Pojok Pesantren

Kaum Saintis yang Menjadi Jihadis

Avatar Oleh Iqbal Syauqi · 3 min read
Judul Buku          : Para Perancang Jihad “Mengapa Kalangan Terdidik Banyak Terlibat Ekstremisme dan Kekerasan?”

Penulis                 : Diego Gambetta dan Steffen Hertog

Penerbit              : Penerbit Gading, Yogyakarta, didukung INFID dan Yayasan LKiS

Halaman              : xxvi + 292 halaman

 

Sejauh yang mampu kita amati, kasus terorisme saat ini telah menggerogoti pondasi-pondasi kedamaian masyarakat. Teror, yang ternyata masih dianggap sebagai bentuk jihad, semakin tampak rumit dan kompleks. Di satu sisi, kritik dan aksi penolakan terjadi di mana-mana. Namun, patut kita sadari di sisi lain, ternyata gerakan teror ini–secara diam-diam—mendapat simpati.

Kalangan yang terlibat gerakan ini perlu mendapat sorotan. Setidaknya dari propaganda, lalu sekian aksi yang terjadi di penjuru dunia, terkesan bahwa gerakan ini masif, rapi, canggih, lagi terstruktur. Sehingga, satu hal yang patut kita sadari bahwa agaknya gerakan jihadis ini melibatkan kaum terdidik. Salah satu buku yang cukup baik menjelaskan fenomena ini adalah penelitian yang disusun Diego Gambetta dan Steffan Hertog, dua ilmuwan dari Inggris, yang dalam versi Indonesianya diterbitkan dengan judul Para Perancang Jihad: “Mengapa Kalangan Terdidik Banyak Terlibat Ekstremisme dan Kekerasan?”.

Persoalan ini tidak bisa disederhanakan, tanpa adanya data utuh daripada terjebak asumsi kosong. Argumen seperti “kalangan terdidik tidak mendapat pendidikan agama yang cukup,” atau “pengaruh pendidikan eksakta yang terlalu dogmatis dan kaku,” atau sikap tekstualis terhadap kitab suci, merupakan pernyataan yang perlu diuji secara metodologis dan ilmiah.

Anda tahu, orang-orang yang berperan besar dalam aksi terorisme di Indonesia, juga di dunia, adalah kaum sarjana dengan jurusan atau gelar yang mentereng. Dr. Azhari Husin, otak sekian aksi pengeboman di Indonesia, yang tertembak dalam serbuan di daerah Batu, Jawa Timur, adalah insinyur bergelar Ph.D dari Universitas Reading, Inggris. Kemudian Osama bin Laden, pentolan Al Qaeda, adalah seorang insinyur teknik kimia. Penggantinya, Ayman al Zawahiri, adalah mahasiswa kedokteran. Belum lagi banyak contoh pimpinan gerakan teror, juga anggotanya, yang berasal dari kalangan sarjana, khususnya bidang ilmu eksakta.

Profil dan Permasalahan Kaum Jihadis

Hasil penelitian yang berjudul asli The Engineers of Jihad ini menyuguhkan beberapa data penting terkait peta pendidikan kaum esktremis di dunia. Dari 497 sampel yang diambil dari pelaku-pelaku teror yang terkonfirmasi, 335 orang di antaranya diketahui latar belakang pendidikannya. Dari sejumlah sampel yang diketahui pendidikannya itu, orang-orang yang mengenyam pendidikan tinggi mencapai 69 persen (231 orang).

Baca Juga  Non-Muslim pun Ikut Berpuasa Ramadhan

Hal yang tampak adalah bahwa pelaku teror, baik pemimpin maupun anggotanya adalah golongan terdidik kampus. Sebagian besarnya berasal dari jurusan eksakta. Para sarjana teknik, dari 201 sampel yang benar-benar diketahui jurusannya, terdapat 93 orang (mencapai 44,9 persen) dan diikuti oleh jurusan kedokteran sebanyak 21 orang (mencapai 10,4 persen), kemudian baru studi terkait bidang ilmu lainnya. Jika sains, kedokteran, juga teknik digolongkan ke dalam jurusan elit, maka persentasenya dalam sampel mencapai 58,9 persen.

Salah satu teori yang berusaha dikaitkan adalah teori deprivasi relatif, tentang ketidakpuasan atas terlalu tingginya harapan dan rendahnya kenyataan yang didapat, khususnya pada tataran ekonomi atau status sosial setelah menjadi sarjana elit. Ekstremisme dianggap sebagai respon terhadap upaya negara yang gagal melibatkan dan membuka ruang kerja lebih banyak bagi kaum sarjana, khususnya teknik. Meskipun pada sekian kasus, kalangan ilmuwan eksak ini banyak yang memiliki karir cemerlang.

Gerakan Islam ekstrem menjadi “jalan keluar” bagi orang-orang yang kecewa ini. Pada taraf tertentu, kalangan sarjana eksakta memiliki kecenderungan untuk menjadi oposisi terhadap pemerintah secara militan.

Kemudian, secara ideologis kedua peneliti ini memetakan kecenderungan politik kaum sarjana dan ilmuwan menjadi “ekstrem kanan” yang fasis dan militeristik, dengan “golongan kiri” yang cenderung berhaluan pada komunisme, sosialisme, dan perjuangan kelas. Rupanya, para sarjana teknik dan sebagian kalangan eksakta lain memiliki kecenderungan politik untuk terlibat dalam gerakan ekstrem kanan.

Temuan yang didapat adalah ideologi Islam radikal, secara sentimen dan kepercayaan berkaitan erat dengan aksi-aksi militeristik dan represif khas ekstrem kanan. Selera dan nilai-nilai yang hierarkis lagi mekanistik pada “golongan kanan” dan Islam radikal, sejalan dengan keterlibatan ahli teknik di dalamnya. Kalangan ahli teknik, lebih sedikit untuk memilih untuk terlibat dan cenderung pada “gerakan kiri”.

Disebutkan bahwa kecenderungan kalangan eksakta, khususnya ahli teknik, untuk menjadi ekstrem secara kanan, sebanding dengan militansinya. Apakah kalangan sarjana ilmu sosial dan humaniora tidak ada yang terlibat haluan “kanan”? Penelitian ini menyebutkan bahwa mereka tetap ada, tapi dengan militansi yang lebih lentur dibanding kalangan eksakta. Kecenderungan politik ini penting dipahami sebagai kecenderungan ahli teknik dan kaum eksakta lain dalam sekian organisasi Islamis yang berkesan “lebih religius”. Militansi mereka terwujud dalam komitmen atas nilai-nilai Islam yang diyakini secara kaku.

Baca Juga  Eksistensi Kitab Kuning di Era Disrupsi

Beberapa Ciri Emosional dan Kognitif Kaum Jihadis

Setelah memetakan dan melakukan analisis terhadap latar belakang kalangan jihadis, kedua peneliti ini mencoba mencari “ciri khas” secara emosional dan kognitif dari profil orang-orang yang terlibat ekstremisme baik “kanan” maupun “kiri”. Karena kedekatannya dengan golongan “kanan”, maka kalangan dengan kecenderungan Islamisme radikal memiliki kesamaan ciri dengan golongan tersebut.

Golongan ahli eksakta, memiliki kecenderungan untuk ingin memiliki penyelesaian secara pasti suatu permasalahan. Maka golongan ini sangat terpengaruh dengan slogan “Islam adalah solusi” atau “Syariat harus ditegakkan untuk kemajuan negara”. Kemudian, mereka punya kecenderungan untuk membuat garis pembatas kaku antara golongannya dengan yang lain. Militansi ini dibentuk akibat perspektif nalar yang sangat kategoris dan membeda-bedakan.

Ciri selanjutnya kaum yang terlibat dalam Islamisme maupun ekstrem kanan ini sulit menerima hal yang tidak sesuai dengan norma mereka, atau sebut saja, “jijik dengan yang berbeda”. Kasus penolakan homoseksualitas dan isu rasial mencuat di kalangan mereka. Kemudian, ciri terakhir yang ditemukan adalah mudah menyederhanakan, simplisisme, atas isu-isu yang ada. Kenaifan membicarakan persoalan masyarakat dan masalah politik adalah pertanda ciri ini.

Temuan menarik selanjutnya terkait isu gender, adalah minimnya peran perempuan dalam golongan-golongan Islamis dan ekstrem kanan. Hal ini mengisyaratkan ada pemahaman yang “mencibir” perempuan di kalangan Islamis, sehingga secara tidak langsung, pandangan-pandangan terhadap perempuan di kalangan kaum Islamis perlu dipertanyakan.

Religiusitas bukan penyebab fundamental radikalisasi ahli teknik. Kesimpulan ini didapat dari hasil telaah bahwa pengalaman spiritual adalah domain pribadi, dan tidak ada kaitannya dengan kecenderungan menjadi radikal. Disebutkan bahwa religiusitas, namun membumi dan terbuka terhadap masyarakat, tidak mungkin terkena dampak radikalisasi.

Kesimpulan-kesimpulan dalam penelitian di atas menyatakan bahwa kalangan terdidik, punya ekses tersendiri terhadap gerakan esktremisme di dunia. Hasil temuan peran kalangan eksakta dalam gerakan jihad ini, khususnya ahli teknik, dengan segala konstruksi nalar dan ciri disiplin ilmunya, membantu kita memahami peta ekstremisme di dunia, serta persoalan pendidikan dan realitas sosial di sekitar kita.

”It put us on the map, but not in the way we wanted to be,” kata Steffen Hertog.