Islam di Tengah Arus Globalisasi: Menjaga Akidah atau Menyesuaikan?

Majalahnabawi.com – Globalisasi merupakan proses dunia yang semakin terhubung, membawa berbagai budaya, teknologi, dan ide dari seluruh negara. Bagi umat Islam, hal ini menimbulkan pertanyaan penting. Yaitu bagaimana cara menjaga akidah yang kokoh sambil tetap relevan dengan perkembangan zaman?
Hubungan Kompleks antara Globalisasi dan Islam
Globalisasi membuat dunia terasa lebih kecil, melalui internet, perdagangan internasional, atau hiburan global seperti film Hollywood yang bisa dinikmati dari rumah. Untuk Islam, ini memberikan peluang positif, seperti kemudahan belajar dari ulama dunia atau menyebarkan dakwah melalui media sosial.
Namun, ada pula resiko budaya barat yang liberal yang terkadang kita tidak bisa menyaringnya dengan bijak. Sebagai contoh di Indonesia, globalisasi memperkenalkan mode hijab bergaya Korea atau musik pop dengan unsur Islam. Hal ini menarik, tetapi sering memunculkan pertanyaan. Apakah ini masih sesuai dengan syariat?
Menjaga Akidah: Tetap Teguh di Tengah Arus
Menjaga akidah berarti memegang prinsip-prinsip dasar Islam, seperti tauhid (keesaan Allah), sholat lima waktu, dan hijab. Mengapa penting? Karena globalisasi bisa membawa angin yang membuat kita lupa identitas.
Contohnya, di negara-negara Barat, muslimah tetap memakai hijab meskipun sering mendapat kritik, seperti aktivis Malala Yousafzai yang memperjuangkan pendidikan sambil menjaga nilai-nilai Islam.
عَنْ أُمِّ المُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ: «مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ» رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِم ٌوَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Artinya: “Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan kami ini yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari-Muslim).
Hadis ini menekankan untuk tidak menambah atau mengubah ajaran Islam, tetapi bisa diinterpretasikan sebagai panduan untuk menyesuaikan tanpa melanggar prinsip, seperti menggunakan teknologi modern untuk dakwah.
Menyesuaikan: Fleksibel dengan Batasan
Di sisi lain, menyesuaikan berarti mengambil manfaat positif dari globalisasi tanpa meninggalkan akidah. Misalnya, mengembangkan bisnis halal yang bersaing secara internasional. Contoh menarik: Merek makanan halal di Eropa yang berhasil karena menyesuaikan dengan standar global sambil tetap halal.
Rahasianya terletak pada keseimbangan. Jaga akidah tetapi terbuka terhadap dunia. Contohnya, di Malaysia atau Turki, muslim bisa sukses di bidang teknologi sambil tetap menjalankan sholat dan puasa. Kita bisa memanfaatkan globalisasi untuk dakwah, seperti menyebarkan video inspiratif di YouTube, atau berpartisipasi dalam kompetisi internasional dengan etika Islam.
Lalu bagaimana cara mengaplikasikannya? Mulai dari hal kecil, seperti menyaring konten media sosial agar tidak terpengaruh negatif, atau bergabung dengan komunitas muslim yang inovatif. Ingat, Islam fleksibel tetapi memiliki Batasan, sesuaikan tanpa adanya tawar menawar dalam hal akidah.
Globalisasi bukanlah musuh, melainkan tantangan yang bisa dijadikan kesempatan. Dengan menjaga akidah sambil bijak menyesuaikan, kita bisa hidup sebagai muslim modern yang kuat dan inspiratif