Modal Viral Jadi Ustaz: Benarkah Dakwah Semudah Itu?

Majalahnabawi.com-Dahulu, gelar “ustaz” atau “kiai” adalah maqam hasil dari belasan bahkan puluhan tahun bergulat dengan kitab kuning di pondok pesantren. Gelar itu juga diperoleh melalui proses menimba ilmu di Timur Tengah. Namun di era algoritma, otoritas keagamaan tampak bisa diraih hanya dengan ring lighht, mikrofon nirkabel, dan kemampuan merangkai kata dalam 60 detik, yang biasa kita kenal dengan konten Islami. Ketika sebuah video singkat bisa tembus ribuan bahkan sampai jutaan viewers, seseorang bisa mendadak naik mimbar digital. Hal ini terjadi tanpa adanya kejelasan sanad keilmuannya. Fenomena ini memunculkan berbagai kontroversial dan melahirkan pertanyaan besar, apakah dakwah semudah menekan tombol upload ?
Pergeseran Otoritas Beresensi Popularitas
Saat ini, masyarakat sering kali tidak lagi menilai kredibilitas seorang pendakwah dari lamanya ia mendekam dalam perpustakaan. Mereka juga tidak menilai dari seberapa lama dia menguasai ilmu di bidang ushul fiqh dan sebagainya. Masyarakat modern cenderung menempuh jalan pintas intelektual. Jika jumlah pengikutnya (followers) mencapai jutaan dan videonya mencapai ribuan bahkan ratusan ribu likes. Hal ini menjadikan apapun yang konten kreator sampaikan menjadi kebenaran mutlak. Masyarakat lebih cenderung memvalidasi da’i dengan basis angka pada followers.
Algoritma media sosial memiliki tujuan untuk memprioritaskan keterlibatan (engagement). Artinya, konten yang kontroversial, emosional, atau sekedar lucu akan lebih sering muncul di beranda daripad penjelasan hukum dengan penjelasan yang mendalam. Maka pada akibatnya, da’i yang pandai memainkan perasaan dan emosi penonton akan lebih mudah “naik panggung” daripada ulama yang menyampaikan kebenaran dengan tenang namun terbilang rumit bagi penonton. Hal ini menjadi terkesan membosankan.
Internet memberi ruang bagi siapa saja yang ingin berdakwah (demokratisasi). Namun, internet pun menghilangkan filter kualitas terhadap apa yang telah tersampaikan oleh sang konten kreator. Siapapun yang memiliki ponsel pintar dan percaya diri dapat dengan mudah memberikan fatwa tanpa validasi ulama.
Larangan Berbicara Tanpa Dasar Ilmu
Dalam al-Qur’an surah al-Isra’ Ayat 36 Allah Swt. berfirman :
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَـٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”
Ayat ini mengingatkan bahwa dakwah bukan sekedar soal viewers atau engagement tetapi juga tanggung jawab di akhirat atas setiap ucapan.
Rasulullah Saw. memprediksi tentang masa depan di mana otoritas ilmu agama akan bergeser pada orang orang yang tidak berkompeten dalam suatu bidang. Ini terlihat pada Sabda beliau yang berbunyi :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ” إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا ” قَالَ الْفِرَبْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبَّاسٌ قَالَ حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ هِشَامٍ نَحْوَهُ
“Abdullah bin Amr bin Al-Ash, dia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus dari para hamba(-Nya), akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga ketika sudah tidak tersisa orang yang berilmu, maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.” Al-Fibrari berkata, “Abbas telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Qutaibah telah menceritakan kepada kami, dia berkata, Jarir telah menceritakan kepada kami, dari Hisyam seperti ini juga.”
Fenomena masyarakat yang mengangkat “ustaz” hanya berdasarkan popularitas digital tanpa melihat sanad keilmuan adalah bentuk nyata dari kekhawatiran Rasulullah Saw. dalam hadis ini.
Uswah (keteladanan) Nabi Saw
Mengutip daripada buku karya KH. Ali Mustafa Yaqub yang berjudul Sejarah & Metode Dakwah Nabi beliau menyampaikan sebuah teori bahwasannya manusia akan lebih cenderung mencontoh seseorang yang dia anggap idola, daripada menerapkan ajaran yang termaktub dalam buku. Kesimpulanya bahwa sebenarnya masyarakat sudah dapat berubah dengan sebuah keteladanan saja, sementara masyarakat tidak dapat berubah dengan sebuah buku tanpa adanya keteladanan. Hal ini juga membuktikan bahwa kitab suci saja tanpa adanya sosok manusia yang memberikan contoh dan teladan tidak dapat mengubah perilaku masyarakat. Dan oleh karena itu, peran uswah atau teladan sangatlah dominan dalam menentukan keberhasilan suatu dakwah. Dan inilah salah satu kunci keberhasilan dakwah Nabi Saw.
Menjaga Marwah Mimbar di Era Digital
Pada akhirnya, kita tidak bisa membendung arus digitalisasi dakwah di era modern ini. Viralitas adalah alat, tapi kedalaman ilmu adalah syarat tentu. Kemudahan ini adalah peluang besar untuk syiar dan menyebarluaskan ajaran agama Islam. Namun, semangat berdakwah harus dengan kerendahan hati untuk terus belajar (Muthala’ah), bukan merasa cukup hanya karena sudah punya banyak followers.