Silaturahmi Lebaran vs Menjaga Kewarasan Mental: Antara Memaafkan dan Menjaga Diri

Majalahnabawi.com – “Sudah kerja di mana sekarang? Kapan nikah? Kok gemukan? Kapan nyusul punya anak?” Kalimat-kalimat ini mungkin terdengar biasa saat Lebaran, bahkan sering orang anggap sebagai bagian dari keakraban. Namun bagi sebagian orang, pertanyaan-pertanyaan itu justru terasa seperti tekanan yang datang berulang setiap tahunnya. Lebaran yang seharusnya menjadi momen kembali ke fitrah, dalam praktiknya tidak jarang berubah menjadi ruang yang melelahkan secara mental.
Pentingnya Silaturahmi dan Sikap Memaafkan
Ajaran Islam sangat menganjurkan silaturahmi. Rasulullah Saw. bersabda:
عَنْ أَنَس بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya (jejak peninggalannya), maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Al-Qur’an juga menegaskan pentingnya sikap memaafkan:
وَلَا يَأْتَلِ اُولُوا الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۖوَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan serta berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)
Nilai memaafkan inilah yang menjadi landasan dalam membangun hubungan sosial yang harmonis, khususnya dalam tradisi silaturahmi saat Lebaran.
Adab Berinteraksi: Berkata Baik atau Diam
Namun, silaturahmi bukan sekadar masalah kehadiran, melainkan juga perihal cara menjaga interaksi sesuai adab. Rasulullah Saw. telah mengajarkan:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ :قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari)
Dalam konteks ini, tidak semua “basa-basi Lebaran” merupakan hal baik. Ada kalanya ucapan tersebut justru memasuki wilayah pribadi yang sensitif, bahkan menimbulkan luka secara tidak sengaja. Silaturahmi seharusnya menjadi ruang yang menenangkan, bukan tempat melontarkan pertanyaan yang menyentuh ranah pribadi tanpa empati. Ketika lisan tanpa penjagaan, silaturahmi kehilangan maknanya dan justru berpotensi melukai serta memicu ketidaknyamanan.
Menjaga Diri dari Tekanan Psikologis
Di sisi lain, Islam juga menegaskan pentingnya menjaga diri dari segala bentuk mudarat, termasuk tekanan mental:
وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
“Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tanganmu sendiri, dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Baqarah: 195)
Bahkan kaidah fikih pun menegaskan, bahwa interaksi sosial dalam silaturahmi tidak boleh memicu lahirnya luka, baik secara fisik maupun psikologis.
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain.”
Meninjau Kembali Esensi Silaturahmi
Dalam realitas masyarakat, silaturahmi Lebaran kerap berubah menjadi tekanan sosial. Seolah setiap orang harus datang, harus saling mengunjungi, harus bersalam-salaman, harus ramah, harus menjawab semua pertanyaan apa pun bentuknya. Padahal, esensi silaturahmi adalah menyambung hubungan, bukan sekadar memenuhi ekspektasi sosial.
Lebaran seharusnya menghadirkan ketenangan bukan kecemasan, menjadi ruang untuk memulihkan bukan melelahkan. Memaafkan tidak cukup dengan berjabat tangan, tetapi juga dengan menjaga lisan dan menghargai batasan orang lain. Mungkin sudah saatnya kita meninjau kembali cara bersilaturahmi, bukan sekadar hadir dan berbasa-basi tetapi juga membawa kepekaan terhadap batasan pribadi serta menghormati kondisi orang lain. Sebab pada akhirnya, kembali ke fitri bukan hanya soal bersih dari dosa, tetapi juga tentang tidak lagi menjadi sebab luka bagi sesama.
Hifz Al-Nafs: Menjaga Kesehatan Mental
Dalam kerangka ajaran Islam, prinsip hifz al-nafs (menjaga diri) menegaskan bahwa menjaga kesehatan mental merupakan bagian dari tanggung jawab manusia terhadap eksistensi kemanusiaannya, yang tidak hanya mencakup keselamatan fisik, tetapi juga aspek psikis. Segala hal yang berpotensi menimbulkan kerusakan atau tekanan berlebihan pada diri masuk dalam kategori yang wajib kita hindari. Oleh karena itu, silaturahmi tetap penting, namun tidak harus berlangsung dengan cara yang memaksakan diri atau mengabaikan kondisi psikologis.
Dari sini muncul pertanyaan penting: haruskah seseorang menjalani semua silaturahmi, bahkan ketika hal itu menyakiti diri sendiri? Jawabannya tidak sesederhana iya atau tidak. Silaturahmi tetap menjadi anjuran, tetapi esensinya adalah menyambung hubungan, bukan memaksakan kehadiran. Dalam kondisi tertentu, menjaga jarak, memilih interaksi yang sehat, atau membatasi pertemuan bisa menjadi pilihan yang lebih bijak.
Kesimpulan: Silaturahmi yang Menjaga Hati
Pada akhirnya, silaturahmi bukanlah tentang seberapa banyak pertemuan yang berlangsung, melainkan tentang bagaimana seseorang menjaga hubungan itu dengan adab dan empati. Dalam Islam, menjaga hubungan dan menjaga diri bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan berjalan beriringan. Karena itu, memilih cara bersilaturahmi yang lebih sehat, menjaga lisan, serta menghormati batasan orang lain bukanlah bentuk menjauh, tetapi justru bagian dari upaya menjaga nilai silaturahmi itu sendiri. Sebab, sebaik-baik hubungan adalah yang tidak hanya menyambung kedekatan, tetapi juga menjaga hati dari luka.