Sebelum menjadi sebuah negara, Indonesia hanya dikenal dengan sebutan Nusantara, karena pada masa kerajaan Majapahit seorang Patih Gajah Mada melakukan sumpah untuk menaklukkan seluruh wilayah dan pulau-pulau yang ada di sekitar kekuasaan Majapahit, sehingga wilayah penaklukan kerajaan Majapahit sampai pada Sabang sampai Merauke. Hal ini yang dilakukan oleh Patih Gajah Mada selain karena perintah dari raja tentu tidak lepas daripada jerih payahnya sendiri dan peran daripada menghormati para leluhur.

Sejak masa prasejarah, berbagai suku di kepulauan Nusantara sudah menghormati roh alam dan kekuatan bumi. Para masyarakat mengibaratkan seperti seorang ibu yang memberikan segala kehidupan kepada anak-anaknya yang dilambangkan sebagai dewi alam dan lingkungan hidup yang menjaga segala kemakmuran di bumi. Lalu mereka menamakan dengan istilah Ibu Pertiwi atau Dewi Pertiwi yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut Tanah Air.

Untuk Indonesia sendiri, masyarakat lebih akrab dengan penyebutan Ibu Pertiwi. Nah, beberapa hari lalu ada seorang dai yang mengatakan bahwa menyebutkan kata Ibu Pertiwi dihukumi haram karena kata Ibu Pertiwi itu adalah nama lain dari pada Dewi Pertiwi, lantas dai tersebut menyuruh jamaahnya untuk mengganti nama yang mempunyai nama Dewi atau Sri karena sama dengan Dewi yang menjaga alam dan dianggap syirik. Yang menarik lagi dari ceramah dai tersebut adalah dengan mengatakan bahwa penyebutan kata Dewi Pertiwi maka dianggap meyakini, dan jika meyakini maka menyekutukan dengan Allah.

Persepsi semacam ini menurut penulis terlalu berlebihan, karena dai tersebut lupa jika ia dilahirkan dari bumi Nusantara atau bumi pertiwi, lupa akan sejarah, lupa juga bahwa sebelum Islam datang ke bumi Nusantara ini mayoritas masyarakat masih menyembah arca dan pohon yang besar atau kebanyakan masih beragama Hindu.

Lalu Islam datang lewat para pedagang Gujarat Arab dan para Wali Sogo sedikit demi sedikit mengislamkan masyarakat Jawa dan tetap menghidupkan adat yang tidak bertentangan dengan Islam, seperti sunan Kalijaga yang menetapkan “tumpeng” dan bacaan tahlil untuk arwah para leluhur yang awalnya diletakkan di bawah pohon.

Bentuk kecintaan kepada bumi pertiwi atau tanah air telah dicontohkan oleh Nabi, yaitu kecintaannya kepada kota Makkah yang menjadi tanah kelahirannya. Dalam hadits disebutkan

عن ابن عباس رضى الله عنه : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ

“Dari Ibnu Abbas ra ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: Alangkah baiknya engkau (Makkah) sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu” (HR Ibnu Hibban).

 

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي حُمَيْدٌ، أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَأَبْصَرَ دَرَجَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ نَاقَتَهُ، وَإِنْ كَانَتْ دَابَّةً حَرَّكَهَا، قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: زَادَ الحَارِثُ بْنُ عُمَيْرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ: حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا.

“Bercerita kepadaku Sa’id ibn Abi Maryam, bercerita padaku Muhammad bin Ja’far, ia berkata: mengkabarkan padaku Humaid, bahwasannya ia mendengan Anas RA berkata: Nabi SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat tanjakan-tanjakan Madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya. Berkata Abu Abdillah: Harits bin Umair, dari Humaid: beliau menggerakkannya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah.” (HR Bukhari)

Selain hadits di atas juga terdapat doa nabi tentang kecintaannya kepada negerinya yang diriwayatkan oleh imam Bukhari

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

“Ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, atau melebihi cinta kami pada Makkah.”

Dari hadits di atas bisa diambil hikmah bahwa cinta kepada tanah air merupakan sebagian dari iman, ungkapan tersebut merupakan perkataan ulama nusantara yaitu KH. Wahab Hasbullah. Ini menunjukkan bahwa cinta kepada tanah kelahiran merupakan sebuah keharusan yang dimiliki oleh setiap orang yang dilahirkan.

Masyarakat Jawa khususnya, menurut penulis dianggap wajar jika mempunyai nama Dewi, Sri, Kunti, Wisnu, Bima atau nama-nama yang terkesan bukan Islami tidak seperti yang dikatakan seorang dai tersebut, karena memang nama tersebut sudah dianggap biasa dikalangan masyarakat. Hal ini sama saja dengan yang di Arab yang biasa dengan Abdullah, Baqir, Rahman dan lain-lain.

Menurut penulis yang terpenting adalah tujuan dari diberikannya nama tersebut adalah sebuah doa yang terbaik untuk pemilik nama tersebut, karena sejatinya meskipun mempunyai nama bukan Islami tapi berkelakuan baik sesuai dengan sunnah Nabi, maka itu lebih bagus daripada mempunyai nama yang Islami tapi tidak mencerminkan nama yang dimiliki. Wallahu ‘alam.