Connect with us
Klik di sini

Nusaibah: Srikandi Uhud Jago Pedang

Riwayat

Nusaibah: Srikandi Uhud Jago Pedang

 

Aroma pertempuran antara kaum muslimin dan kaum musyrikin rasanya tak kunjung padam. Peperangan tak kunjung usai, hinaan dan siksaan terhadap kaum muslimin datang bertubi-tubi. Salah satu peperangan terbesar yang terjadi pada sejarah Islam yakni Perang Uhud, yang terjadi pada bulan Syawal tahun ke-3 Hijriah.

Perang Uhud merupakan perang balas dendam yang dilancarkan oleh kaum musyrikin terhadap kaum muslimin karena kekalahan mereka dalam perang Badar. Pasukan Muslimin yang berjumlah 700 orang dipimpin langsung oleh Baginda Nabi Muhammad Saw, melawan pasukan musyrikin yang berjumlah 3000 orang dibawah pimpinan oleh Abu Sufyan.

Dahsyatnya perang Uhud tersebut tak secuil pun menyulutkan gelora api semangat para mujahid tuk berjuang di medan perang meski jumlah yang terpaut jauh. Para mujahid berjuang dengan gigih, tak gentar, dan mereka rela mengorbankan jiwa raga mereka demi menegakkan panji-panji Islam.

Para lelaki biasanya sudah mempersiapkan diri mereka untuk berperang agar menjadi seorang mujahid yang tangguh, sedangkan para perempuan akan membantu mengurus urusan logistik, mempersiapkan peralatan perang, dan juga kebutuhan perang, serta mengobati para pasukan yang terluka.

Di tengah sengitnya perang Uhud tersebut tak hanya mujahid saja yang gigih berjuang melawan musuh-musuh islam. Tampak ditengah-tengah pasukan, seorang pejuang wanita yang dengan tangkas dan gagah beraninya menghalau serangan setiap lawannya.

Layaknya tak gentar dengan serangan pedang dan panah yang mungkin saja bisa mengenai dan melukainya sewaktu-waktu. Ia tampil sebagai seorang mujahidah yang tidak hanya ikut serta membantu mengurus keperluan logistik saja. Namun, ia ikut terjun langsung di area peperangan, memainkan pedang menangkis para lawan. Dialah Nusaibah binti Ka’ab al-Anshariyah, srikandi Uhud si jago pedang.

 

Nusaibah bin Ka’ab al-Anshariyah atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ummu ‘Umarah adalah salah satu dari dua orang perempuan yang bergabung dengan 70 orang lelaki Anshar yang berbai’at kepada Rasulullah Saw. Dalam bai’at Aqabah yang kedua itu, ia ditemani oleh suaminya, Zaid bin ‘Ashim dan juga dua putranya yaitu Hubaib dan Abdullah menyatakan sumpah setia dihadapan Rasulullah Saw. Pada saat bai’at tersebut Rasulullah Saw menasehati mereka, “Janganlah kalian mengalirkan darah kalian dengan sia-sia”.

Nusaibah sendiri adalah seorang pahlawan wanita Islam yang rela mempertaruhkan jiwa raganya demi tegak dan jayanya agama Islam. Tercatat bahwa Ia kerap ikut dalam beberapa peperangan seperti perang Yamamah yang dipimpin oleh Khalid bin Walid dimana pada saat perang tersebut terpotonglah tangannya. Ia juga ikut serta bersama Rasullullah dalam menunaikan Bai’at al-Ridwan yaitu janji setia untuk sanggup mati syahid di jalan Allah Swt.

Layaknya wanita yang lain, bersama-sama dengan para wanita ia ikut mengemban tugas penting dalam bidang kemanusiaan. Mengurus logistik, memasok air dan juga mengobati pasukan yang terluka. Sejatinya, sungguh bukan hal yang biasa bagi seorang wanita ikut berpartisipasi di medan perang. Namun, mereka memiliki peran penting dalam mengerahkan pasukan, memacu semangat mereka dengan senandung jihad, mengobati dahaga para prajurit, dan mengobati luka-luka yang menimpa mereka.


Berjuang di Medan Uhud

Dalam perang Uhud, Nusaibah membawa tempat air dan ikut bersama suaminya beserta kedua anaknya ke medan perang. Saat itu Ia menyaksikan sendiri betapa pasukan muslimin mulai kocar-kacir dan musuh maju menyerang sementara Rasullullah Saw berdiri tanpa perisai. Seorang tentara muslim berlari mundur sambil membawa perisainya.

Lalu Rasulullah Saw berseru kepadanya, “Berikanlah perisaimu itu kepada yang berperang”, sontak tentara itu melemparkan perisainya yang lalu dipungut oleh Nusaibah. Ia menjadi seorang shahabiyah yang disegani oleh para sahabat karena keberanian dan superiotasnya dalam melindungi dan membela Rasulullah Saw dalam perang Uhud.

Nusaibah sendiri menuturkan pengalamannya pada perang Uhud, “Aku pergi ke Uhud dan melihat apa yang dilakukan orang-orang. Saat itu aku tengah membawa tempat air. Dan aku sampai kepada Rasulullah Saw yang tengah berada ditengah-tengah sahabat.

Ketika pasukan muslimin mulai kocar-kacir dan kalah, aku segera maju ke medan peperangan untuk melindungi Rasulullah Saw  dengan pedang dan juga panah yang aku lancarkan kepada tentara musuh hingga akhirnya akupun terluka”.

Ketika ia ditanya perihal 12 luka ditubuhnya, ia menjawab, “Ketika Ibnu Qumaimah datang untuk menyerang Rasulullah Saw, para sahabat telah pergi meninggalkan beliau. Lalu Ibnu Qumaimah berkata, “Mana Muhammad? Aku tak akan selamat selama dia masih hidup. Beritahu aku dimana dia!!!”. Segera aku, Mushab bin Umair dengan beberapa sahabat yang lain menghadapinya, lalu Ia menyerangku dengan memukulkan pedangnya kepadaku”.

Seketika darah bercucuran. Luka-luka memenuhi tubuh Nusaibah. Ketika Rasulullah Saw melihat luka yang menderanya, beliau berseru kepada anaknya, “Ibumu, ibumu….. balutlah lukanya!! Ya Allah, jadikanlah mereka sahabatku di surga”. Mendengar itu, Nusaibah berkata kepada anaknya, “Aku tidak peduli lagi dengan apa yang menimpaku di dunia ini”. Darah mengucur deras dari tubuh Nusaibah.

Sedangkan Ibnu Qumaimah berhasil meloloskan diri. Luka yang di derita Ibu Hubaib bin Zaid ini sangatlah serius. Kendati demikian, itu semua tidaklah menyurutkan dan menggentarkan semangat juangnya. Ia tetap maju menyerang tentara musuh.

Rasulullah tahu persis bagaimana keberanian dan semangat juang Ummu Umarah ini. Semangatnya tak pernah padam. Dalam perang Uhud Rasulullah menyaksikan sendiri bagaimana kegigihannya. Tatkala Rasulullah berdiri di puncak bukit Uhud dan memandang pergulatan antara kaum muslimin dan musyrikin. Beliau memandang ke sekeliling, ke kanan dan ke kiri, dan tampaklah seorang perempuan dengan gagah perkasa tengah mengayun-ayunkan pedangnya menghalau serangan musuh. Beliau memerhatikan pertempuran antara keduanya dengan seksama, sungguh sengit pergulatan diantara keduanya.

Mereka saling adu pedang, melawan satu sama lain, menepis dan mengibas pedang ke hadapan lawan. Dan lagi-lagi beliau melihat perempuan tersebut kembali melakukan hal yang sama, menghunuskan pedangnya, menghadang bahaya demi melindungi jiwa mulia Rasulullah Saw. Rasulullah Saw berkata, “Tidaklah aku melihat ke kiri dan ke kanan pada pertempuran Uhud kecuali aku melihat Nusaibah binti Ka’ab membela ku.”

Nusaibah binti Ka’ab al-Anshariyah memanglah sangat mencintai Rasulullah Saw. Sehingga tatkala ia melihat junjungannya terancam bahaya, ia tak tinggal diam. Dengan gagah beraninya ia maju mengangkat dan mengibaskan pedangnya melawan musuh di hadapannya tanpa ada satupun keraguan dan ketakutan dalam dirinya. Kecintaan dan kesetiaan Ibu Abdullah bin Zaid ini ditularkan kepada anaknya.

Pada suatu pertempuran anaknya, Abdullah bin Zaid mengalami luka yang cukup parah ditangannya. Sang ibu segera membalut lukanya sembari berkata, “Kembalilah berjuang, wahai anakku!” melihat hal tersebut Rasulullah Saw bersabda, “Wahai Ummu Umarah, semangat juangmu amatlah besar. Adakah semangat yang lebih besar dari semangat Ummu ‘Umarah?”. Sungguh mengagumkan jiwa juang istri Zaid bin Ashim ini. Adakah yang bisa mengalahkan jiwa juangnya? Seorang ibu yang tak hanya berjuang tuk keluarganya saja, namun ia ikut bermain dalam kancah dunia peperangan demi menegakkan agama islam.

 

Kesabaran yang Luar Biasa

Pejuang perempuan dari Madinah ini dianugerahi umur yang panjang. Sepeninggal Rasulullah Saw ia masih ikut berkecimpung di medan perang. Sebagaimana yang diketahui, banyak sekali perperangan yang terjadi sepeninggal Rasulullah Saw. Salah satunya adalah perang Yamamah,  perang untuk melawan orang-orang murtad yang disebabkan oleh munculnya nabi palsu, Musailamah al-Kadzab. Ketika peperangan ini terjadi, usia Ummu Umarah telah mencapai 52 tahun. Meski sudah memasuki usia senja, Ibunda Hubaib lagi-lagi menunjuk kebolehannya dalam kancah peperangan.

Ia kembali membuktikan kegigihan dan keteguhan jiwa jihadnya dalam perang Yamamah ini. Bersama putranya Hubaib bin Zaid, mereka maju menghadang musuh di medan peperangan dibawah pimpinan panglima Khalid bin Walid.

Dalam peperangan kali ini pasukan muslim melawan para pemberontak yang dipimpin oleh sang nabi palsu, Musailamah al-Kadzab. Dalam peperangan tersebut Musailamah menangkap Hubaib, dan menawannya. Musailamah memerintahnya untuk menyatakan dan mengimani bahwa ia adalah utusan Allah, namun Hubaib menolaknya. Musailamah bertanya pada Zaid, “Apakah kau bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah?”. Dengan tegas Hubabib menjawab, “Ya!! Aku bersaksi bahwa Muhammad Saw adalah utusan Allah.” Musailamah kembali bertanya, “Apakah kau juga bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?”.

Hubaib menjawab, “Apa?? Aku tak mendengar apa-apa.” Mendengar jawaban Hubaib Musailamah langsung geram, tak terima ia dengan jawabannya. Dengan jengkel segera ia menghabisi Hubaib, Musailamah membunuh putra Ummu ‘Umarah ini. Melihat putra tercintanya dibunuh oleh sang nabi palsu sungguh menyayat hati ibunda Hubaib bin Zaid ini. Bagaimana mungkin ia bisa menyaksikan kebengisan nabi palsu itu dalam membunuh putra tercintanya.

Namun bukanlah jiwa Nusaibah, sang mujahidah sejati untuk terpuruk dan larut dalam kesedihan atas kematian anaknya. Nusaibah bukan hanya seorang mujahidah yang tangguh, yang pandai memainkan pedangnya. Namun ia juga merupakan seorang wanita yang memiliki kesabaran yang luar biasa. Nusaibah menerima berita kematian itu dengan penuh ketabahan serta penuh kebanggaan.

Ia yakin bahwa putranya telah gugur sebagai seorang syahid, sebagai seorang panglima perang yang rela mati demi menegakkan panji-panji Islam. Ia yakin putra tercintanya akan mendapatkan kedudukan yang tinggi dan mulia di sisi Allah.

Kesabarannya yang luar biasa inilah yang membuatnya semakin gigih untuk maju melawan tentara musuh. Dengan gagahnya ia mengibaskan pedangnya kembali. Namun kibasan pedang lawan bertubi-tubi mengenai tubuhnya. Usia yang tak muda lagi pun tak bisa dipungkiri akan mengurangi pertahanannya.

Namun, ia tetap gigih berperang hingga tangannya terpotong dan belasan luka mengenai tubuhnya akibat pukulan dan tusukan dari pedang musuh. Namun semuanya bukanlah luka yang tiada guna. Luka-luka itu adalah taman surgawi bagi mujahidah sejati seperti dirinya.

Nusaibah binti Ka’ab adalah seorang pejuang wanita yang sejati. Rela mengorbankan segalanya demi membela Rasulullah Saw dan menegakkan panji-panji Islam, tak hanya tenaga dan peluh yang ia korbankan. Bahkan jiwa raga telah ia korbankan demi kejayaan agama islam.

Kebesaran cintanya terhadap Allah dan Rasul-Nya telah mengalahkan cintanya kepada selain Dia termasuk cintanya kepada dirinya sendiri. Ia jugalah yang menumbuhkan semangat juang tuk berjihad kepada anak-anak dan keluarganya. Meski nyawa yang harus dikorbankan, demi islam apapun akan ia lakukan, demikianlah prinsip Nusaibah. Dia lah potret mujahidah sejati, berani berjuang sampai mati. Dan tak ada balasan yang lebih pantas baginya kecuali surga-Nya dan kenikmatan yang tiada tara di akherat kelak.

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridloan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-‘Ankabuut : 69)

Wallahu a’lam.***.

 

Sumber Bacaan :

  1. Al-Isti’ab fi Ma’rifatish Shahabah
  2. Al-Durar fi Ikhtisharil Maghazi was Sair
  3. Al-Ishabah fi Ma’rifatish Shahabah
  4. Ma’rifatush Shahabah li Abi Nu’aim

Related Post

Continue Reading
Klik di sini
Diah Ayu Agustina

Mahasantri Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Riwayat

Klik di sini
Klik di sini

Sering Dibaca

Topik

Arsip

To Top