Tibalah suatu masa, sang kapten membuat keputusan mengejutkan. Ia memutuskan untuk kembali ke negeri dimana ia berasal. Seluruh awak kapal tersentak. Sang kapten memberikan segala kapal dan isinya kepada para awak kapal yang tersisa.

Layar digelar. Penghormatan terakhir diberikan. Sang kapten berlalu ke negerinya. Awak kapal sedikit kalut mulanya. Tapi mau bagaimana, kapal ini sudah terlampau bagus, dan pelayaran harus tetap dilakukan.

Para awak kapal senior, kepercayaan sang kapten mulai menyusun langkah untuk pelayaran. Mereka pegang betul titah-titah kapten tentang apa yang dimuat, serta bagaimana membaca arah angin. Pelayaran berlanjut. Awak kapal tetap ada yang baru, ada yang memilih turun di negeri-negeri singgahan.

Arah angin semakin tidak terkendali. Para awak kapal terdahulu yang telah mempunyai aliansi baru di lautan, kerap ditemui para awak kapal senior di pulau-pulau tertentu. Mereka mengenangkan bagaimana sang kapten bisa begitu berjaya. Mereka menyusun apa-apa hal terbaik yang bisa dilakukan untuk tetap menegakkan kejayaan sang kapten di lautan.

Dan para awak kapal junior, para newbie, semakin asyik dengan alat-alat navigasi terbaru, membaca arah angin sesuka mereka sebagaimana dipelajari di pulau-pulau lamanya. Sebenarnya dalam beberapa obrolan cangkir kopi di kabin, mereka gemas dengan awak kapal senior yang masih mempertahankan cara lama membaca arah angin. Tidak efisien, kata mereka.

Mereka kerap membincang layar-layar yang terlalu boros dikembangkan, karena takut angin terlalu kencang padahal bisa saja mereka manfaatkan mesin motor untuk sedikit membantu melawan arus. Begitu juga metode navigasi, masih memakai peta. Ya, para awak kapal senior masih memakai buku Atlas Dunia, dan diam-diam, sepertinya buku RPUL.

“Duh, zaman Google Map seperti ini. Laut saja sudah dibikin peta pelayarannya di Google. Waze juga mampu membantu kita tahu, laut mana yang padat para bajak laut, mana yang sedang terjadi adu tembakan meriam, ke mana arah angin saat ini, lokasi terjadinya badai, serta mana pulau yang lebih asyik dikunjungi dibanding pulau-pulau yang bisa tercatat di peta itu.”

Konon, para awak kapal senior ini percaya bahwa menggunakan atlas dan peta itu lebih menawan. Mereka menegaskan pada suatu kesempatan bahwa sesuatu yang dicetak adalah sebuah wujud keteguhan dan presisi. Usaha yang benar-benar. Maka sesuatu yang tidak tercetak bisa dianggap tidak teguh dan tidak presisi.

“Atlas dan peta menjanjikan kita suatu arus yang aman, yang telah diletakkan para pelaut terdahulu, dan sampai kepada kita. Alat navigasi saat ini sudah keren, tapi apakah kalian tidak menghargai usaha para pelaut terdahulu? Apakah kalian mengabaikan mandat kapten untuk tetap senantiasa menggunakan peta dan atlas dalam pelayaran yang ganas ini?”

Dalam obrolan cangkir kopi kesekian,

“Ah, Terlalu zaman old.” Seru awak kapal junior, sambil kadang tertawa-tawa – menertawakan diri mereka sendiri yang belum tentu bisa melakukan pelayaran yang lebih baik dibanding para awak kapal senior. Tapi awak kapal junior ini yakin, bahwa arah angin yang mereka baca kali ini sudah lebih akurat dibanding apa yang dibaca para senior lewat peta.

“Bung, mana yang lebih penting: pengalaman atau ilmu?”

Seorang yang selalu mengikuti obrolan cangkir kopi tapi malah sering bikin Nutrisari rasa Jeruk Peras ini menyeletuk,

“Aku ingin lebih memilih ilmu. Kadang, orang berpengalaman itu sulit diyakinkan dengan adanya ilmu-ilmu baru! Tempo hari, ketika singgah di Pulau Sabaody, aku melihat bahwa para pelaut pemula mulai berani menyusun navigasi dengan teknologi terbaru, dibanding mengikut apa kata para pelaut klasik.”

“Kamu tidak percaya apa kata awak kapal senior, yang mendengar banyak hal langsung dari Sang Kapten? Yang sudah sekian masa berada di kapal ini? Seberapa jauh pengetahuanmu tentang perahu ini, bung?”

Dan memang demikianlah arahan awak kapal senior atas kapal memang keren, tapi kerap dirasa para junior tak menjanjikan. Mereka berkata para nelayan di Indonesia saja sudah diberikan alat baru tangkap ikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, eh para awak kapal senior masih memercayai bahwa cara terbaik menangkap ikan adalah dengan pancing, atau sekurang-kurangnya, tebar jala.

“Ikan-ikan sekarang sudah lebih cerdas dari manusia, bung,” celetuk seorang awak kapal junior. Orang-orang awak kapal junior ini memang sering tidak kooperatif dan kadang kurang ajar. Tapi memang ada pula yang masih kagum, yakin, bahwa perahu itu akan tetap bertuah, tetap bernama besar, sebagaimana Sang Kapten pemilik kapal ini pernah berjaya.

Itu masih sedikitnya jauh lebih baik. Malahan ada awak kapal, baik berumur maupun para junior, sudah lama berada di atas kapal itu. Mereka yakin berada di kapal ternama adalah sebuah kebanggaan.

Orang-orang ini belum tahu, bahwa persoalan naik kapal bukan hanya bisa tahan atau tidak: tapi memutuskan menjadi awak kapal adalah sebuah keniscayaan untuk turut berjibaku mengembangkan layar, membantu navigasi, mencari ikan untuk seluruh awak kapal, dan usaha-usaha bertahan hidup remeh temeh lainnya di atas kapal. Alih-alih ikut menentukan navigasi kapal, orang-orang ini sudah jarang hadir dalam obrolan di kabin.

Tapi sekali lagi, konon kata banyak orang-orang di negeri dan pulau singgahan sana, angin sudah tak bisa diatur. Cara-cara lama bisa jadi sudah semakin susah membaca arah angin. Para awak kapal masih yakin bahwa perahu itu masih kuat dan kokoh. Tapi, sejauh mana ia akan berlayar?

Tidakkah perahu itu ingin membaca arah angin, sehingga bisa berlayar sejauh mungkin? Perlukah para awak ini mengasing selama dua tahun untuk menambah ilmu-ilmu baru demi pelayaran, sebagaimana dilakukan Bajak Laut Topi Jerami?

Para awak kapal junior masih percaya pada kewaskitaan para awak kapal senior. Tapi arah angin dan navigasi, serta dinamika maritim yang senantiasa berubah adalah apa yang mereka bisa yakini saat ini. Dan jika sudah begitu, perahu itu tak akan kalah jika kelak melawan bajak laut Kurohige. Perahu itu tidak boleh ditenggelamkan oleh Davy Jones, sehingga para awak kapalnya menjadi kru Flying Dutchman: baru bisa merapat ke daratan 10 tahun sekali, dan sesekali saja muncul di permukaan.