‹ Kembali ke Beranda
Opini

Taubat; Representasi Rahmat dari Allah

Oleh Ubaidilah·5 Januari 2024·32
Taubat; Representasi Rahmat dari Allah

Majalahnabawi.com – Ketika kita seharusnya sadar bahwa diri adalah manusia. Sementara manusia, tentu tidak luput dari kesalahan dan penuh kelalalian. Berangkat dari kesadaran tersebut, kami mengingatkan diri kami pribadi dan saudara sekalian sesama umat muslim agar senantiasa bertaubat kepada Allah Swt. Karena dengan jalan taubatlah dosa dan kesalahan hamba dapat diampuni olehNya. Tanpa taubat, manusia tetaplah menjadi makhluk lemah. Tiada daya menolak keburukan yang telah dilakukan, dan tak ada upaya untuk melakukan kebaikan. Semuanya dapat direalisasikan hanya dengan pertolongan Allah.

Taubat termasuk jalan pertama yang harus dilewati bagi Salik. Orang yang menjalani proses mengenal Sang Haqiqi. Taubat juga maqom (tingkatan) pertama para Thalib. Yakni bagi mereka yang menjalani proses pencarian kesejatian.

Tanda Orang yang Bersungguh- sungguh dalam bertaubat

Orang yang taubat memiliki beberapa tanda. Diantara tanda-tanda itu adalah mengalirnya air mata, banyak kekhusyu’an, sering berkhholwat (menyendiri untuk muhasabah atau evaluasi diri), melihat dan menilai apa saja yang telah dilakukannya selama ini, tafakkur untuk merencanakan hari esok, lusa hingga seterusnya dan memikirkan bagaimana nasibnya di akhirat. Tanda orang bertaubat juga, ketika ia bermaksiat di suatu tempat maka jiwanya tidak akan tenang kecuali telah melakukan ibadah di tempat tersebut. Sebab, tempat itu yang akan menjadi saksi perbuatannya di hari pembalasan kelak.

Diriwayatkan, Ketika Rasulullah membaca ayat; (يَوْمَ ئِذِ تُحَدِّثُ اَخْبَارَكُمْ)–Pada hari di mana mereka melaporkan laporannya–beliau lantas bertanya kepada para sahabat. “Kalian tahu, apa saja yang dilaporkannya itu?”. Para sahabat menjawab, “Allah dan rosulNya lebih mengetahui.” Nabipun bersabda, “Sesungguhnya laporan tersebut adalah persaksian terhadap seluruh hamba lelaki dan perempuan dengan apapun yang dilakukan dzahirnya. (Riwayat at-Turmudzi)

Sudah sepantasnya kita bersyukur karena Allah meluaskan pintu taubat dengan cara yang mudah. Dalam kitab Fawaidul-Mukhtaroh dipaparkan, bahwa cara taubat pada masanya Nabi Isa as itu berat. Penebusan dosa saat itu dilakukan dengan cara bunuh diri. Sebagaimana firman Allah, Maka bertaubatlah kalian kepada melakukan kebaikan, maka bunuhlah diri kalian [Al-Baqarah: 45]. (Fawaidul-Mukhtaroh: 411)

Tanda Diterimanya Taubat Seseorang

Salah satu faktor diterimanya taubat itu sedekah. Dijelaskan ada suatu kisah. Seorang ahli ibadah yang telah melaksanakan ibadah selama tujuh puluh tahun. Ternyata, dia melakukan suatu dosa besar sehingga amal-amalnya sejak awal sia-sia. Kemudian ada orang miskin lewat dan si ahli ibadah itu bersedekah sepotong roti. Orang miskin tadi akhirnya mendoakan si ahli ibadah sehingga catatan amal yang tadinya sia-sia kembali lagi. Selaras dengan hadits;

إِذا اَذْنَبْتَ ذَنْبًا فَعَجِّلْ في إثْرِهِ صَدَقَةً قَبْلَ أنْ تًنْزَلَ عَلَيْكَ عُقُوْبَةً.

Jika terlanjur melakukan dosa maka segeralah bersedekah sebelum ditimpakan balasan dosa tersebut.

Sahabat Sahl bin Abdillah pernah berkata,  “Taubat itu mengganti pekerjaan buruk dengan pekerjaan baik. Ia tidak akan sempurna kecuali disertai evaluasi diri di tengah kesepian, berpuasa, dan makan dengan makanan halal.

Imam Ghazali pernah mengajarkan tata-cara bertaubat. Beliau berkata berkata,  ‘Jika engkau ingin bertaubat, mandilah terlebih dahulu. Cuci bajumu. Setelah itu shalatlah dengan menjaga lima waktu. Kemudian letakkan dahimu di tempat sujud di tempat sepi, di mana tidak ada orang sama sekali kecuali hanya Allah yang melihatmu. Tempelkan wajahmu itu yang selama ini menjadi anggota badan paling mulia. Campurkan wajahmu itu dengan tanah dan air mata kesedihanmu.

Ingatlah seluruh dosa-dosamu, marahlah kepada diri sendiri, salahkan diri-sendiri, dan tanyakanlah dirimu sendiri “Apa yang kaunantikan? Apakah kau tidak akan berubah? Apakah kau tidak takut terhadap adzab Allah? tidakah kau takut akan murkaNya?’” Ingatlah hal itu terus-menerus dan angkat tanganmu. Menangislah sembari berkata kepada Allah yang Maha Pengasih, ”Duh Tuhanku! Hambamu saat ini telah kembali. Pelaku maksiat ini telah sadar. Hamba yang sering berdosa ini telah bertaubat. Maka terimalah hambamu ini dengan sifat PengasihMu. Pandanglah hamba dengan pandangan rahmat. Ampunilah semua hal yang telah kulewati. Jagalah hamba untuk masa yang akan kulewati. Sesungguhnya engkaulah yang Maha Pengampun”. Demikianlah Imam Ghazali menggambarkan suasana orang yang bertaubat hendaknya benar-benar menyesal dari kesadaran terdalam.

Allah Maha Pengampun

Ada satu kisah tentang keluasan Allah dalam penerimaanNya akan taubat seorang hamba. Kisah ini terdapat di kitab Roudul-Faiq: 306. Suatu ketika Rosulullah mengirim surat kepada Wahsyi untuk ajakan masuk Islam.

Wahsyi membalasnya, “Ya Muhammad, bagaimana engkau mengajakku masuk Islam. Sementara, engkau bilang bahwa orang yang membunuh, syirik, atau berzina akan ditimpakan adzab di hari kiamat dan dihinakan. Aku telah melakukan semua itu. Apakah masih ada keringanan bagiku?”

Allah kemudian menurunkan ayat; Kecuali orang yang bertaubat dan beramal dengan amal shalih [Al-Furqan: 70]. Ayat inipun dikirimkan kepada Wahsyi dan kawannya.

Wahsyi membalasnya, “Ini syarat yang begitu berat bagiku. Mungkin saja aku tidak mampu melakukannya”

Kemudian Allah menurunkan ayat; Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Ia mengampuni selain dosa itu terhadap siapapun yang dikehendakiNya [An-Nisa’]. Ayat ini dikirim lagi kepada Wahsyi dan kawannya.

Wahsyi membalas, “Setelah inipun aku ragu. Aku tidak tahu apakah diampuni atau tidak. Bukankah demikian?”

Kemudian Allah menurunkan ayat; Katakanlah wahai hamba-hambaku. Orang-orang yang pernah melampaui batas jangan berputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengampuni dosa seluruhnya [Az-Zumar: 53]. Lagi-lagi ayat dikirimkan kepada Wahsyi dan kawannya.

Wahsyi akhirnya berkata, “Iya. Inilah” Kemudian Wahsyi serta kawannya datang dan masuk Islam.

Para Muslimin saat itu bertanya, “Ya Rosulullah, apakah ayat ini terkhusus untuk dia saja atau kepada semua umat Muslim?” Nabi menjawab, “Untuk umat muslim seluruhnya”

Dari cerita tersebut, mari kita senantiasa mengharap pengampunan Allah yang begitu luas. Tidak layak bagi hamba merasa benar, lupa akan kesalahan, dan merasa kuat tidak membutuhkan ampunan Allah. semoga kita semua diampuni olehNya dan diberikan taufik-hidayah agar memiliki kesadaran sebagai seorang hamba yang bergelimang dosa. Amin.

اعوذب الله من الشيطان الرجيم

قَالُوْا تَاللهِ لَقَدْ اَشْرَكَ اللهَ عَلَيْنَا وَ إِنْ كُنَّا لَخَاطِئِينَ * قَالَ لَا تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُاللهُ لَكُمْ وَ هُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

Bagikan: