Amaliyah, Artikel Utama

Tradisi Tahlilan Setiap Dua Malam Hari Raya

Penulis: Faiz Aidin · 2 min read

Majalahnabawi.comRasanya tradisi tahlil pada malam dua hari raya tidaklah menyalahi syariat dan bahkan mengandung nilai-nilai yang baik karena di dalam rangkaian acaranya semuanya mengandung pembacaan ayat-ayat al-Quran dan bacaan yang bagus.

Di beberapa masjid dan mushala di Jakarta, setiap setelah selesai melaksanakan shalat Isya pada malam dua hari raya, para warga berkumpul di masjid dan mushala mengumandangkan takbir untuk menjalankan sunah Nabi pada malam hari raya. Setelah takbir bersama, biasanya mengadakan tahlilan bersama, dengan dimulai mengirimkan hadlarat kepada para arwah yang mana sudah tertulis di kertas beserta amplop berisi uang seikhlasnya lalu dikumpulkan para warga kepada DKM. Biasanya tahlilan dimulai pada pukul 19.30 an dan ada juga dimulai pukul 20.30 yang dipimpin oleh empat sampai lima orang sesepuh mushala membacakan dan mengirimkan arwah yang tertulis di kertas.

Sekian banyak warga yang mengirimkan nama-nama arwah keluarganya, sehingga bisa sampai ratusan kertas, sampai pembacaa hadlarat itu  berlangsung selama satu jam-an lebih. Setelah pembacaan hadlarat, berlanjut kepada pembacaan surah al-Fatihah, al-Ikhlas 3x, al-Falaq, al-Nas, ayat Kursi masing-masing satu kali. Lalu pembacaan kalimat tahlil, shalawat, tasbih, istigfar. Semuanya dibaca dipimpin oleh seorang sepuh dan diikuti warga secara serentak sampai di akhir pembacaan doa.

Yang hadir biasanya adalah para bapak, remaja, dan anak-anak.

Setelah rangkaian acara berakhir, para hadirin makan santapan jasmani dari para donatur. Ada buah-buahan, ada sayur ketupat, ada sayur opor ayam, ada rendang daging, dan makanan lainnya. Semua makanan disumbangkan oleh para warga secara suka rela.

Nilai Keagamaan

Di malam dua hari raya adalah malam yang penuh rahmat dan ada pendapat yang menjadikan keduanya sebagai malam yang diijabahnya doa. Oleh karena itu, para sesepuh dan orang tua kita selalu melaksanakan tradisi tahlilan setiap malam dua hari raya.

Baca Juga:   Eksistensi Kitab Kuning di Era Disrupsi

Rasanya tradisi tersebut tidaklah menyalahi syariat dan bahkan mengandung nilai-nilai yang baik karena di dalam rangkaian acaranya semuanya mengandung pembacaan ayat-ayat al-Quran dan bacaan yang bagus. Tujuannya pun bagus yaitu sebagai ungkapan rasa syukur dan untuk mendoakan para keluarga yang sudah meninggal dunia. Allah menganjurkan kepada orang yang hidup untuk mendoakan orang-orang yang sudah meninggal dunia, karena orang yang meninggal itu sangat membutuhkan kiriman doa dari orang yang hidup, ibaratnya mereka orang yang tenggelam yang sangat membutuhkan pertolongan. Dalam al-Quran surah al-Hasyr ayat 10

وَالَّذِينَ جَآءُو مِن بَعدِهِم يَقُولُونَ رَبَّنَا اغفِر لَـنَا وَلِاِخوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بالإيمَانِ وَلَا تَجعَل فِىۡ قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ اٰمَنُوا رَبَّنَا اِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.”

Jadi, jelaslah bahwa tradisi tersebut sesuai dengan syariat. Daripada keluyuran naik motor dan bolak balik tidak jelas pada malam hari raya, lebih baik berbaur dengan masyarakat di masjid dan mushala untuk mengumandangkan takbir bersama dan tahlilan bersama.

Nilai Kebersamaan

Warga yang tinggal di sekitar masjid dan mushala tempat kami tinggal, biasanya hadir dan mengikuti tradisi tahlilan tersebut. Walaupun mereka tidak semuanya penduduk asli Jakarta, tapi mereka dari berbagai macam suku, daerah yang tinggal di daerah kami. Mereka rela mengobarkan waktu untuk berbaur bersama di masjid dan mushala guna membaca takbir dan tahlil bersama.

Hal tersebutlah yang membuat kebersamaan di kampung kami sangat terasa walaupun kami belum saling mengenal warga selain penduduk asli. Tapi dengan tradisi tersebut, kami bisa saling menyapa dan kenalan. Akhirnya para pendatang pun yang tinggal di daerah kami, mampu beradabtasi dan berabur mengikuti tradisi kampung kami, karena penduduk kampung kami sangatlah ramah dan mempererat serta mempertahankan tradisi baik yang sudah mendarah daging.

Baca Juga:   Kun Dukturon! Jadilah Doktor!

Kesimpulan

Ketika bermasyarakat, kita harus berbaur mengikuti tradisi baik mereka. Jika ada tradisi yang buruk, maka kita harus merubahnya dengan cara perlahan dan cara baik. Kita harus menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.

Berbaur dengan masyarakat dan terjun langsung dengan mereka tidak harus semua teori akademik diterapkan. Karena dunia nyata masyarakat sedikit berbeda terkadang dengan teori akademik. Oleh karena itu, kita harus menyesuaikan tradisi masyarakat yang baik.

Bagaimana tradisi masyarakat kalian pada malam dua hari raya?

Apakah kalian masih mau menyendiri? tidak mau berbaur dengan masyarakat?

Faiz Aidin
Dilahirkan tanggal 25 Juni 2000 di Jakarta Barat, anak ketiga dari lima bersaudara dari pasangan H. Muharifin dan Hj. Nurhayati, bertempat tinggal di jalan raya Kembangan, Kembangan Utara Rt 09/02 No. 83 Gang H. Naim, Kembangan, Jakarta Barat. Mahasantri Darus-Sunnah angkatan Auliya dan mahasiswa PAI FITK UIN Jakarta. Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.