‹ Kembali ke Beranda
Adab

Menanam di Bulan Rajab, Menyiram di Sya’ban, Memanen di Ramadan

Oleh Muhammad Ulin Nuha·4 Februari 2026·90
Menanam di Bulan Rajab, Menyiram di Sya’ban, Memanen di Ramadan

Majalahnabawi.com – Banyak dari kita yang menganggap Ramadan adalah garis start untuk beribadah maksimal. Padahal, bagi para ulama, Ramadhan justru merupakan garis finish atau masa panen. Jika ingin memanen pahala dan perubahan sifat yang yang hakiki, mulailah prosesnya jauh hari sebelum hilal Ramadan tampak.

Banyak dari kita seringkali baru tersentak dan sibuk beribadah tepat saat tanggal 1 Ramadan tiba. Akibatnya, di minggu pertama kita merasa kaget, fisik cepat lelah, dan fokus mudah terpecah. Sebab Ramadan bukanlah sebuah tanjakan curam yang harus kita daki secara mendadak, melainkan sebuah puncak indah dari perjalanan panjang yang telah kita tempuh selangkah demi selangkah.

Dalam kita Lathaif Al-ma’arif karya Ibn Rajab Al-hanbali (w.795), beliau menukil perkataan syeikh Abu Bakar Al-warraq Al-balkhi yang memberikan sebuah perumpamaan yang sangat indah mengenai manajemen waktu menuju bulan suci:

شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سَقْيِ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ

“Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan menyiram tanaman, dan bulan Ramadan adalah bulan memanen tanaman.”

Fase Menanam: Memperbaiki Niat dan Taubat

Menanam menjadi pekerjaan paling berat karena kita harus menggali tanah dan membasmi hama. Begitu pula pada bulan-bulan awal menuju Ramadan. Kita perlu membersihkan diri dari maksiat. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt. mengenai bulan-bulan haram (termasuk Rajab):

            اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ 

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa” (QS. At-taubah : 36)

Dalam tafsir Ibn Abi Hatim (w.327) maksud dari kata Dzulm pada ayat tersebut adalah perbuatan maksiat dan meningalkan ketaatan kepada Allah Swt., oleh karena itu menghindari zalim kepada diri sendiri (maksiat) adalah cara terbaik menanam benih iman yang bersih.

Fase Menyiram: Menyiram dengan Istiqomah

Setelah menanam benih, kita perlu menyiraminya agar tidak mati. Pada bulan Sya’ban, kita perlu meningkatkan intensitas ibadah. Dalam hadis riwayat Imam an-Nasa’i, Rasulullah Saw. mencontohkan hal ini dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban. Beliau bersabda:

عن أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

“Dari Usamah bin Zaid, ia berkata: Aku bertanya: wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa di bulan-bulan lain sebanyak engkau berpuasa di bulan Sya’ban. Beliau bersabda: Itulah bulan yang sering dilalaikan manusia, yaitu bulan diantara Rajab dan Ramadan. Ia adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Allah Swt, maka aku ingin amalku diangkat saat aku sedang berpuasa” (HR. Bukhori)

Fase Memanen: Menikmati Manisnya Ibadah

Jika kita melakukan penanaman dan penyiraman dengan benar, maka Ramadan tidak lagi terasa berat. Shalat tarawih tidak lagi terasa lama, dan lapar dahaga tidak lagi terasa menyiksa. Kita tinggal memanen kelezatan munajat kepada Allah. Ramadan bukan lagi masa untuk memulai beribadah, melainkan masa untuk menikmati kedekatan dengan Allah Swt.

Imam Al-bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya sebuah sabda Rasulullah, beliau bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَن صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah Swt), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhori)

Pada akhirnya, Ramadan bukan tentang seberapa hebat kita memulai, tapi tentang seberapa tulus kita bersiap. Jangan biarkan lahan hatimu kering di bulan Rajab dan gersang di bulan Sya’ban, lalu berharap panen saat Ramadan tiba. Sebab, setiap tetes keringat ibadah yang kita tanam hari ini, adalah jaminan kelezatan iman yang akan kita petik esok hari. Mari menanam hari ini, agar tak menyesal di hari kemudian.

Bagikan: