menghilangkan bakteria yang dibawa oleh lalat. Studi-studi semacam ini memperkuat pemahaman bahwa serangga, alih-alih hanya menjadi pembawa penyakit, juga membawa mekanisme pertahanan kimiawi yang cukup manjur dalam tubuhnya.

Uraian di atas mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa terdapat relevansi antara hadis lalat dengan temuan ilmiah di bidang mikrobiologi dan ilmu kedokteran. Secara umum, hadis-hadis yang tampaknya bertentangan dengan akal tidak serta-merta layak ditolak. Terkadang, pembacaan manusia yang masih terbatas justru menjadi salah satu pemicu kesalahpahaman terhadap teks itu sendiri. Pendekatan sains maupun pendekatan tematik lainnya dapat menjadi jembatan atau piranti untuk memperbaiki pemahaman tersebut.

Bagikan: