Sudah sering kita dengar bahwa sahabat Nabi Saw. semuanya bersifat adil. Oleh karenanya, tentu sahabat tidak mungkin memalsukan Hadis Nabi. Hal tersebut dengan mudah diterima begitu saja oleh kebanyakan orang, tanpa tahu alasannya.

Sehingga ketika ada segelintir orang yang mempertanyakan mengapa sahabat sudah diklaim seluruhnya sebagai orang yang adil, kita tidak tau alasannya. Padahal adanya istilah “الصحابة كلهم عدول” bukan semata-mata tanpa alasan.

Sebagaimana kita ketahui, menurut mayoritas ulama Hadis, para sahabat seluruhnya memiliki kredibilitas (sifat-sifat al-‘adalah) sebagai perawi Hadis sehingga tidak ada seorangpun di antara para sahabat yang dituduh sebagai pendusta atau pemalsu hadis.

Hal ini menyebabkan ilmu jarh wa ta’dil tidak berlaku di tingkatan sahabat. Penelitian terhadap pribadi rawi sebagai transmitter hadis seketika berhenti (tawaqquf) ketika sampai pada sahabat.

Sudah Dijamin oleh Allah dan Rasul-Nya

Para ulama kritikus Hadis tidak pernah meneliti kredibilitas sahabat karena kredibilitas mereka sebagai penerima dan penyampai hadis Nabi Saw sudah terjamin. Adapun dalil yang menunjukan rekomendasi Allah dan Rasulullah terhadap sahabat adalah Surah Ali-Imran ayat 110, yang artinya:

“Kamu semua adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia”.

Dalam buku Kritik Hadis karya KH. Ali Mustafa Yaqub dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan ‘kamu semua’ dalam ayat itu adalah para sahabat Nabi seluruhnya, karena merekalah orang-orang yang diajak bicara (mukhatabin) langsung dengan ayat itu.

Sementara Rasulullah juga tidak sedikit menyanjung dan memuliakan para sahabatnya. Di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Jami’ shahihnya, Rasulullah Saw., bersabda:

خير الناس قرني

“Manusia yang terbaik adalah generasi yang hidup bersamaku”,

Para sahabat adalah generasi yang dididik langsung oleh Nabi Saw. Sebagaimana dapat kita perhatikan bahwa watak dan perilaku manusia yang dididik terus-menerus oleh pendidikan agama yang baik dan benar, akan melahirkan manusia yang berakhlak mulia dan memperkecil kemungkinan ia untuk berbuat dosa dan salah.

Apalagi yang mendidik itu adalah Nabi sendiri. Maka merupakan suatu keniscayaan bagi para sahabat untuk mendapatkan predikat generasi terbaik di antara generasi-generasi yang datang berikutnya.

Selain itu, sahabat adalah jembatan penghubung antara Rasulullah dengan umat setelahnya, mulai dari tabiin, lalu atba’ tabiin, dan seterusnya hingga ajaran Islam bisa sampai pada kita sekarang ini. Maka, dengan rekomendasi langsung dari Allah dan Rasul-Nya inilah yang membuat para sahabat disepakati untuk tidak perlu diteliti lagi kredibilitasnya.

Baja Juga  Telaah Hadis Suara Perempuan Adalah Aurat

Lalu apakah ada alasan lain yang datang dari diri sahabat itu sendiri yang dapat memperkuat terjaminnya kredibilitas mereka? Berikut adalah 3 alasan mengapa tidak mungkin/tidak memungkinkan bagi para sahabat untuk memalsukan Hadis:

  1. Sahabat sangat mencintai Rasulullah

Sahabat adalah generasi yang membersamai Nabi Saw. Mereka menjadi saksi perjalanan hidupnya dan kecintaannya kepada Rasulullah sudah tidak dapat disangsikan lagi. Begitupun sebaliknya, Nabi sangat mencintai dan memuliakan para sahabatnya. Sehingga banyak sekali Hadis Nabi yang berbicara tentang keutamaan para sahabat di atas manusia lainnya.

Bukti kecintaan sahabat kepada Rasulullah dapat tercermin dari besarnya pengorbanan sahabat untuk membantu beliau dalam menegakkan syariat Islam di muka bumi. Dengan cinta, pengorbanan bukanlah suatu hal yang berarti, bahkan berkorban adalah bukti dari kecintaan itu sendiri.

Salah satu bukti kecintaan sahabat adalah mereka berani berhijrah padahal Rasulullah tidak menjamin apapun untuknya kecuali hanya keridhaan dan pahala dari Allah Swt. Mereka rela meninggalkan tempat tinggalnya, semua harta bendanya, bahkan keluarganya yang bukan muslim, lalu pergi berhijrah bersama orang asing yang tidak menjamin apapun untuknya.

Mereka tidak diberi jaminan tempat tinggal baru, ataupun pengganti harta bendanya yang sudah ia tinggalkan. Jika bukan karena besarnya kecintaan sahabat kepada Rasulullah dan keimanannya kepada Allah Swt, maka tidak mungkin sahabat melakukan itu semua. Bukti lain dari kecintaan sahabat adalah mereka rela berperang di jalan Allah, padahal tidak sedikit dari mereka yang berperang melawan bapaknya atau saudaranya sendiri.

  1. Sahabat sangat takut akan dosa

Para sahabat adalah orang-orang yang paling takut akan dosa. Sampai-sampai ada beberapa sahabat menyerahkan diri untuk dirajam karena telah berzina, saking takutnya akan dosa. Salah satunya yaitu Maiz bin Malik yang menyerahkan dirinya kepada Rasulullah. Beliau memastikan dengan menanyakan berkali-kali kepada Maiz, dengan maksud Rasulullah tidak hambanya mendapat siksa.

Namun karena rasa taatnya kepada Nabi dan takut terhadap dosanya. Maiz meyakinkan Rasulullah untuk merjamnya demi menegakkan hukum Allah atasnya dan membersihkan dosa-dosanya.

Baja Juga  Tiga Perkara Sunnah Ini Lebih Utama dari Perkara Wajib

Ini hanyalah satu dari sekian banyak bukti besarnya rasa takut sahabat akan dosa. Dengan rasa takut yang besar akan dosa inilah para sahabat tidak mungkin berani mengkhianati Rasulullah dengan membuat berita bohong atasnya.

Apalagi ditambah dengan adanya ancaman neraka dari Rasulullah sendiri bagi orang yang berkata bohong atas namanya. Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka kelak posisinya di neraka,” (HR. Ibnu Majah)

Hal ini tentu memperkuat sahabat untuk berhati-hati dalam menyampaikan sesuatu dari Nabi Saw. Bahkan saking hati-hatinya, tidak jarang sahabat mengecek ulang Hadis yang baru ia dengar dari seorang sahabat dengan menanyakannya kepada sahabat yang lain. Maka jangankan sengaja berbohong atas nama Nabi, menyampaikan hadis yang benar dari Nabi pun sahabat sangat berhati-hati.

  1. Memiliki kontrol sosial yang kuat

Rasulullah ibarat selebritis yang terkenal dan diidolakan semua orang pada masa itu. Rasulullah adalah orang yang sangat dikagumi dan memiliki banyak penggemar atau followers. Orang yang segala tingkah laku, ucapan, kebiasaan, sifat, maupun kegemarannya menjadi pusat perhatian dan diikuti oleh semua orang. Maka jika ada orang yang membuat hoak alias Hadis palsu atas nama Nabi, akan dengan mudah terdeteksi oleh semua orang.

Dikarenakan sangat ketat dan kuatnya kontrol sosial di kalangan para sahabat pada masa itu, maka para sahabat tidak mungkin berani untuk membuat Hadis palsu. Kalaupun seandainya hal itu terjadi, seketika akan langsung dikoreksi atau diketahui kebohongannya dengan mudah oleh sahabat yang lain.

Itulah beberapa alasan mengapa sahabat tidak mungkin memalsukan Hadis. Kredibilitas mereka pun sudah disepakati oleh jumhur. Yang perlu digarisbawahi, istilah adil sendiri bukan berarti bersih dari dosa, karena semua orang pasti pernah melakukan dosa, tak terkecuali sahabat. Tapi adil itu adalah keadaan dimana seseorang tidak mungkin memalsukan Hadis. Dan dalam konteks sahabat sendiri, kredibilitasnya tercermin dari besarnya rasa cinta mereka kepada Rasulullah dan rasa takutnya akan dosa, apalagi ditambah dengan adanya kontrol sosial yang ketat di kalangan para sahabat.

Wallahu ‘alam.