Peta Konflik Umat Islam Modern dan Jalan Keluar yang Terlupakan

Majalahnabawi.com-Akhir-akhir ini, Umat Muslim di buat gerah dengan berbagai kabar buruk yang menimpa. Di antara pengelompokan kabarnya ialah Islamophobia dan diskriminasi di negara-negara non Muslim, perang saudara di negara mayoritas Muslim yang baik terjadi di negeri sendiri maupun melibatkan negeri lain, perang antara negeri Muslim dengan Kafir, konflik ideologi atau fikih antar para ulama via media sosial, hingga munculnya kelompok-kelompok sesat.
Di sini, penulis pun akan sedikit memberikan contoh dari pengelompokan tersebut, guna memantapkan hati para pembaca juga penulis untuk menginteropeksi diri. Kasus Islamophobia dan diskriminasi di negara-negara non Muslim amat masih kerap terjadi. Tiga etnis terbesar yang merasakannya ialah Rohingnya di Myanmar, Uighur di China, dan Muslim di India.
Dalam kasus perang saudara sesama Muslim, masih berlangsung pula di beberapa negara seperti Yaman, Yaman melawan Arab, Kurdi melawan Irak-Suriah-Turki, dan Sudan. Stabilitas politik juga sempat goyah di beberapa negeri Muslim berikut: Indonesia, Iran, Pakistan, dan Maroko.
Konflik negara Islam-Kafir, kita buka dengan perang Palestina-Israel.Selama 59 tahun sejak negara-negara Arab melancarkan perang terbuka melawan Israel, konflik berkepanjangan ini telah menelan miliaran korban jiwa dan memicu berbagai tindakan kekerasan, termasuk pemerkosaan.Belum lagi kerugian material para pengungsi. Bagaimana sikap negeri-negeri Muslim? Terpecah dua. Konflik global yang melibatkan seluruh elemen pun berdampak pada sikap mereka.
Kita tentu dapat membaca bahwa negara-negara teluk berada di fraksi Amerika. Kondisi ini menjadi wajar, sebab mereka harus berhadapan langsung dengan kekuatan politik besar seperti Iran. Oleh karena itu, terkesan pula mereka tidak mendukung secara langsung terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Konflik Teritorial dan Perebutan Wilayah Global
Di lain tempat, konfrontasi juga terjadi karena perebutan batas teritorial. Saat ini, laut Cina Selatan diperbutkan oleh tujuh negara, Filipina, Vietnam, Malaysia, Brunei, Taiwan, Indonesia, dan China. Terdapat pula konflik perebutan wilayah yang melibatkan India dan pakistan.
Selain perang terbuka, para pihak juga terlibat dalam perang adu gagasan yang banyak ahli nilai sebagai tidak sehat. Konflik ideologi via media sosial ini melibatkan pemahaman Syiah, Sunni, Salafi Wahabi, Khilafah, Sekuler, dan Liberal. Belum lagi pemahaman yang lebih jauh menyimpang seperti Baha’i, Yazidi, Ahmadiyyah, dan masih banyak lagi. Pemahaman yang jauh dari keumuman masyarakat Islam tersebut sering pula menimbulkan konflik terbuka di beberapa daerah.
Para ahli seperti Fazlur Rahman dan lain-lain memiliki klasifikasi tersendiri untuk memetakan ideologi masyarakat Muslim modern. Tetapi di sini, penulis memiliki klasifikasi sendiri, yaitu Fundamentalis Liberalis, Fundamentalis Konservatif, Tradisionalis Liberalis, dan Tradisionalis Konservatif. Keempat ideologi tersebut memiliki sisi positif dan negatignya masing-masing.
Lantas apakah kondisi Muslim Indonesia baik-baik saja? Tentu saja tidak. Masyarakat Muslim Indonesia ikut terkotak-kotak mengikuti ritme konflik Muslim global. Konflik yang berangkat dari adu rasionalisasi dalil kelompok berubah menuju serangan personal dan kelompok. Perbuatan oknum kelompok dipandang sebagai penentua sikap keseluruhan kelompok tersebut. Sejumlah pengamat menilai kelompok-kelompok besar dalam Islam—seperti NU, Muhammadiyah, Salafi Wahabi, Habaib, dan lain-lain.
Cara Membaca Konflik Muslim Global
Untuk memahami peta konflik yang berlangsung, penulis rasa perlu memberikan sedikit pemahaman awal terhadap pembaca. Pola pikir dasar ini seringkali luput sehingga dampak konflik global sering membingungkan kita. Silahkan simak sedikit uraian berikut!
Disiplin ilmu modern mengklasifikasi ilmu ke dalam dua pembagian. Pertama, ilmu yang bersifat pasti. Kasus-kasus seperti bencana alam, sirkulasi air, siklus pertumbuhan, astronomi, fisika, reaksi kimia, dan perhitungan dimasukkan ke dalam kategori tersebut. Kasus-kasus tersebut dikelompokan bersama karena memang memiliki satu kesamaan vital, yaitu terukur secara pasti dengan mempertimbangkan aspek sebab-akibat.
Kedua, ilmu yang bersifat sosial atau pun humaniora. Segmen-segmen dalam pembagian ini lebih liar dan tidak mudah ditebak. Sulit menemukan pola-pola halus dan terperincinya. Kasus-kasus seperti infiltrasi budaya, peperangan, pergantian arah politik, pergerakan roda ekonomi masuk ke dalam ilmu ini.
Di sini lah perlu penekanan pemahaman. Segala yang terjadi dalam dunia Islam masa kini masuk ke dalam pengetahuan golongan kedua. Segala konflik kepentingan dan penurunan moral sosial merupakan kasus yang dapat dipahami dengan ilmu-ilmu sosial.
Apa-apa yang terjadi, baik hal baik maupun buruk bukan lah sekedar anugerah atau azab, melainkan perpanjangan dampak dari apa yang telah diperbuat. Tulisan ini tidak lah menolak pemahaman terhadap anugerah dan azab, melainkan pengkritisan penyandaran segala hal yang terjadi secara mutlak atau lebih condong ke keduanya.
Ingat! Aspek sosial bukan tidak berpola, melainkan lebih kompleks dibandingkan kasus-kasus ilmu pasti. Walaupun terkesan sulit untuk memahaminya, hemat penulis cukup lah dengan peningkatan literasi, terutama sejarah. Karena apa yang terjadi ialah hal-hal yang sebelumnya pun terjadi. Kaum non Muslim nampaknya lebih siap bacaannya sehingga selalu satu langkah di depan kita hari ini.
Genealogi Konflik Umat Islam Modern
Pada bagian ini, penulis akan menjabarkan secara singkat peta konflik Muslim global secara ringkas. Sebagai manusia biasa, Rasulullah saw. dan para sahabat tentunya pernah terlibat konflik personal dan internal. Meskipun begitu, bimbingan Allah Swt. Yang masih terasa nyata mendewasakan ketakwaan mereka, setidaknya sampai sebelum terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan.
Pasca terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan, kaum Muslim terpecah-belah. Semakin hari, semakin nampak batas-batas antar kelompoknya. Dalam konflik Islam modern, penulis menyandarkan ke pada dua hal yang menjadikan cikal bakal peta konflik Muslim global saat ini. Pertama, desentralisasi kekuatan kaum Muslim.2Model persatuan primitif yang mendasarkan ke pada suku bangsa, menyiramkan bahan bakar perang yang siap membara kapan saja.
Kedua, munculnya pemahaman Salafi Wahabi yang dibawa oleh Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab pada tahun 1744 M. Pemahaman ini bersifat fundamentalis. Konflik kepentingan mereka yang tidak beradab kemudian menggunakan kendaraan ideologi ini untuk berbagai macam hal. Singkatnya, pemahaman fundamentalis ini mendapat perlawanan dari kaum tradisionalis. Pada tahap berikutnya, baik fundamentalis maupun tradisionalis terdapat yang bersikap konservatif dan liberal. Uniknya, mereka semua mengaku sebagai moderat.
Konflik Muslim global modern diatasnamakan pembelaan terhadap ideologinya masing-masing. Hal ini benar, setidaknya mayoritas dari mereka adalah martil tulus melawan kelompok lainnya. Meskipun begitu, terdapat beberapa oknum yang biasanya merupakan kaum elite masing-masing kelompok berusaha mengamankan diri mereka sendiri.
Para elite ini mengamalkan nasionalisme bukan sesuai tujuan awalnya, mereka memimpikan banyaknya kepemimpinan dan pemerintahan sehingga banyak pula kursi kosong yang perlu diisi. Hal positif lain bagi mereka bisa berupa legalitas, material, dan lain-lain.
Menarik Benang Merah, Ke Mana Kita Harus Melangkah?
Dengan sebab yang rumit, peta konflik pun merumit. Meskipun begitu, hemat penulis pola memahaminya sederhana. Pertama, perbanyak literasi. Pahami posisi kelompok-kelompok yang berkonflik. Jangan denial! Selalu ada oknum di setiap kelompok. Sebuah kelompok Islam bisa saja diketuai oleh dia yang mapan dari segi ilmu dan akhlak, tetapi lingkaran di sekitarnya belum tentu mapan pula.
Lantas perjuangkan lah apa yang dianggap benar! Penulis tidak bisa mengajak untuk memihak satu pihak, karena kebenaran tentunya relatif dan sering kali berbeda di setiap kepala. Tetapi dengan pemihakan yang mendasar, kita akan lebih terbuka dengan mereka yang pada akhirnya harus berbeda jalan dengan kita.
Dalam membuat komunitas yang baik, perlu adanya sistem yang baik. Sistem tidak digerakan oleh personal, perlu kerja sama tim.Ketika pembaca maupun penulis merasa selesai untuk pada akhirnya mengetahui cara bersikap, penting di langkah kemudian ialah mengajak yang lain untuk berhenti berseteru.
Kita dapat memakai pola yang sama, yaitu perbanyak literasi.Sudah terbukti di berbagai belahan dunia bahwa pendidikan ialah tombak kemajuan. Pengetahuan dan pengalaman akan melahirkan kebijaksanaan dalam bersikap.Sementara itu, fanatik buta tanpa tanda tanya akan menghasilkan terbuangnya nyawa secara sia-sia.