Persilangan Al-Quran dengan Sastra Perspektif Amin Al-Khulli

majalahnabawi. com – Sastra dalam bahasa Arab disebut Al-Adab yang mempunyai makna kehalusan budi, adab dan sopan santun. Kemudian dalam perkembangan berikutnya berarti peninggalan perkataan dalam bentuk puisi dan prosa. Oleh karena itu, karya sastra adalah pengungkapan pengalaman seorang sastrawan dengan kata-kata yang inspiratif. Adapun pendekatan sastra dalam Al-Quran adalah pendekatan yang mengarah untuk menggugah perasaan pembaca secara rohani sehingga menimbulkan kegembiraan di dalam jiwa, atau mendatangkan kepedihan sehingga menolaknya. [1]

Amin Al-Khuli memulai asumsinya dalam berinteraksi dengan Al-Quran melalui pendekatan dan sudut pandang sastra. Menurutnya, adalah sebuah fakta bahwa Al-Quran merupakan fakta bahasa dan sastra. Namun fakta ini bukan fakta yang mati, tetapi dinamis karena memiliki pengaruh yang jelas terhadap mereka yang menjadi sasaran pertama dari ujaran-ujarannya. Al-Quran di sini dilihat sebagai apa adanya dalam kaitannya dengan masyarakat pertama kali menerimanya. Ia muncul dalam bingkai dialektika antara wahyu dengan realitas masyarakat pada saat itu.[2]

Biografi Singkat Amin Al-Khulli

Amin Ibn Ibrahim Abdul Baqi’ Ibn Amir Ibn Ismail Ibn Yusuf al-Khuli lahir 1 Mei 1895 di sekitar Menoufia, sebuah kota kecil di Mesir. Ia berasal dari keluarga petani gandum yang berpegang ketat pada tradisi keagamaan al-Azhar. Dia memiliki wacana yang luas terhadap peradaban Barat dengan metodologi pengkajiannya.[1]

Pada rentang waktu dari tahun 1927 hingga tahun 1953 Amin Al- Khuli berkonsentrasi menyusun elemen-elemen dasar metode tafsir susastra, dan aktif berdiskusi dengan mahasiswa-mahasiswa pascasarjana Fakultas Sastra seputar metode susastra untuk kajian Al-Quran. Pasca tahun 1953 ia diangkat sebagai Konsultan Ilmiah Perrpustakaan Nasional Mesir (Dar al-Kutub al-Mishriyyah), lalu menjadi Direktur Urusan Kebudayaan di Departemen Pendidikan dan Pengajaran Nasional (Wizarat at-Tarbiyah wa at-Ta’lim) hingga usia pensiun pada tahun 1956.[2]

Amin al-Khuli adalah intelektual Mesir yang telah merintis perlunya penerapan metode kritik sastra atas teks-teks Al-Quran. Mulanya ia mengkaji bahasa dan sastra Arab sebagai upaya untuk membongkar kebuntuan persepsi tentang kesakralan Al-Quran. Kedua bukunya, Fil Adabil Mashrî (1943) dan Fannul Qawl (1947) adalah dua karya penting dalam menapaki pendekatan sastrawi atas Al-Quran.[3]

Penolakan Amin Al-Khuli Terhadap Tafsir Ilmiyah

Al-Khuli menolak kecenderungan tafsir ilmiah (al-tafsir al-ilmy). Tafsir model ini didefinisikan sebagai sebuah penafsiran yang memutuskan peristilahan-peristilahan keilmuan kontemporer dalam terminologi AlQuran serta berupaya mendeduksi segala bentuk ilmu pengetahuan tersebut dari teks-teks Al-Quran. Menurut Al-Khuli tafsir model ini tidak selaras dengan misi tafsir susastra. Jika dirunut, embrio model penafsiran saintifik (ilmiah) sejatinya muncul di tengah-tengah masyarakat Muslim semenjak era abasiah sebagai respon terhadap berbagai disiplin ilmu pengetahuan.Diskursus tafsir ilmiah cukup marak dalam karya kesarjanaan klasik.[4]

“ketidak beresan” tafsir ilmiah menurut Al-Khuli, terletak pada tiga aspek. Pertama, dari aspek bahasa. Penafsiran ilmiah tidak tidak kompatibel dengan makna kata-kata Al-Quran. Evolusi kata-kata Al-Quran, secara eksplisist, tidak bersinggungan dengan ilmuilmu kealaman. Kedua, dari segi filologi dan ilmu bahasa serta sastra. Al-Quran yang diturunkan di abad ke tujuh dengan masyarakat Arab sebagai sasaran wahyu, tentunya tidak berisi informasi-informasi pengetahuan alam yang tidak mampu mereka pahami. Aspek ketidaksesuaian ini dilihat dari dari ketepatan makna pesan yang dibawa Al-Quran. Ketiga, dari segi teologis. Penafsiran ilmiah tidak tidak bisa diterima dan tidak bisa dibenarkan karena Al-Quran merupakan kitab suci yang mempunyai misi pesan-pesan moral keagamaan, tentu tidak bersentuhan dengan teori-teori kosmologis.[5]

Tafsir Sastra Amin Al-Khulli

Menurut Al-Khuli bahwa idealnya studi tafsir Al-Quran, metode yang tepat untuk mengkajinya adalah: Pertama, tentang latar belakang historis dan situasi-situasi asal atau dalam kasus Al-Quran, penjelmaannya di bumi melalui pewahyuan harus dieksplorasikan. Oleh karena itu, seseorang harus mengkaji tradisi-tradisi keagamaan dan kultural, situasi sosial bangsa Arab terdahulu, dan kronologi penyampaian teks Al-Quran dan lainnya.[6]

Kedua, dengan memperhatikan seluruh pengetahuan yang relevan dan dihimpun dalam metode penafsiran, sehingga seseorang harus menetapkan makna yang tepat untuk kata perkata teks Al-Quran. Oleh karenanya, agar bisa memahami ayat Al-Quran secara proporsional, seseorang harus menempuh metode pendekatan sastra (almanhaj al-adabi) yaitu corak tafsir yang berusaha menjelaskan ayat-ayat Al-Quran dengan menguraikan aspek kebahasaan dari pada pesan pokok dari ayat yang ditafsirkan.

Al-Khuli telah membuat rumusan tahapan sebagai kerangka operasional penerapan dua hal di atas yakni, Pertama, sarjana yang ingin menulis tafsir Al-Quran hendaknya memperhatikan semua ayat yang membicarakan suatu subjek dan tidak hanya membatasi pada penafsiran satu ayat saja dengan mengabaikan pernyataan-pernyataan lain dalam topik yang sama. Kedua, sarjana tersebut perlu melakukan studi dengan cermat dan teliti atas setiap lafal Al-Quran, tidak saja dengan bantuan kamus-kamus klasik (kajian leksikal) melainkan juga pada tahap pertama dengan bantuan adanya paralel Al-Quran dari lafal atau masadir yang sama, Ketiga, mufassir seharusnya menganalisis bagaimana Al-Quran menggabungkan lafal-lafal ke dalam kalimat serta hendaknya menjelaskan efek psikologis bahasa Al-Quran terhadap para pendengarnya.[7]


[1] Muhammad Aminullah, Hermeneutika Dan Linguistik Perspektif Metode Sastra Amin al-Khuli, Vol. IX, No. 2, Juli-Desember 2016, Hal,328.

[2] Wali Ramadhani, Amin al-Khuli Dan Metode Tafsir Sastrawi Atas al-Qur’an, Jurnal al-Tibyan, Vol. 2, No. 1, Juni 2017, Hal 03.

[3] M. Nur Kholis Setiawan, al-quran kitab sastra terbesar (Yogyakarta: e-SAQ press, 2006). hlm. 27.

[4] Ahmad Al-Syirbasyi, Sejarah Tafsir Al-quran( Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001), hlm.165.

[5] Himan Latief, Nasr Hamid Abu Zaid Kritik Teks Keagamaan, (Yogyakarta: elSAQ Press, 2003), hlm. 1.

[6] J.J. G. Jansen, Diskursus Tafsir al-quran (Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 1997), hlm. 105.

[7] Al-Khuli, Manahij Tajdid, hlm. 221


[1] Amin Al-Khuli dan Nashr Abu Zayd, Metode Tafsir Kesastraan Atas Al-Quran, Terjemahan Ruslani (Yogyakarta : Bina Media, 2005), hlm. Viii.

[2] M Aunul Abied Shah. “Arain of Khuli dan Kodetikasi Metode Tafsir Sebuah Biografi Intelektual Bandung Mizan, 2001) hlm. 131.

Similar Posts