Artikel Utama

Kebebasan Informasi dan Etika Media

Avatar Oleh Fera Rahmatun Nazilah · 2 min read
Komunikasi telah mencapai kemajuan, kini seseorang mampu berbicara dengan jutaan orang melalui media massa. Ditambah lagi kemunculan media daring yang ikut memperkaya ragam media massa. Berbeda dengan media cetak dan elektronik, media daring atau yang lebih dikenal dengan media online mampu dijamah semua orang.

Melalui media daring, setiap orang bisa menuangkan aspirasinya ke khalayak dengan cepat dan mudah. Dengan satu kali klik, informasi langsung tersebar dan bisa dibaca jutaan manusia di berbagai penjuru dunia.

Kemudahan dan kebebasan akses informasi ini tentunya tidak bisa terlepas dari dampak positif dan negatif. Dampak positifnya, seseorang bisa berkomunikasi dan menerima informasi dengan cepat, murah dan mudah, di mana pun dan kapan pun. Namun di samping kemudahan akses informasi tersebut, sebagian orang justru menggunakan kesempatan itu untuk menyebarkan kabar bohong atau hoax.

Permasalahan hoax sedang ramai menghiasi media daring Indonesia, apalagi ditambah dengan memanasnya suhu politik terkini yang membuat kabar bohong semakin naik daun. Munculnya hoax di media didasari oleh tujuan tertentu, baik untuk kepentingan pribadi maupun golongan. Sayangnya, banyak masyarakat yang masih “polos” dalam merespon berita di media.  Mereka menelan berita itu bulat-bulat tanpa mengkroscek kebenarannya.

Penyebaran kabar bohong masih sulit diatasi meskipun pemerintah telah mengaturnya dalam Undang-Undang Dasar (UUD) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), baik yang berisi etika penyebaran informasi maupun hukuman bagi penyebar kabar bohong. Terlepas dari peraturan pemerintah tentang etika di media massa, Allah Swt melalui Rasul-Nya telah mengajarkan etika dalam menyebarkan dan menerima informasi.

Lalu, bagaimana cara mencerna dan memberi informasi dengan baik?

Tabayyun (Konfirmasi)

Tabayyun secara bahasa bermakna menjelaskan, menerangkan. Dalam hal ini tabayyun berarti mencari kejelasan dan meneliti suatu berita hingga jelas bahwa berita itu benar. Ketika mendapatkan informasi, janganlah langsung percaya dan hendaklah memikirkan matang-matang untuk menyebarkannya. Allah Swt memerintahkan kita untuk selalu mengkonfirmasi setiap berita yang kita dapat, sebagaimana firman-Nya:

Baca Juga  Hukum Tukar Cincin Setelah Akad

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ (الحجرات  ٦)

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (QS. Al-Hujurat:2)

Berhati-hati dalam menyebarkan informasi

Jika ingin menyebarkan suatu informasi, hendaklah memperhatikan dan meneliti apakah informasi itu benar atau dusta dan mengandung prasangka, menimbulkan kemaslahatan atau kemudaratan. Jangan sampai kita menjadi pendusta karena informasi yang kita dengar.

قَالَ رَسُوْلُ اللّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : كَفَي بِالمَرْإِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Rasulullah Saw bersabda “Cukuplah seseorang dikatakan berdusta jika ia menceritakan setiap yang dia dengar”  (HR Muslim)

Jika informasi itu benar dan baik tentu saja akan membawa kebaikan bagi orang yang menyebarkannya. Namun sebaliknya jika yang disebarkan adalah keburukan maka yang didapatkannya adalah keburukan. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللّهِ صَلّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” مَنْ دَعَا إِلَى الهُدَى، كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَ مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ لَهُ عَلَيْهِ مِنَ الاِثْمِ مِثْلَ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا” (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw bersabda “Barangsiapa yang mengajak kepada suatu petunjuk, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia memperoleh dosa semisal dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dosa-dosa mereka” (HR Bukhari)

Baca Juga  Menilik Pemikiran Hadis Syuhudi Ismail

Bicara yang baik atau diam

Banyak orang yang dijerat hukum karena ucapan dan tulisannya di media massa atau mediasosial. Seorang mukmin hendaklah menjaga dirinya, jika takut berkata buruk, diam lebih baik. Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَ اليَوْمِ الآخِرِ فَاليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (HR Bukhori, Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad)

Meskipun interaksi di media massa tidak berlangsung secara tatap muka, namun etika tidak boleh terlewatkan, yaitu dengan memberikan informasi jujur dan bukan bohong (hoax), tidak menghina, tidak menebar kebencian dan tidak mengadu domba. Masyarakat juga dituntut untuk mencerna informasi dengan baik, karena yang kita butuhkan bukan hanya ponsel pintar, tetapi juga pintar mencerna informasi.