Connect with us
Klik di sini

Meneladani Kesederhanaan Rasulullah SAW

sumber gambar: islamindonesia.id

Tafsir

Meneladani Kesederhanaan Rasulullah SAW

Allah Swt berfirman:

۞ وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۚ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya:

Dan Dia-lah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (Q.S. Al-An’am: 141)

 

Prilaku berlebih-lebihan adalah manifestasi dari sifat tamak dan merasa terus-terusan kurang dalam menumpuk harta duniawi. Orang yang tamak biasanya ketika dikaruniai oleh Allah Swt kendaraan berupa sepeda motor misalnya, maka ia akan menginginkan mobil. Ketika ia telah mendapatkan mobil, maka ia pun akan menginginkan mobil terbaru yang lebih mewah lagi. Demikian seterusnya keinginannya menjadi liar, bagaikan ia telah meminum air laut, akan tetapi selalu dahaga terus. Apapun akan dilakukannya demi memenuhi hasratnya. Tentu yang demikian itu dengan berbagai modus kebakhilan, dan terus-terusan bakhil. Hal itu dilakukan agar hartanya makin menumpuk, terlihat berlebih dan sukses di hadapan masyarakat, yang kemudian berharap mendapatkan pujian.

Tanpa disadari, prilaku di atas sering kali menjerumuskan manusia pada prilaku yang bertentangan dengan syariat Islam dan undang-undang Negara. Ketika manusia selalu merasa tidak puas dan kurang bersyukur, maka ia akan selalu cenderung seperti binatang buas yang kelaparan. Kemudian, tanpa hati nurani ia menghalalkan segala cara, menabrak etika susila dan berani mengkhianati aturan Negaranya, serta melakukan bentuk-bentuk kejahatan lainnya.

Solusi bagi penyakit semacam ini adalah menerapkan perilaku hidup sederhana dengan asas qanaah dan syukur. Qanaah adalah rasa kecukupan pada dirinya dengan apa yang dikaruniakan Allah Swt kepadanya. Sedangkan Syukur adalah rasa ikhlas hati dalam berterimakasih kepada Allah Swt, serta mendayagunakan yang dikaruniakan-Nya sebagai perantara untuk beribadah kepada-Nya. Konkritnya, hidup sederhana adalah hidup tidak berlebih-lebihan, tidak bersikap mempertontonkan kemewahan kepada orang lain. Hidup sederhana juga berarti senantiasa berlaku adil, yakni: menempatkan sesuatu pada tempatnya, menggunakan harta yang dimiliki untuk kemaslahatan umat, dan senantiasa berzakat serta bersedekah.

Pada zaman sekarang kesederhanaan menjadi mahluk yang langka, khususnya di tengah-tengah perkotaan yang heterogen dan sangat materialistik. Bagi manusia kota yang materialistik, kesederhanaan identik dengan hidup susah, menderita, bodoh dan kampungan. Inilah anggapan yang keliru dan jauh dari apa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Menurut sejarah, sebelum menjadi Nabi, Muhammad Saw adalah pemuda yang sukses dalam berniaga. Ketika menikahi Khadijah, Muhammad Saw memberikannya mahar duapuluh ekor unta dan 12 uqiyah emas. Jumlah yang sangat fantastik banyaknya bila dikonversi dengan uang pada masa itu ataupun pada masa sekarang. Setelah menikah, kekayaan Muhammad Saw makin bertambah  karena kekayaan yang dimilikinya dikembangkan melalui perniagaan bersama dengan harta Khadijah. Kemudian, setelah diangkat sebagai Nabi dan Rasul oleh Allah Swt, Muhammad Saw menggunakan hartanya tersebut untuk berdakwah dan menyantuni fakir-miskin, yatim-piatu dan janda-janda korban perang.

Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi (w. 279 H) dalam kitab Sunannya, Rasulullah Saw bersabda:

عَرَضَ عَلَيَّ رَبِّي لِيَجْعَلَ لِي بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَبًا، قُلْتُ: لَا يَا رَبِّ وَلَكِنْ أَشْبَعُ يَوْمًا وَأَجُوعُ يَوْمًا – أَوْ قَالَ ثَلَاثًا أَوْ نَحْوَ هَذَا – فَإِذَا جُعْتُ تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ، وَإِذَا شَبِعْتُ شَكَرْتُكَ وَحَمِدْتُك

Artinya:

Tuhanku telah menawarkan kepadaku untuk mengubah gunung Batha’ di Makkah menjadi emas. Aku berkata: Tidak, wahai Tuhanku. Akantetapi aku (lebih suka) sehari kenyang, dan lapar pada hari berikutnya. (Nabi Saw mengucapkan ini tiga kali atau ungkapan semacamnya). Sebab, apabila aku lapar, maka aku bersimpuh kepada-Mu dan mengingat-Mu, dan apabila aku kenyang, maka aku bersyukur kepada-Mu lalu memuja-muji-Mu.

 

Walaupun potensi memiliki kuasa dan harta yang berlimpah, Rasulullah Saw memilih untuk berprilaku hidup sederhana. Hidup sederhana adalah pilihan, bukan kepasrahaan karena memang itu nasibnya. Untuk memilih pola hidup sederhana di tengah potensi-potensi kekayaan, seseorang membutuhkan kesucian jiwa, keluasan pola fikir tentang duniawi dan rasa empati yang berlebih terhadap sesama. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw agar ditauladani oleh umatnya.

Dalam sebuah riwayat yang diceritakan oleh Imam Bukhari (w. 256 H) dalam kitab Shahihnya, yang maknanya: Suatu ketika tersiar kabar bahwa Nabi Saw telah menceraikan istri-istrinya. Mendengar kabar tersebut, Umar bergegas menemui putrinya Hafshah yang merupakan salah satu dari istri Nabi Saw. Umar mendapati putrinya tersebut sedang menangis di dalam kamarnya. Lalu, Umar bertanya; mengapa kamu menangis? Bukankah selama ini aku selalu mewanti-wantimu agar jangan melakukan sesuatu yang dapat menyinggung perasaan Nabi Saw? Apakah Nabi Saw telah menceraikanmu? Hafshah menjawab; saya tidak tahu, Nabi Saw hanya memisahkan diri saja saat makan-minum.

Kemudian Umar keluar dan menuju Masjid, terlihat olehnya beberapa sahabat sedang menangis dekat mimbar. Lalu, Umar duduk bersama para sahabat beberapa saat, kemudian berjalan ke arah kamar Nabi Saw. Ketika Umar masuk, ia menjumpai Nabi Saw berbaring di atas sehelai tikar yang terbuat dari pelepah kurma, tidak ada seprai yang menyelimutinya, sehingga di badan Nabi Saw yang putih bersih itu terlihat jelas bekas-bekas pelepah kurma itu. Di tempat kepala Nabi Saw ada sebuah bantal yang dibuat dari kulit binatang yang dilapisi oleh daun dan kulit pohon kurma.

Umar bercerita, “aku mengucapkan salam kepada beliau, lalu bertanya; “apakah engkau telah menceraikan istri-istrimu? Nabi Saw menjawab; “Tidak.” Aku merasa lega. Sambil bercanda aku mengatakan, “Ya Rasulallah, kita adalah kaum quraisy yang selamanya telah menguasai wanita-wanita kita. Tetapi setelah kita hijrah ke Madinah, keadaannya sungguh berbeda dengan orang Anshar, mereka dikuasai wanita-wanita mereka, sehingga wanita kita terpengaruh dengan kebiasaan mereka.” Rasulullah menanggapi perkataanku dengan senyuman saja.

Kemudian, aku memperhatikan keadaan kamar Nabi Saw, terlihat tiga lembar kulit binatang yang telah disamak dan sedikit gandum di sudut kamar itu. Selain itu tidak terdapat apapun. Akupun menangis melihat kondisi itu. Rasulullah bertanya, mengapa engkau menangis? Aku menjawab, bagaimana aku tidak menangis yaa Rasulallah. Aku sedang melihat bekas tanda tikar yang engkau tiduri di badan engkau yang mulia, dan aku prihatin melihat keadaan kamar ini. Ya Rasulallah berdoalah semoga Allah mengkaruniakan kepada engkau bekal duniawi yang lebih banyak. Orang-orang Persia dan Ramawi yang tidak beragama dan tidak menyembah Allah, tetapi raja mereka hidup mewah. Mereka hidup di taman yang ditengahnya mengalir sungai, sedangkan engkau adalah utusan Allah, tetapi engkau hidup dalam keadaan miskin.”

Ketika aku berkata demikian, Rasulullah sedang bersandar di bantalnya, beliau bangun lalu berkata, “Wahai Umar, sepertinya engkau masih ragu mengenai hal ini. Dengarlah, kenikmatan di akhirat nanti akan jauh lebih baik daripada kesenangan hidup dan kemewahan dunia ini. Jika orang-orang kafir dapat hidup mewah di dunia ini, kita pun memperoleh segalanya itu di akhirat nanti. Di sana kita akan mendapatkan segala-galanya.”   Mendengar jawaban Nabi Saw tersebut, akupun menyesal, lalu berkata ya Rasulallah mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk aku. Aku telah keliru dalam hal ini.

Dengan demikian, pola hidup sederhana adalah ajaran Nabi Saw yang merupakan pengejawantahan rasa qanaah dan syukur. Ini adalah solusi bagi penyakit tamak, berlebih-lebihan dan kebakhilan. Dengan kesederhanaan, hidup di dunia makin bermakna dan terberkahi. Sebab, hidup di dunia hanyalah sementara, amal shaleh terhadap sesama dan kebhaktian kepada Allah Swt adalah kekal dan selalu menemani pelakunya. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Artikel ini pernah dimuat di majalah Nabawi edisi 108

Related Post

Continue Reading
Klik di sini
Dr. H. Mohamad Shofin Sugito, Lc, M.A

Dosen Darus Sunnah International Institute for Hadith Sciences

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Tafsir

Klik di sini
Klik di sini

Sering Dibaca

Topik

Arsip

To Top