‹ Kembali ke Beranda
Opini

Hari-hari Menuju Ramadan: Merawat Harapan, Menata Langkah

Oleh Rasyida Rifaati Husna·7 Maret 2026·23
Hari-hari Menuju Ramadan: Merawat Harapan, Menata Langkah

Majalahnabawi.com – Bulan Ramadan yang sebentar lagi akan datang bagaikan “tamu” yang membawa berbagai karunia dan berkah yang Allah titipkan kepadanya. Selain syariat puasa, keberkahan di bulan ini juga terkait dengan malam turunnya Alquran dan keutamaan-keutaman lainnya. Allah dalam firmanNya:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُۗ

“Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barang siapa di antara kalian hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu…” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Dalam ayat ini, jelas bahwa Allah memuji Ramadan di antara bulan-bulan lainnya, karena Dia telah memilihnya di antara semua bulan sebagai yang padanya turun Alquran yang agung. Sebagaimana Allah mengkhususkan bulan Ramadan sebagai bulan turunnya Alquran, ayat ini juga menjelaskan keutamaan bulan Ramadan itu sendiri, di antaranya adalah kewajiban puasa selama sebulan penuh bagi orang yang mukim dan sehat. (Tafsir Al-Qur’anil Adzim, 1/501).

Perintah puasa tersebut ditujukan agar orang-orang mukmin dapat mencapai derajat muttaqin (QS. Albaqarah: 183). Menurut Syekh Nawawi al-Bantani takwa berarti memelihara aturan-aturan syariat atau agama. Ditambah juga dengan mengikuti jejak langkah Nabi dalam ucapan dan perbuatan. Dalam konteks inilah bahwa setiap muslim belum ternilai sebagai orang yang bertakwa jika enggan menjalankan kewajiban dan menunaikan sunnah seperti yang Rasulullah teladankan.

Mempersiapkan Diri Secara Mental dan Spiritual

Keagungan Ramadan meniscayakan umat muslim untuk mempersiapkan diri agar dapat menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Rasulullah sendiri meneladankan persiapan menyambut bulan Ramadan yang beliau lakukan, bahkan semenjak bulan Rajab dan Sya’ban sebagaimana doa yang sering umat Muslim baca.

Satu doa ringkas penuh makna yang Rasulullah contohkan. Mengapa untuk dua bulan memohonkan berkah, sementara untuk Ramadan frasa doa tersebut “pertemukanlah” karena Rasul berkata bahwa untuk sampai kepada Ramadan adalah kebahagiaan yang luar biasa, hanya di bulan itu seluruh muslimin bahkan pendosa sekalipun bisa mendapatkan nikmat dan karunia Allah yang tidak terkira.

Tidak mengherankan jika kemudian Nabi saw. dan para salaf mengajarkan untuk menyambut Ramadan dengan perasaan suka cita dan bertahmid. Sebab kegembiraan menyambut Ramadan ini juga niscaya bakal terganjarkan dengan sebuah keutamaan pula, teriwayatkan pula dalam hadis. Bahwa siapa yang bergembira dengan masuknya bulan Ramadan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.” (HR. An-Nasa’i)

Selain perasaaan dan pikiran gembira dalam menyambut bulan Ramadan, yang utama adalah persiapan ruhiyah. Menurut Imam al-Ghazali, maksud dengan persiapan ruhiyah adalah membersihkan jiwa dengan bertobat nasuha, melatih diri sedikit demi sedikit beramal kebajikan kemudian menjadi kebiasaan. Mengapa hal itu harus persiapan, karena dalam kehidupan keseharian manusia suka lalai daripada menjaga mata, lisan, pikiran, tangan, kaki, dan sebagainya. Juga termasuk penyakit hati di mana kebanyakan itu adalah urusan dengan hak adami, karenanya membersihkan batin biasanya juga kita terjemahkan dengan saling memaafkan antar sesama sebelum memasuki bulan Ramadan.

Menurut sebuah hadis sahih, Rasulullah pernah menganjurkan agar siapa yang mempunyai tanggung jawab terhadap orang lain, baik itu menyangkut kehormatan atau apa saja, segera menyelesaikannya di dunia ini. Sehingga tanggung jawab itu menjadi bebas (bisa dengan menebus, bisa dengan meminta halal, atau meminta maaf). Sebab nanti di akhirat sudah tidak ada lagi uang untuk tebus menebus. (Jawahir al-Bukhari, hlm. 275)

Persiapan Ilmu

Setelah membersihkan jiwa, adalah sebuah keharusan untuk membekali diri dengan stressing ilmu agama dan pemahaman tentang makna puasa dan segala ibadah di bulan ini. Juga mempersiapkan doa, zikir, bacaan Alquran yang dapat kita amalkan selama Ramadan dengan membangun kebiasaan ibadah ini mulai dari sekarang, dengan memperbaiki bacaannya dan mencari tahu kapan dan bagaimana melakukan amalan ini.

Selanjutnya, persiapan berikutnya adalah menyiapkan jasadiyah atau fisik. Karena puasa Ramadan ini bukan menyangkut mental saja akan tetapi termasuk puasa badan atau fisik selama satu bulan penuh. Dengan demikian keduanya harus siap secara semetris, keseimbangan. Nabi bersabda: Mukmin yang yang kuat lebih Allah sukai ketimbang seorang mukmin yang lemah”. (HR. Muslim)

Persiapan Materi

Yang terakhir, tidak kalah penting adalah persiapan maaliyah atau uang. Hal ini perlu persiapan dengan baik dan benar karena selama satu bulan penuh melaksanakan puasa memerlukan faktor asupan gizi yang seimbang dan berkualitas. Kisah dari Ulama Betawi, mungkin bisa kita jadikan sebuah pelajaran.

Biasanya mereka mensiasati masalah tersebut dengan cara menabung selama sebelas bulan untuk persiapan mereka di bulan Ramadan. Maka, mereka tidak begitu “mengais” rezeki, sebab tak sibuk urusan dunia dan dengan tenang dapat melaksanakan ibadah sebulan penuh.

Selain itu, mengapa persiapan materi sangat penting. Sebab dalam bulan Ramadan tidak hanya amalan saleh personal yang perlu meningkat, namun juga amal sosial. Sebagaimana bunyi sebuah riwayat “Rasul adalah orang yang paling dermawan dan dia biasanya menjadi lebih murah hati saat Ramadan.” (HR. Bukhari)

Melakukan amal saleh sosial sangat utama selama Ramadan. Dengan melakukan itu, berati meniru teladan Nabi serta para salaf. Bulan ini adalah suatu kehormatan dan perbuatan baik di bulan ini lebih berkah daripada waktu lainnya.

Demikian, pentingnya sebuah persiapan terutama dalam menyambut bulan ini untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan optimal tidak bisa menganggap enteng dan remeh-temeh. Sebab sebagaimana Rasul pernah menyampaikan, “Ramadan ke Ramadan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan di antara masa tersebut.” (HR. Muslim)

Artinya Allah akan menjaga hamba-Nya sampai berjumpa Ramadan berikutnya, jika seseorang ibadahnya baik dan rapi terorganisir di satu Ramadan, maka di sebelas bulan sisanya, dia akan mudah menjadi hamba yang bertakwa, ringan untuk beramal saleh, juga lebih mudah untuk menjauhi perbuatan-perbuatan dosa.

Bagikan: