Menjadi pribadi yang baik adalah pilihan, sebab setiap orang berhak untuk mencapainya. Terlepas dari itu, saat seseorang berusaha untuk menjadi pribadi yang baik, maka dibutuhkan pula akhlak yang mulia, sebab akhlaklah yang akan mengantarkannya menjadi insan yang mulia. Dengan begitu maka secara tidak langsung, seseorang hanya memiliki dua pilihan, yaitu berkata yang baik atau diam.

Salah satu caranya adalah dengan tidak menyakiti orang lain, karena saat ia pernah menyakiti saudaranya, maka ia akan menyisakan luka, dan jika yang disakiti tidak memaafkannya, maka akan menjadi beban baginya di akhirat kelak, sebab haqqul adami  tidak bisa digantikan dengan apapun, kecuali jika si korban telah memaafkannya. Maka, pilihan yang ada hanyalah berkata yang baik, atau diam.

Rasul telah mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berbuat baik kepada sesama, bahkan saat ia disakiti. Beliau tidak hanya mengajarkan secara lisan, namun juga memberi contoh berupa perbuatan, bayangkan saja saat Rasul disiksa oleh kaum kafir Quraisy, hingga beliau dilempari kotoran saat shalat, tapi apa yang beliau lakukan? beliau hanya diam, dan mendoakannya, agar mereka diberi hidayah. Maka, sudah selayaknya kita sebagai umatnya untuk meneladani sifat-sifatnya.

Banyak hadis yang menerangkan tentang anjuran untuk berbuat baik kepada sesama, diantaranya adalah hadis riwayat Imam al-Bukhari,

حدثنا عبد الله بن يوسف حدثنا الليث قال حدثني سعيد المقبري عن أبي شريح العدوي قال سمعت أذناي وأبصرت عيناي حين تكلم النبي صلى الله عليه وسلم فقال: “من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم جاره ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه جائزته قال وما جائزته يا رسول الله؟ قال: يوم وليلة والضيافة ثلاثة أيام فما كان وراء ذلك فهو صدقة عليه ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت”

Baja Juga  Tiga Kebohongan yang Ditolerir dalam Hadis Nabi

Artinya: “Dari Abu Syuraih al-Adawi, beliau berkata: “Saya telah mendengar dengan kedua telingaku dan melihat dengan kedua mataku ketika Rasul SAW mengucapkan sabdanya: ‘Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya, dan siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tamunya dan menjamunya’, dia bertanya: ‘Apa yang di maksud dengan menjamunya wahai Rasul?’ beliau menjawab, ‘yaitu pada siang dan malam hari, dan beramu itu tiga hari, jika lebih dari itu, maka sedekah baginya.’ Dan beliau bersabda, ‘Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata dengan baik atau diam.” (HR. Bukhori)

Dalam Syarh Fathul Bari li Ibni Hajar, Imam Nawawi berkata bahwa maksud dari hadis diatas adalah anjuran untuk menjaga lisan, maka dianjurkan kepada setiap orang untuk berfikir sebelum berucap. Jika ucapannya mengandung manfaat maka ucapkanlah, namun jika tidak bahkan dapat menyakiti orang lain maka diamlah.

Dalam syarah tersebut juga disebutkan bahwa, jika ia tidak mengetahui apakah ucapannya akan mengandung makna yang baik atau tidak, maka dianjurkan untuk diam. Sebab, jika ternyata perkataan tersebut dapat menyakiti orang lain, maka ia akan berdosa.

Seperti yang kita tau, kebanyakan pertengkaranpun berawal dari perkataan yang tidak baik, yang kemudian saling mencaci, hingga berujung pada kekerasan. Jika sudah begitu, maka dimana letak sisi kasih sayang yang dimiliki oleh manusia? Wal iyadzu billah.

Cukuplah kejadian kekerasan, pertengakaran, dan permusuhan yang telah terjadi menjadi peringatan bagi kita untuk selalu menjaga lisan, dan berbuat baik kepada orang lain. Mari kita teladani sifat-sifat yang telah diajarkan Rasul kepada para sahabatnya, dan agar terhindar dari itu semua, pilihannya hanya dua, berkata baik atau diam. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam bisshowab.