Amaliyah

Kontrol Diri dari Sifat Amarah

Penulis: Apriyanto Poso · 1 min read

Majalahnabawi.com – Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa setiap manusia pasti memiliki sifat marah. Bahkan orang yang penyabar sekalipun, bisa saja marah karena ada suatu hal yang membuatnya tersinggung atau sejenisnya. Namun siapa sangka, orang yang mampu menahan amarahnya, akan mendapatkan ganjaran yang luar biasa dari Allah Swt. Rasulullah bersabda:

لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

Artinya: “Janganlah marah, dan bagimu surga

Menahan diri agar tidak marah juga dapat membuat kita terhindar dari hal-hal negatif. Seperti, mengucapkan kata-kata kotor (makian), menghancurkan benda-benda di sekitar, dan hal-hal negatif lainnya. Rasulullah sudah mengajarkan bahwa ketika marah, sebaiknya diam dan jangan berkata apa-apa. Khawatir akan menimbulkan perkara baru.

Orang yang kuat adalah orang yang mampu melawan dan mengekang hawa nafsunya ketika marah. Rasulullah ﷺ mengajarkan apabila seseorang marah hendaklah ia diam. Beliau bersabda:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

Artinya: “Apabila seorang dari kalian marah, maka hendaklah ia diam

Namun hal ini kadang dianggap sepele, tidak heran bila banyak ditemukan kasus pembunuhan dan kasus kekerasan lainnya. Itu semua disebabkan karena tidak mampu menahan gejolak amarah yang ada di dalam hati. 

Dalam kitab hadits al-Arba’in al-Nawawiyyah, ada sebuah hadis riwayat Abu Hurairah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِيْ. قَالَ: لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ: لَا تَغْضَبْ. (رَوَاهُ البُخَارِيُّ)

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. al-Bukhari, no. 6116)

Jangan Mudah Baperan!

Hadis di atas sangat jelas mengatakan bahwa, “janganlah engkau marah”. Bila kalimat ini kita tarik ke zaman modern seperti saat ini, maka kontekstualnya adalah “janganlah gampang marah” atau biasa disebut dalam bahasa gaul zaman sekarang dengan istilah baper/ baperan. Setiap orang memang memiliki sifat dan karakter serta pola pikir yang berbeda beda. Ada yang pemarah, ada yang pendiam, ada yang sabar dan lain-lain. 

Namun berangkat dari hadis di atas, tentunya kita dapat mengambil beberapa poin penting. salah satunya adalah, mampu menahan diri dari amarah dapat membuat kita berpikir lebih luas terkait tindakan yang akan kita lakukan setelah amarah itu redah. Terhindar dari hal-hal negatif juga bagian dari manfaat menahan amarah. Contoh: mulut kita terhindar dari kata-kata kasar, tidak merusak benda di sekitar.

Jika makna dari hadis di atas diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka insya Allah akan tercipta kehidupan yang aman dan tentram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.