Gambar: www.amazonaws.com

Adapun jalur sebagaimana umumnya, kendala yang akan mereka lalui adalah panas terik matahari dan jalanan macet yang cukup membuat para pengguna jalan sedikit stres, ditambah lagi ketika menjelang lebaran yang pastinya jalan semakin padat oleh para pemudik.

Keluarga itu enggan melewati momen-momen mudik ini dengan kemacetan, menunggu, lelah dan peluh, sehingga mereka lebih memilih jalur cepat, yaitu melewati jalan perkampungan yang ukurannya tidak selebar jalan raya. Jalan itu hanya cukup dilewati dua mobil, dan itu pun tidak semua mobil bisa masuk, hanya  mobil seukuran mini bus yang bisa lewat, itu pun dengan pelan. Jika yang lewat ternyata mobil truk, maka terpaksa mobil kecil yang melewati jalan ini harus terlebih dahulu mundur ke halaman rumah warga.

Walhasil, mereka pun melewati jalan itu dan lumayan lebih cepat awalnya dan tidak panas karena sekelilingnya masih tumbuh beberapa pohon yang itu pun tidak terlalu banyak. Akan tetapi, tidak disangka ternyata jalan itu sedang dalam perbaikan, ditambah masih ada beberapa jalan yang berlubang. Dengan terpaksa sang supir mencari-cari jalan yang kira-kira masih layak dilewati.

Tak terasa ban mobil mereka bocor karena mengenai benda tajam. Mereka pun terpaksa berhenti terlebih dahulu ke tukang tambal ban karena lupa membawa ban cadangan. Setelah dihitung-hitung ternyata waktu yang ditempuh dari kedua jalan pun sama.

Dari kisah diatas, bisa kita simpulkan bahwa mencari jalur cepat untuk mendapatkan apa yang kita maksud, terkadang akan menghalangi kita untuk mendapatkannya. Tak jarang kita mendapatkan penghalang yang lebih besar saat menempuh jalur yang kita anggap lebih cepat.

Maka dari itu, apapun profesi kita, jalanilah dengan apa adanya, dengan ikhlas serta lapang dada dalam menerima setiap suratan takdir yang telah dituliskan untuk kita semua. Karena setiap kesedihan dan kesulitan itu tidak kekal. Ia akan berganti kesenangan dan kemudahan seiring berjalannya waktu, sebagaimana petuah Imam Syafi’i:

Baja Juga  Membicarakan Dasar Pengetahuan: Refleksi Hakikat Manusia

وَلاَ حُزْنٌ يَدُومُ وَلاَ سُـرُورٌ     وَلاَ بُـؤْسٌ عَلَيْـكَ وَلاَ رَخَــاءُ

Kesedihan itu tidaklah kekal, begitu juga kesenangan,

Juga kesengsaraan yang menimpahmu dan pula kemewahan.

Terkhusus lagi bagi kaum pelajar seperti kita, kesabaran dan kerja keras adalah hal yang patut dimiliki, entah itu bersabar dalam ketaatan ataupun kesabaran dalam menjaga diri dari kemaksiatan, serta kesabaran untuk menahan diri agar jangan terburu-buru untuk menjadi mashur dan berfatwa sana-sini, Syeikh Ibn ‘Atho’illah berkata:

ادْفِنْ وجودَك في أرضِ الخمولِ فما نَبَتَ مما لم يُدْفَنْ لا يَتِمُّ نَتَاجُه

“Kuburlah dirimu di tanah kerendahan, karena sesuatu yang tumbuh tanpa dikubur (ditanam) hasilnya kurang sempurna”

Tetap semangat, terus berkarya dan jangan mengeluh! Karena semua akan indah pada waktunya.

iklan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here