Kegigihan yang Menjalar

Karena kegigihan para sahabat dalam menyebarkan ajaran Islam, para tabi’in tergugah hatinya untuk mengikuti jejak gurunya. Tarikhul Hadis an-Nabawi fi Tunis karya Dr. Hadi Rosyo menceritakan bahwa Khalifah Umar bin Abdul Aziz sampai memilih sepuluh ulama terbaik untuk dikirim ke Afrika, untuk mengajari mereka Al-Quran, Sunnah dan pokok-pokok ajaran Islam lainnya.

Salah satu dari sepuluh ulama itu adalah Abu Jahm Abdul Rahman bin Rafi’ at-Tanukhi. Seorang tabi’in yang meriwayatkan Hadits dari banyak sahabat dan kepada banyak tabi’in atau tabiut tabi’in. Ia dimakamkan di pemakaman Quraisy di kota Kairouan.

Kegigihan ini juga ditularkan kepada para muridnya. Sampai-sampai penduduk Kairouan ada yang berkelana demi menanyakan suatu permasalahan yang dimilikinya, mereka jadikan Madinah sebagai Kiblat ilmu mereka.

Madinah adalah tempat Rasulullah tinggal ﷺ , disanalah syariat dan hukum-hukum islam dipatenkan. Hadis-hadis dan gudang ilmu tak lain juga bersumber dari Madinah. Dengan begitu mereka kumpulkan permasalahan yang mereka miliki, kemudian dikirimkan kepada seorang utusan untuk pergi menanyakannya kepada para sahabat atau tabiin.

Dikisahkan pula dalam kitab Thabaqat Ulama Ifriqiyyah Wa Tunis karya Abu al-Arab Tamimi bahwa suatu ketika penduduk Kairouan mengutus Khalid bin Abi Amran pergi ke Madinah Al-Munawwarah. Disana ia bertemu dengan Salim bin Abdullah bin Umar dan Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, kemudian ditanyakanlah kepada mereka berdua tentang permasalahan-permasalahan yang dimiliki penduduk Kairouan.

Akan tetapi mereka berdua enggan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Lalu Khalid pun berkata, ‘‘sesungguhnya kami tinggal di tempat yang sangat tandus di Negara sebelah barat dan para penduduk Kairoaun membebaniku permasalahan-permasalahan ini.’’

Mereka juga berkata, ‘‘pergilah ke Madinah Al-Munawwarah karena disana terdapat anak-anak sahabat Nabi, tanyakanlah kepada mereka permasalahan-permasalahan ini. Apabila engkau berdua tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan ini sungguh itu akan jadi suatu bencana besar bagi kami.’’ Akhirnya dijawablah pertanyaan-pertanyaan itu.

Baja Juga  Gereja Disulap Jadi Masjid

Kemudian setelah itu banyak penduduk Kairouan yang berkelana bukan cuma ke Madinah, bahkan Kufah, Syam, Bashrah, dan Mesir. Kisah bahwa Ali bin Ziyad at-Tunisi pernah pergi ke Madinah untuk mendengar Hadis-hadis Muwattha dari Imam Malik juga tertulis di kitab Tarikhul Hadis an-Nabawi fi Tunis.

Kemudian ia pergi ke Kufah untuk mendengar hadis-hadis dari kitab Jami’ Kabir dan Ausat milik Imam Sufyan as-Tsauri, lalu ia belajar hadis dan fiqih dengan Imam al-Laits bin Sa’d di Mesir, kemudian ia pulang ke Tunis untuk menyebarkan apa yang selama ini ia cari.

Tak sedikit ulama-ulama Afrika yang belajar dan berguru kepadanya, seperti Abdullah bin Farrukh, Asad bin furat, Bahlul bin Rasyid, Sahnun bin Said, dan masih banyak lainnya.

Sebenarnya masih banyak lagi ulama-ulama Afrika yang pergi berkelana mencari ilmu, sampai-sampai kitab Muwattha menjadi kitab hadis yang pertama kali dicetak yang diriwayatkan oleh tujuh orang penduduknya.

Dari perjuangan para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabiin, dan serta para ulama lainnya kita bisa menyimpulkan bahwa sebagai generasi penerus bangsa kita harus keluar dari zona nyaman untuk terus bergerak dan berkembang. Karena sesuatu yang hanya diam ditempat, tidak akan pernah berkembang.

Wallahu a’lam bis showab.