Amaliyah

Sepuluh Hari Akhir Bulan Ramadhan dan Malam Lailatulkadar

Majalahnabawi.com – Salah satu keistimewaan yang ada di dalam bulan Ramadhan adalah adanya momen yang sudah sering kita dengar berupa lailatulkadar (penulisan tersebut merupakan bahasa baku dari bahasa Indonesia).

Banyak para ulama mencoba memprediksi di mana kah letak laitlatulkadar ini. Abuya KH. Abdurrahman Nawi di dalam kitabnya, menukil informasi yang terdapat di dalam kitab I’anah al-Thalibin yang di dalamnya dijelaskan bahwa Imam al-Ghazali beserta ulama lainnya berpendapat bahwa lailatulkadar dapat diketahui dari hari awal pertama kali Ramadhan berada.

Berikut adalah rincian dari penjelasan yang dimaksud:

1. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Minggu atau Rabu, maka lailatulkadar akan jatuh pada tanggal 29 Ramadhan.

2. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Senin, maka lailatulkadar akan jatuh pada tanggal 21 Ramadhan.

3. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Selasa atau Jumat, maka lailatulkadar akan jatuh pada tanggal 27 Ramadhan.

4. Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Kamis, maka lailatulkadar akan jatuh pada tanggal 25 Ramadhan.

5. Yang terakhir adalah jika awal Ramadhan jatuh pada hari Sabtu, maka lailatulkadar jatuh pada tanggal 23 Ramadhan.

Dari kelima pembagian di atas maka kita dapat memprediksi bahwa lailatulkadar pada bulan Ramadhan tahun ini adalah jatuh pada tanggal atau pada malam ke-27. Hal ini dikarenakan bahwa awal Ramadhan pada bulan Ramadhan tahun ini jatuh pada hari Selasa.

Namun yang perlu digarisbawahi adalah bukan berarti kita tidak mempedulikan malam-malam selain tanggal yang telah diketahui tersebut, akan tetapi dianjurkan bagi kita untuk meningkatkan ibadah Ramadhan kita di hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Hal ini persis seperti apa yang telah Rasulullah Saw., ajarkan bahwa menjelang sepuluh akhir bulan Ramadhan, Rasulullah Saw., mengencangkan sarungnya sebagai bentuk ekspresi semangat dan keseriusan ibadah beliau di hari-hari terakhir bulan Ramadhan, selain itu beliau juga mengajak para istri-istrinya untuk beribadah di hari-hari tersebut. Hal yang demikian itu dapat kita cermati dalam hadis yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah yaitu:

Baca Juga:   Malam Nisfu Sya’ban dalam Tinjauan Agama dan Tradisi

 عن عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ الْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Aisyah bahwasannya ia berkata bahwa Rasulullah Saw., ketika memasuki hari yang sepuluh maksudnya adalah sepuluh hari akhir bulan Ramadan, maka ia menguatkan kainnya dan menghidupi malam-malamnya serta membangunkan para keluarganya (untuk bersama-sama beribadah). (Muttafaq Ilaih)

Selain itu juga Rasulullah juga memberikan informasi kepada umatnya bahwa lailatulkadar ada di sepuluh hari akhir bulan Ramadhan.

(تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ (رواه البخاري

Carilah lailatulkadar pada sepuluh hari akhir bulan Ramadhan“. (HR. al-Bukhari)

Selanjutnya terdapat hadis yang lebih spesifik lagi menjelaskan bahwa lailatulkadar jatuh pada malam-malam ganjil pada sepulu hari akhir bulan Ramadhan.

(تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ (رواه البخاري

Carilah lailatulkadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari akhir bulan Ramadhan“. (HR. al-Bukhari)

Semoga di hari-hari akhir bulan Ramadan ini, kita dapat meningkatkan ibadah kita, khususnya dapat mendapatkan keistimewaan lailatulkadar. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.