Sekilas Hadis Tentang Melawak

Majalahnabawi.com – Ada satu hadis menarik yang saya temukan saat membuka kitab Fath al-Mu’in. Hadisnya tidak terletak pada Fath al-Mu’in, melainkan tertulis di Hasyiyah-nya; Kitab I’anah at-Thalibin dengan redaksi:

مَنْ تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ يَضْحَكُ بِهَا جُلَسَاؤُه يَهْوِي بِها في النَارِ سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا

Artinya: “Barang siapa yang mengucapkan perkataan yang membuat sahabatnya tertawa, maka dia akan masuk neraka selama tujuh puluh tahun sebab hal tersebut.”

Sebelumnya, hadis ini dikemukakan oleh Syekh Satho ketika menjelaskan tentang hal-hal yang dapat menghilangkan muru’ah atau wibawa seseorang. Salah satunya adalah banyak melawak dan membuat teman duduknya tertawa. Syekh Satha menjabarkan bahwa melawak dapat menghilangkan wibawa ketika si pelawak memang berniat untuk membuat tawa temannya sejak awal. Berbeda halnya jika tabiat orang tersebut memang suka melawak.

Beberapa kitab syarah Minhaj at-Thalibin juga mengutip hadis di atas. Sebagian bahkan memahami bahwa hadis ini merupakan dalil keharaman atas banyak melawak dengan kisah-kisah. Meski tetap terdapat catatan. Ketentuan keharaman tersebut berlaku bagi mereka yang rela menciptakan kisah palsu demi membuat orang lain tertawa. (Tuhfah al-Muhtaj :225/1)

Redaksi Lain

Namun demikian, saya belum menemukan hadis tersebut dengan redaksi yang sama persis berada di dalam kitab-kitab tafsir. Ada beberapa hadis yang memiliki makna serupa dengan hadis di atas, namun dengan redaksi yang berbeda, semisal:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ

Artinya: “Seseorang yang mengucapkan perkataan tanpa melihat adanya bahaya di dalamnya, maka dia akan masuk neraka selama tujuh puluh tahun disebabkan hal itu”. (HR. At-Tirmidzi no. 2314 )

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ القَوْمَ فَيَكْذِبُ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Artinya: “Celakalah orang yang bercerita untuk membuat orang tertawa, tetapi ia kemudian berdusta, celakalah dia, celakalah dia. (HR. At-Tirmidzi No. 2315)

Oleh Imam at-Tirmidzi kedua hadis ini dikumpulkan dalam satu sub-bab berjudul  مَنْ تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ يُضْحِكُ بِهَا النَّاس (Seseorang yang mengucapkan perkataan yang membuat orang lain tertawa). Sementara sub-bab ini berada di naungan bab zuhud.

Kesimpulan

Sepertinya hadis-hadis di atas memberikan sebuah kesimpulan sementara bagi saya. Terdapat beberapa poin terkait hukum mereka yang berbicara dengan tujuan melawak. Pertama, perkataannya sejak semula memang disengaja untuk melawak, dan memancing tawa. Jika ia terus menerus melakukan hal ini, tentu akan memiliki dampak yang besar bagi para pendengar. Sementara bagi dirinya, lisannya akan tersibukkan dengan kalimat-kalimat yang melalaikan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.;

إنّ مِنْ حُسْنِ إسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Artinya: “Termasuk dari keistimewaaan keislaman seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak ada gunanya. (HR. At-Tirmidzi No. 2317)

Kedua, tidak berpikir sebelum berbicara. Tidak memikirkan dampak dari perkataan yang diucapkan, membuat seseorang mengucapkan sesuatu semaunya. Ketiga, Berdusta. Untuk poin terakhir ini tentu telah diketahui bersama. Secara tegas, Islam melarang pemeluknya untuk berbohong. Wallahu a’lam.

Similar Posts