Dikisahkan oleh Ḥasan al-‘Adawi bahwa Imam Muḥammad bin Sulaiman atau dikenal dengan al-Jazuli (875 H.) pernah kesusahan memperoleh air wudu’, padahal ia telah berusaha menimba air dari sumur yang ada di sekitarnya. Tiba-tiba ia dikagetkan oleh seorang anak gadis yang memperhatikannya dari tempat yang lebih tinggi. Anak gadis tersebut bertanya, “Siapakah engkau?”. Lalu, Imam al-Jazuli memperkenalkan dirinya. Setelah itu, anak gadis tersebut berkata dengan lugu, “O, ternyata engkau adalah orang yang banyak dipuji karena keilmuannya itu, tetapi merasa kebingungan hanya dikarenakan air yang tidak dapat ditimba dari sumur”. Lalu, anak gadis tersebut meludah ke dalam sumur, sehingga terjadi sesuatu yang luar biasa. Air di dalam sumur mendadak naik, sehingga Imam al-Jazuli dapat berwudu’ dengan sempurna. Setelah itu, ia bertanya kepada anak gadis tersebut sembari bersumpah, “Apakah yang membuatmu sampai kepada tingkatan mulia ini (sehingga dengan air ludah terjadi keajaiban)?.” Anak gadis tersebut menjawab, “Dikarenakan banyak bersalawat kepada Nabi Saw yang apabila berjalan di padang tandus, maka binatang liar pun bergayutan di ujung pakaiannya”. Jawaban ini menginspirasi Imam al-Jazuli untuk menyusun kitab kompilasi salawat yang berjudul Dala’il al-Khayrat. Kisah ini dinukil oleh Syaikh Yusuf al-Nabhani di dalam Dala’il al-Wadihat syarah kitab Dala’il al-Khayrat.

Kitab Dala’il al-Khayrat merupakan kitab salawat yang paling banyak dibaca oleh umat Islam, baik di dalam maupun dalam negeri. Bahkan di beberapa ma‘had dan zawiyah tarekat, kitab ini kedua terpopuler setelah al-Qur’an. Pengamalan kitab ini biasanya dilakukan setelah mendapat ijazah (izin) dari seorang syaikh atau kiyai yang telah mengamalkannya. Kitab tersebut diamalkan sebagai hizb harian ataupun dikhatamkan setiap hari selama seminggu.

Fenomena kitab Dala’il al-Khayrat hanyalah salah satu dari amalan spiritual yang terdapat di kalangan sufi. Dikarenakan kepopulerannya, sebagian orang merasa khawatir al-Qur’an kurang mendapat perhatian. Bahkan tidak sedikit yang menilainya berlebihan dalam memuji Nabi Saw, sehingga kitab ini pernah dilarang oleh gerakan dakwah Salafī di Saudi. Syaikh Ṣāliḥ Fauzān, misalnya, menggolongkan kitab ini sebagai khurafiyin (yang berisi khurafat). Ia memfatwakan di dalam kitab Ighatsat al-Mustafid bahwa Dala’il al-Khayrat wajib diwaspadai. Ini dikarenakan ia berpendapat bahwa kitab tersebut berisi hal-hal yang syurūr (keburukan), fitan (kekacauan), dan syirkiyat (syirik) yang sangat banyak.

Tidak hanya itu, Syaikh Salih Fauzan juga mengritisi salawat al-Fatih (pembuka) yang menurutnya sangat populer di kalangan pengamal tarekat Tijānīyah. Salawat al-Fatih dinilai oleh ulama Saudi ini sebagai al-umur al-muḥdatsah (perkara baru) atau bid‘ah. Ia berpendapat seperti itu karena beranggapan bahwa salawat al-Fatih sangat berlebihan (ghuluw) dalam memuji Nabi Saw. Selain itu, ia berpendapat bahwa kalimat-kalimat yang digunakan tidak bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah. Akan tetapi, kritik tersebut bukan berarti Syaikh Salih Fauzan tidak suka bersalawat. Ia menganjurkan setiap orang yang gemar bersalawat untuk merujuk kepada Jila’ al-Afham karya Imam Ibn Qayyim al-Jauziyah.

Kritikan Syaikh Salih Fauzan di atas sangat berbeda dengan Syaikh Muḥammad bin ‘Abd al-Wahhab –pendiri gerakan Wahhabiyah-. Ia membenarkan agar mewaspadai Dala’il al-Khayrat, tetapi bukan karena menganggapnya bid‘ah atau redaksi salawatnya yang beragam. Di dalam al-Rasa’il al-Sakhsiyah Syaikh Muḥammad bin ‘Abd al-Wahhāb pernah menasehati pengikutnya agar tidak menjadikan Dala’il al-Khayrat lebih utama dari al-Qur’an, atau beranggapan bahwa pembacaannya lebih afdal daripada Kitabullah. Syaikh Muḥammad bin ‘Abd al-Wahhab juga menolak tuduhan bahwa ia memerintahkan pembakaran kitab Dala’il al-Khayrat atau melarang bersalawat dengan redaksi beragam. Ia menegaskan bahwa itu hanyalah tuduhan tanpa bukti.

Terlepas dari fenomena tersebut, salawat kepada Nabi Saw merupakan amalan disepakati keutamaannya. Perselisihan di antara mereka bukan pada substansi salawat, tetapi mengenai tatacara dan paradigma seseorang dalam menilai kitab salawat.

 

Keutamaan Shalawat

Keagungan shalawat adalah sesempurna sifat Allah yang memerintahkannya, dan semulia Nabi Muhammad yang menjadi objeknya. Ini yang menyebabkan suatu majlis, forum, dan pertemuan menjadi hampa tanpa ada muatan shalawat di dalamnya. Doa tidak diangkat ke langit karena ketiadaannya. Bahkan, salat seseorang tidak sah jika tidak bershalawat kepada Nabi Saw.

Berdasarkan hal tersebut, pada bagian ini akan dikemukakan Hadis-hadis yang menunjukkan keniscayaan bershalawat kepada Nabi Saw dalam kehidupan seorang mukmin.

Pertama, shalawat mengantarkan pengamalnya kepada posisi yang sangat mulia, paling dekat dengan Nabi Saw pada hari Kiamat. Ini sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Mas‘ud bahwa Nabi Saw bersabda: “Orang yang paling utama pada hari Kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat kepada Nabi Saw.” (HR. al-Tirmidzi/484, kualitas hasan).

Berdasarkan Hadis ini, Imam al-Sakhawi mengemukakan di dalam kitab al-Qawl al-Badi bahwa seorang pencinta Nabi Saw semestinya berShalawat sebanyak mungkin. Bahkan, ia mengatakan bahwa minimal seorang pencinta Nabi Saw bershalawat tigaratus kali setiap hari. Jumlah ini masih tergolong sedikit dibandingkan Syaikh ‘Abd al-Ghafur al-Naqsyabandi di Makkah yang bershalawat setiap hari seribu kali.

Kedua, pengamal shalawat mendapat tiga keutamaan, yaitu satu shalawat dan salam dibalas menjadi sepuluh kali, digugurkan sepuluh keburukan, dan diangkat dengan sepuluh derajat. Ini sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi Saw bersabda: “Siapa yang bershalawat kepadaku sekali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim/939). Di dalam riwayat dari Anas bin Malik ditambahkan, “…Digugurkan sepuluh keburukannya, dan diangkat sepuluh derajatnya”. (HR. al-Nasa’i/1297, kualitas sahih).

Dalam periwayatan Thalhah disebutkan bahwa Nabi Saw pernah terlihat sangat berbahagia karena hadis ini. Lalu Nabi Saw mengabarkan bahwa malaikat Jibril datang kepadanya menyampaikan hadis Qudsi. Allah berfirman: “Hai Muḥammad, apakah engkau menjadi rida apabila seseorang dari umatmu bershalawat sekali kepadamu, maka Aku bershalawat kepadanya sepuluh kali. Siapa pun dari umatmu yang mengucapkan salam kepadamu sekali, maka Aku memberikan salam kepadanya sepuluh kali.” (al-Nasā’ī/1283, kualitas ḥasan).

Apabila dengan shalawat, seseorang dapat memperoleh kemuliaan shalawat dan salam dari Allah, maka wajar jika ia menjadi makhluk –terdekat dengan Nabi Saw. Para sahabat di masa Nabi Saw merasa terharu ketika mendapatkan salam dari Allah. Bahkan tidak hanya itu, Ubay bin Ka‘ab tidak tahan berlinang air mata saat Nabi Saw mengabarkan bahwa Allah menyebut namanya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim. Hal yang sama juga terjadi pada ‘Aisyah bint Abu Bakr.

Ketiga, para malaikat bershalawat tujuhpuluh kali kepada orang yang bershalawat kepada Nabi Saw. Ini sesuai dengan hadis mawquf dari ‘Abdullah bin ‘Amru. Ia berkata: “Siapa yang bershalawat kepada Nabi Saw maka para malaikat bershalawat kepadanya tujuh puluh kali”. (HR. Ahmad/6605, 6754). Hadis ini dinilai ḥasan oleh Imam al-Busyairi Ithaf dan Imam al-Haitsami dalam Majma‘ al-Zawa’id. Walaupun hadis ini diriwayatkan secara mawquf dari ‘Abdullah bin ‘Amru, tetapi dinilai marfu‘ (bersumber dari Nabi Saw) karena berkaitan tidak mungkin berasal dari ijtihad sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Suyuti dalam Tadrib al-Rawi.

Keempat, kebakhilan hakiki adalah orang yang tidak bershalawat kepada Nabi Saw. Di dalam Hadis yang diriwayatkan dari ‘Ali bin Abu Thalib bahwa  Nabi Saw bersabda: “Orang yang bakhil adalah orang yang saat aku disebut di sisinya, tetapi ia tidak bershalawat kepadaku”. (HR. al-Tirmidzī/3546, kualitas asan). Kebakhilan dalam konteks ini lebih bersifat spiritual, karena setiap mukmin berhutang jasa kepada Nabi Saw. Di dalam riwayat lain disebutkan, “Celakalah seseorang yang tidak berShalawat ketika namaku disebut di sisinya”. (HR. al-Tirmidzī/3545, kualitas asan).

Kelima, shalawat dan salam merupakan penghubung ruhani seorang mukmin antara Nabi Saw. Ungkapan ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas‘ud bahwa Nabi Saw bersabda: “Allah mempunyai malaikat yang bertebaran (sayyahin) di bumi. Mereka menyampaikan kepadaku salam kalian.” (HR. al-Nasa’i/1282, kualitas sahih).

Hadis ini diperkuat oleh riwayat lain dari Abu Hurairah bahwa Nabi Saw bersabda: “Siapa yang menyampaikan salam kepadaku, niscaya Allah mengembalikan ruhku sehingga aku dapat menjawab salamnya.” (HR. Abu Dawud/2043). Imam Abu Dawud juga menambahkan dalam riwayat lain, “Bershalawatlah kepadaku, karena shalawatmu sampai kepadaku darimana pun kamu berada.” (HR. Abu Dawud /2044).

Hadis-hadis tersebut merupakan dalil terkuat yang dapat mengobati kerinduan para pencinta dan perindu Nabi Saw. Mereka yang menyampaikan rasa cinta dan melepas kerinduan terhadap Nabi Saw dengan bershalawat kepadanya, niscaya dijawab dan dibalas oleh Nabi Saw. Oleh karena itu, wajar jika mereka sering mendapatkan “kunjungan” Nabi Saw melalui mimpi-mimpi indah. Imam-imam ahli hadis dan tasawuf adalah golongan yang paling banyak bershalawat kepada Nabi Saw, sehingga mereka sering mendapatkan kenikmatan mimpi bertemu Nabi Saw. Bagaimana tidak? Setiap kali disebutkan nama-nama Nabi Saw, mereka selalu berShalawat kepadanya.

Di antara mereka ada bermimpi bertemu Nabi Saw, lalu bertanya tentang kualitas hadis-hadis yang diperolehnya. Ini sebagaimana terjadi pada Imam al-Thabrani pengarang al-Mu‘jam. (Ibn Mandah, Tarjamah al-Thabrani,1). Lain halnya dengan Muḥammad bin Ramḥ murid Imam Malik dan al-Tsauri. Ketika bingung dengan perselisihan pendapat kedua gurunya, maka Muhammad bin al-Rumh bermimpi bertemu Nabi Saw yang berpesan agar mengikuti Imam Malik. (Ibn Abu Hatim, al-Jarh wa al-Ta‘dil, 1/28). Kisah-kisah lain juga terjadi pada Imam al-Bukhārī dan murid-muridnya. Ini dapat ditemukan dalam kitab-kitab biografi ulama-ulama Hadis.

 

Cara Bershalawat

Bershalawat dapat dilafalkan dengan dengan banyak redaksi. Ini sebagaimana terdapat dalam Hadis-hadis Nabi Saw saat ditanya mengenai cara bershalawat kepadanya. Lalu Nabi Saw menjawab dengan redaksi yang beragam. Keragaman redaksi tersebut bisa jadi bersumber dari Nabi Saw sendiri, atau riwayat bi al-ma‘ná. Kenyataan tersebut mengindikasikan satu hal yang sangat penting dalam mengamalkan shalawat, yaitu ketentuan redaksi shalawat. Kesahihan Hadis shalawat yang beragam ini menunjukkan bahwa Nabi Saw tidak membatasi cara bershalawat dengan redaksi tertentu. Selain itu, sebagian besar sahabat dan  tābi‘īn tidak mempermasalahkan riwayat bi al-ma‘ná, artinya redaksi shalawat tidak mesti persis dengan redaksi yang bersumber dari Nabi Saw.

Atas dasar pemikiran inilah para ulama selalu menulis dan membaca Shalawat dengan redaksi yang beragam. Imam al-Syafi‘i, misalnya, menulis Shalawat dengan redaksi allahumma shalli ‘alá Muhammad kullama dzakaraka al-dzakirun wa ghafala ‘an dzikrika al-ghafilun. Kalimat ini dianggap sebagai salah satu redaksi shalawat terbaik menurut Imam al-Marwazi, meskipun Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa Imam al-Syafi‘i adalah orang pertama yang mempopulerkannya. Bahkan, lebih dari itu, Imam al-Jazuli mengompilasi hampir semua redaksi Shalawat yang pernah ada sampai abad kesembilan Hijriah dalam kitabnya Dala’il al-Khayrat. Pengijazahan kitab ini masih berlangsung sampai saat ini.

Akan tetapi, pengamalan Shalawat dengan berbagai ragam redaksi tersebut tidaklah memerlukan ijazah dari ulama. Ini dikarenakan perintah shalawat bersifat umum di dalam al-Qur’an. Dalam hal ini, Sayyid Muḥammad al-‘Alawi al-Maliki menegaskan bahwa pengamalan suatu shalawat tidak memerlukan ijazah karena Allah telah memerintahkannya di dalam al-Qur’an secara umum. Walaupun berkata demikian, Sayyid Muḥammad al-‘Alawi tetap memberi ijazah kitab zikir dan shalawat, seperti kitab Syawariq al-Anwar dan Dala’il al-Khayrat. Ini dikarenakan ijazah shalawat sangat bermanfaat untuk memotivasi seorang murid untuk mengamalkannya sebanyak mungkin.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bershalawat merupakan amalan utama yang dapat menghubungkan ruhani seorang mukmin dengan Nabi Saw yang selalu dirindukan. Baik ulama ahli hadis maupun tasawuf sama-sama menjadikan shalawat sebagai amalan utama mereka sebagai jalan menuju keridaan Allah dan melepas kerinduan kepada Rasulullah. Allahum shalli  ‘ala Muhammad wa ali Muhammad.