‹ Kembali ke Beranda
Hadis · Opini

Ketika Piring Diisi, tetapi Pendidikan Dikosongkan

Oleh Iqbal Mudhaffari·15 Februari 2026·50
Ketika Piring Diisi, tetapi Pendidikan Dikosongkan

Majalahnabawi.com– Di banyak negeri, kemajuan sering diukur dari terpenuhinya kebutuhan materi: pangan tercukupi, infrastruktur dibangun, dan ekonomi bergerak. Namun, tidak jarang perhatian terhadap pendidikan, ilmu, dan otoritas keilmuan justru terabaikan. Akibatnya, masyarakat tampak sejahtera secara lahiriah, tetapi rapuh secara intelektual dan moral.

Fenomena ini menjadi semakin berbahaya ketika urusan agama dan kehidupan publik diserahkan kepada orang-orang yang tidak memiliki kapasitas ilmu. Ketika suara paling keras lebih didengar daripada suara yang paling berilmu, maka kesesatan mudah menyebar, dan kebodohan dianggap sebagai kebenaran.

Islam memandang ilmu sebagai fondasi peradaban. Hilangnya ilmu bukan terjadi secara tiba-tiba, tetapi melalui proses panjang, ketika para ulama tidak lagi dijaga, dihormati, dan diwarisi ilmunya, lalu digantikan oleh figur-figur yang berbicara tanpa dasar pengetahuan.

Rasulullah Saw. telah mengingatkan umatnya tentang bahaya ini dalam sabdanya:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ” إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “. (رواه البخارى)

Artinya:
Dari Abdullah bin Amr bin Ash (w. 63 H): saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya sekaligus dari para hamba, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga apabila tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.”
(HR. Bukhari)

Istifadah:


Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini merupakan peringatan keras tentang bahaya hilangnya otoritas ilmu. Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bari menegaskan bahwa hilangnya ilmu bukan disebabkan rusaknya kitab atau lenyapnya nash, tetapi karena wafatnya para ulama yang mengamalkan dan mengajarkannya. Ketika sanad keilmuan terputus, pemahaman agama pun menjadi liar dan tidak terkendali.

Dalam Syarh Shahih Muslim, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa mengangkat orang bodoh sebagai rujukan agama adalah sebab utama munculnya bid‘ah, kesesatan, dan kekacauan hukum. Orang-orang tersebut tidak hanya merusak diri mereka sendiri, tetapi juga menyeret orang lain ke dalam kesalahan.

Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menambahkan bahwa rusaknya masyarakat sering kali berawal dari rusaknya ulama atau ketika ulama tidak lagi hadir membimbing umat sehingga posisi mereka diisi oleh orang-orang yang mencari popularitas, bukan kebenaran.

Oleh karena itu, Islam menekankan pentingnya menjaga ilmu, menghormati ulama, serta memastikan bahwa urusan agama dan kehidupan publik disandarkan kepada ahlinya. Masyarakat yang hanya mengenyangkan perut tetapi mengabaikan pendidikan dan ilmu sejatinya sedang menyiapkan kehancuran secara perlahan. Ilmu adalah cahaya, ketika cahaya itu padam, maka arah pun akan hilang.

Wallāhu a‘lam.

Bagikan: