pemikiran

Tulisan buat Kang Jalal

Penulis: Muhammad Dhiya Ulhaq · 1 min read

 

Tulisan buat Kang Jalal

Karya mu kami kenang Pak…..

majalahnabawi.com – Kang Jalal merupakan tokoh cendekiawan Muslim, ia lahir di Bandung pada 29 Agustus 1949 dan meninggal pada 15 Februari 2021 di kota tempat kelahirannya. Kang Jalal, disamping menjadi cendekiawan pembaharu Islam, ia pun menjadi tokoh politikus terkemuka PDI-P dan puncak karir politik nya ialah ketika ia terpilih menjadi anggota komisi VIII (agama dan sosial) periode 2014-2019.

Kang jalal, merupakan cendekiawan Muslim yang dibesarkan dalam Culture keberagamaan Nahdliyyin, kemudian ia aktif berperan dalam gerakan Muhammadiyyah, hingga akhirnya ia memutuskan untuk hadir bersilaturahmi dengan salah satu organisasi Syiah di Indonesia yang bernama Jamaah ahlu bait Indonesia pada awal tahun 2000-an.

Pada Minggu, 21 Maret 2020 lembaga Rasionalika membedah pemikiran Kang Jalal dalam buku nya yang berjudul “Islam Alternatif dan Islam Aktual”, disitu terdapat beberapa hal yang untuk menjadi bahan renungan bagi kita Kaum Muda yang berintelektual ala milenial.

“Kadang Kita terjebak pada Enteristik saja, tidak pada Interistik.” Yaitu, kita terjebak pada luar pembahasan nya saja, tidak pada akar terdalam inti dari pembahasan itu. Semisal, contoh sederhananya ialah Kita shalat masih karena menggugurkan kewajiban, bukan karena hati dan jiwa yang menggerakannya. Sehingga, jangan salah jika banyak orang yang shalat tapi masih berperilaku munkar (keji).

Kemudian, Kang Jalal dalam buku nya pun menyebut bahwa sunnah itu ada 2, yaitu: Sunnah hasanah dan sayyiah. Keduanya sama-sama baik, tapi hanya berbeda dalam masalah ego saja. Sunnah hasanah ialah “sunnah yang menggerakan pada kebaikan”, sementara sunnah sayyiah ialah “kebaikan individual, tanpa empati kepada masyarakat sekitar”.

Baca Juga:   Paham Radikalisme dan Solusinya

Oleh karena itu, Kang Yaufi memaparkan terkait dual hal sunnah tersebut, yaitu:

“Jangan ada egois dalam beragama”.

Oleh karena itu, Kang Yaufi pun memaparkan beberapa gagasannya tentang Agama sebagai berikut:

~ “Kalau Agama terlalu diformalkan, maka Kamu terlalu dangkal memahami Agama.”

~ “Agama itu sudah formal, maka jangan diformalkan.”

~ “Agama sebagai kontrol sosial, bukan polisi sosial.”

Artinya, beragama itu bukan berarti Kita menjadi polisi lalu lintas bagi cara beragama orang lain, akan terapi justru dengan beragama lah kita menjadi polisi sosial yang selalu hadir ketika Kaum al-Mustadafin (yang lemah) membutuhkan bantuan terhadap Kita.

Dan, satu hal yang sangat perlu Kita belajar dari sosok Kang Jalal ialah prinsip keterbukaan sebagai bahan membuat perubahan dan agungnya makna silaturahmi yang ia kemukakan. Silaturahmi dengan banyak hal kita lakukan, baik bersifat sosial, intelektual, maupun spiritual. Itu semua nya dapat kita lakukan, bukan hanya silaturahmi Verbal yang sering kita lakukan ketika hari raya saja.

Tulisan ini, saya tunjukan kepada almarhum Kang Jalal yang telah wafat tapi karya nya tetap bermanfaat. Semoga berkah, dan silaturahmi intelektual ini akan kami terus lakukan walau tempat dan waktu sudah memisahkan Kita. Semoga berkah, untuk almarhum Kang Jalal kami doakan agar berada disisi Allah Swt yang terbaik, bagaimana pun karya mu akan selalu kami kenang sebagai silaturahmi intelektual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.