Sejarah

Mengapa Posisi Pintu Ka’bah Ditinggikan?

majalahnabawi.com – Ka’bah, bangunan suci berbentuk kubus ini menjadi kiblat bagi umat Islam di dunia. Menjadi sebuah impian besar bagi kaum muslimin, untuk bertatap langsung dengan Baitullah tersebut. Mata dan hati akan ditentramkan dengan keindahan rupanya. Akan tetapi, jika dilihat dengan seksama, kita akan melihat sebuah kejanggalan. Iya, posisi pintu Ka’bah nampak tinggi dari permukaan dasar.

Jika kita melihat suasana tawaf, posisi pintu Ka’bah lebih tinggi daripada rata-rata tinggi orang dewasa. Jika ingin memasuki Ka’bah, maka diperlukan sebuah tangga sebagai alat bantu. Ternyata, posisi pintu Ka’bah yang tinggi ini, telah ada sejak zaman dahulu. Lalu, apa alasannya?. Bukankah desain tersebut menyulitkan sesorang untuk masuk?. Untuk mengetahui latar belakangnya, perlu bagi kita kembali ke ratusan tahun yang lalu, yaitu di saat Nabi Muhammad Saw sebelum diangkat menjadi seorang Rasul.

Sesuatu di dalam Ka’bah Pernah Dicuri

Sebagai bangunan suci peninggalan Nabi Ibrahim As., Ka’bah pernah mengalami pemugaran, ketika Nabi Muhammad Saw berumur 35 tahun. Perbaikan ini meliputi peninggian posisi pintu Baitullah. Alasannya, seorang pencuri pernah masuk menerobos ke Ka’bah sebelumnya. Syekh Muhammad bin Muhammad al-Ya’mura menceritakan dalam kitabnya ‘Uyūn al-Atsar fī Funūn al-Maghāzī wa al-Syamāil wa al-Assiyar, bahwa dahulu ada seorang pencuri bernama Mulaih. Tidak tanggung-tanggung, target barang curiannya adalah wewangian Ka’bah. Akhirnya, penggarongan itu berhasil dilakukan olehnya.

Dengan riwayat yang berbeda, Syekh Shafiurrahman al-Mubarakfuri dalam kitabnya al-Raḥīq al-Makhtūm, juga menceritakan kisah pembobolan Ka’bah. Pencurian ini dilakukan oleh nafr (Sekelompok orang yang jumlahnya tidak lebih dari 10). Mereka berhasil mengambil sesuatu yang disimpan di dalam Ka’bah.

Belajar dari pengalaman tersebut, kaum Quraisy ingin meningkatkan keamanan Ka’bah. Akhirnya, keinginan tersebut dapat direalisasikan pada momen pemugaran bangunan suci ini, dengan cara meninggikan pintunya dan mengokohkan bangunannya. Sehingga, hanya orang-orang yang diizinkan sajalah yang boleh memasuki Ka’bah, dengan bantuan tangga. Posisi pintu yang tinggi tersebut masih bertahan hingga sekarang.

Baca Juga:   Abu al'Arab at-Tamimi al-Qairawani, Pendekar Hadis Tunisia

Perlu juga diingatkan, perbaikan Ka’bah tidak hanya dilatar belakangi kejadian pencurian, akan tetapi juga dikarenakan kondisinya yang sudah rapuh. Awalnya, bangunan ini hanyalah sebuah radīmah (bangunan yang terdiri dari susunan batu-batuan yang bertumpang tindih, tanpa campuran tanah). Kemudian keadaan ini diperparah dengan banjir yang melanda bangunan suci. Oleh karenanya, kaum Quraisy melakukan pemugaran Ka’bah, sehingga bangunan itu menjadi lebih kokoh dan tangguh dari sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.