Kolom Khadim Mahad

Mengintip Tradisi Ramadan di Negeri Paman Sam

Avatar Written by H. Zia Ul Haramein · 4 min read
Seluruh umat muslim di dunia tengah berbahagia akan datangnya bulan suci Ramadan. Setiap tahunnya, bulan kesembilan kalender hijriyah ini membawa antusiasme tersendiri bagi umat Rasulullah Saw di berbagai belahan dunia, tak terkecuali umat muslim di Amerika Serikat. Mencermati perilaku Ramadan di Amerika, kita tidak akan melihat restoran atau warteg yang tutup di siang hari sebagaimana di tanah air dan negara mayoritas muslim lainnya. Tidak akan kita temui juga spanduk-spanduk gebyar undian Ramadan dengan segala doorprize-nya. Pun tidak ada sejarahnya speaker masjid bertugas membangunkan orang sahur. Secara kasat mata, datangnya Ramadan tidak memiliki perbedaan apapun dalam tatanan sosial masyarakat Amerika Serikat. Namun secara spiritual, masyarakat muslim disana begitu semangat menyambut bulan mulia yang datang setahun sekali ini.

Beberapa dekade terakhir umat muslim Negeri Paman Sam semakin giat memperkenalkan pada khalayak luas makna Ramadan juga nilai-nilai keislaman universal yang terkandung di dalamnya. Meski pemeluk Islam hanya berkisar 3,3 juta dari total 320 juta populasi, kaum muslim di Amerika mempunyai tradisi khusus yang hanya terjadi di bulan Ramadan.

Beberapa bulan terakhir kemarin kami tinggal di sekitar area Washington DC, Amerika Serikat tepatnya di kota Silver Spring yang berada kurang lebih 5 kilometer arah utara ibukota Amerika. Di jantung kota Silver Spring terdapat komunitas muslim Indonesia terbesar di kawasan DMV (DC, Maryland, Virginia) yang bernama IMAAM (Indonesian Muslim Association in America). Komunitas muslim yang telah berdiri sejak awal tahun 1990-an ini bergerak di bidang dakwah, edukasi, amal dan lain sebagainya. Sejak awal berdirinya, IMAAM belum memiliki lokasi khusus untuk melaksanakan pengajian atau majlis keilmuan lainnya. Akhirnya dengan izin Allah Swt, pada September 2014 komunitas ini resmi membeli sebuah gereja yang selanjutnya disulap menjadi sebuah masjid cantik. Diresmikan langsung oleh presiden SBY saat itu, IMAAM Center menjadi satu-satunya pusat keislaman terbesar khususnya bagi masyarakat Indonesia di kawasan DMV. Sebagai pusat kegiatan dakwah dan even keislaman lainnya, IMAAM Center diproyeksikan menjadi salah satu pioneer perkembangan Islam di kawasan ibukota Amerika Serikat.

Meski umat muslim Amerika tahun ini harus menjalani 16 jam puasa setiap harinya, hal itu tidak mengurangi kegembiraan mereka dalam menyambut Ramadan. Menurut Imam Mohamed Bashar Arafat dari Muslim Community Center (MCC) yang berpusat di Baltimore, Maryland, Ramadan menjadi bulan yang sangat penting dimana para muslim dapat lebih sering berkumpul dalam kehangatan silaturahmi. Kita akan melihat indahnya kebersamaan kaum muslim dari berbagai latar belakang tradisi dan kewarganegaraan yang berbeda. Menurut imam asal Damaskus, Syria ini Ramadan menjadi momen paling tepat dimana para muslim Amerika berkesempatan membangun dialog dengan lingkungan setempat. Bahkan di berbagai masjid, mereka mengundang tetangga dan kolega sekitar untuk sekedar iftar bersama sembari berdialog santai meluruskan hal-hal negatif yang media barat ocehkan tentang Islam.

Baca Juga:   Tantangan Ulama Perempuan Era Modern

Festival Ramadan

Beberapa tahun belakangan, dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan IMAAM Center kerap mengadakan festival bazar yang biasa disebut Tarhib Ramadan. Acara yang diadakan setahun sekali ini berisi ceramah dan diskusi agama yang dipimpin oleh ustadz Fahmi Zubair, Lc., kontes busana muslim dari anak-anak hingga remaja, serta acara intinya yaitu bazar mulai dari makanan khas Indonesia sampai busana dan pernak-pernik asli tanah air.

Tidak sedikit dari para hadirin yang begitu antusias mengikuti serunya aktifitas di komunitas Indonesia yang dipimpin oleh Dr. Amang Sukasih. Festival yang diadakan di aula serbaguna masjid IMAAM Center pada Sabtu, 14 Mei tahun lalu mengundang minat umat muslim maupun non-muslim untuk ikut berpartisipasi atau bahkan hanya sekedar mencicipi kuliner tanah air di negara adidaya ini. Di momen Festival Ramadan pula kaum muslimin berkesempatan memperkenalkan pada warga setempat tentang Ramadan dan nilai-nilai apa saja yang terkandung di dalamnya. Dengan adanya acara semacam ini diharapkan masyarakat non-muslim di sekitar komunitas dapat memahami arti Islam sebenarnya yang ternyata berbeda dari apa yang selalu dihembuskan oleh media.

Pertukaran Da’i

Pengutusan da’i atau imam tarawih bukan hanya terjadi di tanah air, namun juga di negeri Paman Sam. Persis sebegaimana Rasulullah Saw. mengutus para sahabat ke pelbagai penjuru negeri untuk berdakwah, tradisi kenabian ini turun-temurun dilestarikan dalam masyarakat muslim di Amerika. Sudah bukan rahasia bahwa berbagai lembaga keislaman dan boarding school sejak dahulu telah banyak menelurkan para penghafal al-Qur’an yang diharapkan bisa menjadi pendakwah di komunitas muslim yang lebih luas. Salah satu boarding school yang rajin mempersiapkan dan mengutus murid-muridnya adalah Darul-Uloom yang terletak di kota metropolitan New York. Lembaga keislaman yang dipresideni Michelle Olievery ini telah menghasilkan puluhan huffadz yang setiap tahunnya diutus untuk mengisi kajian masjid di berbagai state di Amerika selama Ramadan.

Salah satu imam muda yang kami kenal baik selama ini yaitu brother Junayd Ahmed. Lulusan Darul-Uloom New York yang sekarang sedang menjalani studi S1 di Islamic University of Madinah ini rutin diutus ke California untuk mengimami tarawih dan qiyamullail selama Ramadan. Pemuda asal Bangladesh berkebangsaan Amerika ini berhasil menjadi hafidz al-Qur’an di usia 18 tahun. Setelah lulus dari Darul-Uloom pada 2013, ia sering dipercaya untuk menjadi imam di komunitas lain. Begitu pun IMAAM Center, meski belum mempunyai kandidat untuk dikirim, namun komunitas besar ini rutin mendatangkan da’i muda dari kota lain. Brother Ifdal Yusuf dari Houston, Texas ditugaskan oleh lembaga tempatnya belajar untuk menjadi imam dan penceramah Ramadan di IMAAM Center tahun ini.

Baca Juga:   Zakat Fitrah di Awal Ramadhan

Non-muslim Ikut Berpuasa

Sebagian besar lembaga pendidikan di Amerika Serikat baik sekolah menengah atas (high school) maupun universitas (college) pada umumnya memiliki badan kemahasiswaan yang memfokuskan diri pada pelayanan keagamaan. Salah satu program kemahasiswaan yang dimiliki oleh para pelajar muslim di tingkat akademisi ialah Muslim Student Association (MSA). Setiap universitas bergengsi baik negeri maupun swasta dapat dipastikan terdapat MSA dalam struktur kampus. Sebab tak dapat dipungkiri persentasi pelajar muslim di tiap institusi akademis semakin meningkat setiap tahunnya. Para pelajar muslim mempunyai peran yang besar dalam menyebarkan pemahaman murni Islam di saat banyak isu miring dihembuskan media, dan insan intelektual adalah salah satu sasarannya.

Tidak ada bedanya dari komunitas Islam lainnya, para pelajar atau mahasiswa muslim pun menggunakan momen Ramadan untuk membuka dialog antar agama dengan sebayanya. Ketika banyak kawan non-muslim mempertanyakan kenapa ia tidak makan dan minum sepanjang siang, maka saat itulah pelajar muslim dapat memperkenalkan Ramadan pada mereka. Bahkan di Mission High School San Francisco, California ada beberapa guru yang ternyata penasaran apa itu puasa dan pada akhirnya mencoba berpuasa. Kendati merasa payah saat pertama kali menjalaninya, mereka merasakan kenikmatan tiada tara ketika waktu berbuka puasa. Namun karena mereka tidak menjalaninya karena iman pada Allah, maka mereka setidaknya hanya mendapatkan satu dari dua kebahagiaan yang dijanjikan Nabi saw dalam sebuah hadis riwayat al-Bukhori dan Muslim; “Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Namun lain cerita di komunitas muslim Indonesia; tradisi mengajak iftar para pemuka agama rutin dilaksanakan tiap tahunnya di aula masjid IMAAM Center. Dengan mengundang para Imam, Pendeta, Rabi (pemuka Yahudi) dan pemuka agama lain merupakan agenda tahunan yang selalu dilaksanakan secara hikmat, terbuka dan penuh kekeluargaan. Salah satu upaya kaum muslimin dalam “membersihkan” nama Islam yaitu dengan membangun komunikasi lintas agama dan pemikiran. Dengan begitu orang-orang sinis yang awalnya anti-Islam, perlahan mengetahui esensi murni agama yang lahir 1400-an tahun silam dan akhirnya menghormati kaum muslim sebagaimana mestinya dalam kehidupan masyarakat majemuk.

 

Ramadan untuk Semua

Datangnya Ramadan ternyata bukan hanya dirasakan manfaatnya oleh kalangan muslimin Amerika saja, namun juga para pemeluk agama lain. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam ayat yang menyertai kewajiban berpuasa, “syahru romadhona-lladzi unzila fiihi-l-qur-aanu huda-llinnaasi”; dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa keagungan bulan suci Ramadan tidak hanya berlaku bagi kaum muslimin, melainkan juga bagi seluruh umat manusia bahkan seluruh alam.

Written by H. Zia Ul Haramein
Khadim Ma'had Darus Sunnah International Institute for Hadith Sciences Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.