Connect with us
Klik di sini

Tradisi Pra-Ramadan Perspektif Hadis

Artikel Utama

Tradisi Pra-Ramadan Perspektif Hadis

Bangsa Indonesia, khususnya Jawa, merupakan bangsa yang memiliki tradisi seremonial. Hampir pada tiap peristiwa yang dianggap penting, baik yang menyangkut segi kehidupan seseorang, baik yang bersifat keagamaan atau kepercayaan, maupun yang mengenai usaha seseorang dalam mencari penghidupan, pelaksanaannya selalu disertai upacara, seperti upacara tingkeban, kelahiran, selapanan, tedak siten, khitanan, perkawinan, kematian dan lain-lain. Dalam bulan-bulan tertentu orang mengadakan upacara yang sifatnya keagamaan, misalnya, ruwahan, selikuran, sawasalan, besaran, suran, saparan, muludan dan lain-lain. Sedangkan di dalam usaha mencari penghidupan, terutama bagi golongan petani, dikenal upacara-upacara yang bersangkutan dengan bercorak tanam, seperti upacara wiwit, tandur, entas-entas, methik, bersih desa dan lain-lain.

Sifat seremonialitas tersebut terejawantahkan dalam berbagai ekspresi kehidupan bangsa Indonesia, tak terkecuali jika terjadi di bulan-bulan tertentu yang dinilai memiliki arti penting dalam lokus kehidupan masyarakat, tentu bulan tersebut menjadi lahan subur bagi diadakannya upacara baik yang sifatnya keagamaan maupun budaya. Karena itu wajar Niels Mulder mengatakan dalam bukunya Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional bahwa: “Kehidupan Jawa bersifat seremoniil. Orang selalu asik meresmikan keadaan melalui upacara.”

Selain upacara yang disebutkan di atas, ada tradisi unik yang merupakan ciri khas nusantara dan tidak ada di negara-negara Islam lainnya, yaitu tradisi penyambutan bulan Ramadan. Dalam kitab-kitab hadis, perayaan Islam hanya ada dua: Idul Fitri dan Idul Adha. Dengan demikian, penyambutan bulan Ramadan merupakan hasil karya cipta umat Islam nusantara dan khas indonesia dan tidak ada satupun teks agama yang menjelaskan prosesi penyambutan tersebut. Dalam bingkai yang agak puritan, tradisi penyambutan Ramadan ini bisa dibilang bid’ah meski perlu dipertimbangkan pula mana bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah. Karena itu, tulisan ini akan menyoroti beberapa tradisi pra-Ramadan dalam bingkai kesesuaianya dengan semangat Hadis nabi Muhammad SAW.

Kembali1 of 4

Related Post

Continue Reading
Klik di sini

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel Utama

Klik di sini
Klik di sini

Sering Dibaca

Topik

Arsip

To Top