Connect with us
Klik di sini

Mengapa Kita Harus Belajar?

Kolom

Mengapa Kita Harus Belajar?

Belajar tidak mengenal batas usia, waktu, dan tempat. Kapanpun, di manapun, dan sampai kapanpun, belajar tidak boleh mati dan berhenti. Tuntutlah ilmu dari awal kau dilahirkan hingga dikuburkan (uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi). Begitu petuah agung itu mengingatkan.

Adam, bapak umat manusia yang mengukuhkan namanya di atas malaikat dan iblis tidak lain telah melewati proses pembelajaran tentang nama-nama (wa ‘allama adamal asma’a). Tidak ada satupun di alam semesta ini yang tidak punya nama. Semua punya nama atau sebutan. Artinya, Adam juga seorang santri, yang terpelajar dan terus belajar. Dulu, Adam hanya belajar nama tapi sekarang anak Adam belajar ilmu.

Memang ada istilah anonim, sesuatu yang tidak bernama atau tanpa identitas. Tetapi ini hanya istilah saja, hakikatnya anonim tetap sebuah nama meski berarti ‘tanpa nama’. Tidak ada seorangpun yang tidak butuh nama dan identitas. Karena itulah manusia harus belajar dan terpelajar. Belajar adalah harga mati, mutlak harus dilakukan agar menjadi terpelajar.

Penting kita renungkan satu riwayat yang menyatakan, “Jadilah kamu orang yang berilmu, orang yang belajar, orang yang mendengarkan ilmu, atau yang mencintai ilmu. Jangan kamu menjadi orang yang kelima (tidak berilmu, tidak belajar), kelak kamu akan celaka.” Riwayat ini memang lemah (dhaif), tetapi boleh diamalkan untuk memompa dan motivasi spirit belajar.

Untuk itu, jadilah manusia terpelajar yang tidak pernah berhenti belajar. Orang terpelajar, yang amanah terhadap ilmunya, ia bisa meniru jejak moyangnya Adam. Manusia terpelajar bisa menjadi ternama di hadapan Tuhan dan ciptaan-Nya jika mengikuti jejak nabinya: Muhammad dan moyangnya: Adam. Pelajar atau santri itu mulia dan dihormati. Saking mulianya, malaikat sampai membentangkan sayapnya bagi pencari ilmu atau santri (thalibul ‘ilmi). Begitu Rasulullah Saw menyatakan dalam sabdanya.

Belajar adalah suatu keharusan, tidak boleh ditinggalkan. Rasulullah Saw memerintahkan, belajar atau mencari ilmu wajib bagi setiap muslim, laki-laki maupun perempuan tanpa terkecuali (thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin). Satu kata, simpel namun tidak mudah dilakukakan kecuali ada tekad dan kemauan. Untuk itu, Allah SWT berfirman seraya menyindir, apakah sama antara orang yang tahu dan tidak tahu? (QS. Al-Zumar: 9). Pertanyaan lanjutannya, apakah sama antara orang yang berilmu dan orang yang bodoh? Apakah sama antara orang yang belajar dan tidak belajar? Jawabannya tentu saja berbeda.

Dari ayat itu, Allah SWT telah menunjukkan bahwa media utama untuk menggapai impian dan cita-cita adalah belajar. Karenanya, dalam kalamnya yang lain Allah SWT kembali bertanya, apakah sama antara orang yang buta dan melihat?. Sindiran Allah SWT ini sangat penting karena menyimpan makna tersirat, yaitu pesan di mana kita harus melek dan tidak gaptek. Kita harus mengetahui informasi agar tidak dibodohi. Karena itu, manusia harus belajar, tahu, dan berilmu.

Oleh karena itu, Allah SWT berjanji akan mengangkat derajat orang belajar (berilmu) itu. Dalam al-Qur’an disebutkan, bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. (QS. al-Mujadalah : 11). Karenanya pertanyaan apakah sama antara orang yang tahu dan tidak tahu? Apakah sama antara orang buta dan melihat? Adalah menegaskan bahwa antara manusia terpelajar dan tidak terpelajar berbeda, baik harkat maupun martabatnya.

Imam al-Syafi’i berkata, orang yang ingin sukses di dunia, ia bisa menggapainya dengan ilmu. Orang yang ingin sukses di akhirat, ia bisa meraihnya dengan ilmu. Dan orang yang menginginkan keduanya, ia bisa memperolehnya dengan ilmu (man aradad dunya, fa ‘alaihi bil ‘ilmi. Wa man aradal akhirata, fa ‘alaihi bi ‘ilmi. Wa man aradahuma, fa ‘alaihi bil ‘ilmi). Mafhum muwafaqahnya (pemahaman terbaliknya), orang yang bodoh atau tidak terpelajar tidak akan bisa menggapai impian atau cita-cita dunia dan akhiratnya. Karenanya, Allah SWT dalam firmannya bertanya seraya menyindir, apakah sama antara orang yang tahu dan tidak tahu? Apakah sama antara orang buta dan melihat?

Namun perlu diingat, bahwa jaminan itu tidak akan diperoleh jika seseorang tidak mau belajar atau berhenti belajar. Ayahanda KH. Ali Mustafa Yaqub selalu berpesan dan mengingatkan santri-santrinya, “Kita adalah pelajar (santri) sampai hari kiamat (nahnu thalibul ilmi ila yaumil qiyamah).” Artinya, meraih sukses dunia dan akhirat tiada lain caranya kecuali dengan belajar hingga tahu dan berilmu. Tetapi, dengan syarat jangan sampai ia berhenti belajar. Belajar, belajar, dan jangan sampai berhenti belajar.

Maka di bulan suci Ramadhan ini, mari kita tingkatkan intensitas belajar itu.Waallahu A’lam.

 

Continue Reading
Klik di sini
Muhammad Ali Wafa, Lc., S.S.I

Dosen di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Kolom

Klik di sini
Klik di sini

Sering Dibaca

Topik

Arsip

To Top