Relevansi dan Pentingnya Metode Dakwah Nabi dalam Membangun Umat

Majalahnabawi.com – Napak Tilas Pandangan Kiai Ali Mustafa dalam Menyikapi Fenomena Hijrah dalam Masyarakat. Agaknya jika boleh dibilang secara garis besar, tulisan-tulisan karangan Kiai Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) sering menitik beratkan pada argumen-argumen beliau yang mengkritik realita kehidupan bermasyarakat yang ada. Tentunya argumen-argumen tersebut mempunyai rujukan kitab-kitab yang memiliki standar ilmiah (mu’tabar). Sehingga menjadikan tulisan beliau tepat pada sasaran permasalahan yang dituju. Hal demikian masih ditunjang dengan metode penulisan dan bahasa beliau yang sistematis sedemikian rupa hingga tersampaikan pesan yang memang ingin disampaikan.
Dalam buku “Sejarah dan Metode Dakwah Nabi”, Kiai Ali lebih mengkritisi fenomena yang berkembang pada masyarakat tahun 80-an di kalangan dua kelompok yang menurut beliau sangatlah berbeda antara satu dengan lainnya, kelompok dai atau mubalig dengan artis. “Dunia dakwah adalah tuntutan, sedangkan dunia hiburan adalah tontonan,” tulisnya untuk menggambarkan kedua kelompok ini.
Banyak sekali dalam permasalahan antara kedua kelompok ini yang saling berkebalikan. Pada realita saat itu, ada banyak artis yang mendadak menjadi sosok dai bahkan kiai yang mendakwahkan perintah agama. Padahal selayaknya yang kita ketahui bersama bahwa mereka yang bergelut pada bidang tersebut harus memiliki kapabilitas yang konkret antar fan berbagai ilmu, tak terbatas pada ilmu berbicara di khalayak umum namun juga sesuatu apa yang tersampaikan dalam pembicaraannya tersebut, yang kalau boleh tersebut adalah pengetahuan agama.
Dai Berdampingan dengan Artis
Sedangkan di lain sisi, banyak fenomena dai bahkan kiai yang hidup berdampingan dekat dengan para pelaku panggung hiburan. Satu sisi hal tersebut dapat mengangkat popularitas dai-dai maupun kiai yang bisa melebar cakupan dakwahnya. Lain sisi, hal ini sedikit demi sedikit mengikis dan merubah kehidupan kiai yang awalnya sederhana menjadi tampil mewah dengan segala keglamorannya. Mereka yang sudah terkontaminasi akan hal ini biasannya terkuras kepekaan sosialnya, memilah-milih golongan sasaran dakwahnya, bahkan hingga memasang tarif untuk sesuatu yang sudah menjadi kewajibannya.
Titik yang membuat heran Kiai Ali dalam permasalahan ini adalah di mana kedua belah pihak saling membenarkan perilakunya dan menganggap bahwa hal yang mereka lakukan sah-sah saja, alias benar dalam rangka berdakwah. Artinya perbuatan tersebut memiliki petunjuk dalam al-Quran dan tuntunan dari Sang Nabi pembawa risalah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Berangkat dari fenomena yang terjadi dan mendasari beliau menulis yang kala itu terjadi pada tahun 80-an, nampaknya fenomena ini kembali terjadi lagi pada akhir-akhir tahun ini. Kita mendapati banyak artis-artis maupun publik figur hijrah yang entah dari semula mantan anak band, politisi, atau sebaliknya yang mendadak menjadi dai atau ustaz dadakan. Bahkan tak sedikit dari mereka yang menjelaskan permasalahan kaitannya dengan hukum atau pandangan agama ketika media tertentu mewawancarainya, yang sudah pasti dengan “pengalaman” agama mereka yang sangat minim.
Ustaz Dadakan
Tak sedikit pula muncul berbagai ustaz dadakan yang tak jelas dari mana latar belakang pendidikan mereka serta bagaimana kapabilitas mereka dalam hal beragama. Kebanyakan dari mereka – sependek penulis menilai, lebih cenderung layak dengan sebutan “Motivator” ketimbang “Ustaz” atau “Dai”. Sesekali mengutip al-Quran maupun Hadis tak lantas membuatnya layak mendapat predikat sebagai pendakwah. Menimbang pula minimnya wawasan keislaman yang mereka ngerti dan sedikitnya pembelajaran agama mereka. Ini juga sebagai bentuk kehati-hatian jikalau apa yang mereka ucapkan nantinya terasumsi sebagai fatwa di tengah masyarakat umum dan khawatir menimbulkan perpecahan jika tak selaras dengan pandangan agama yang sebenarnya.
Dari kerangka pengantar di atas, Kiai Ali berusaha menghadirkan bagaimana sebenarnya sejarah dan metode dakwah Nabi dalam membangun umat. Beliau memaparkannya dengan begitu detail dan jelas beserta dalil-dalil yang kuat dan ilmiah dari kitab-kitab yang telah teruji keilmiahannya. Beliau juga menyodorkan beberapa pertanyaan yang krusial menyangkut permasalahannya ini dengan metode-metode dakwah nabi.
Inilah semua gambaran asal usul penulisan buku “Sejarah dan Metode Dakwah Nabi”. Semoga yang sedikit ini dapat menjadi sebuah pengantar bagi siapa yang ingin membacanya.