cerpen islami

Ustaz Guru Tugas

Avatar Written by Fahmi · 6 min read

Majalahnabawi.com – Sawah luas yang membentang dipenuhi padi-padi hijau, mengelilingi suatu pedesaan. Tampak beberapa warga berlalu-lalang, menyusuri setapak jalan yang diapit persawahan. Ya, mereka siap bercocok tanam di sawah itu. Memang tak sedikit warga di sana yang memenuhi kebutuhan keluarga dengan bertani. Mungkin karena kegiatan yang turun-temurun dari nenek moyang mereka. Banyak pesantren, santri dan para ustaz yang berdomisili di desa ini.

Pondok Pesantren al-Hadi, adalah pondok pesantren yang sudah lama berdiri di tengah desa itu. Banyak sekali anak-anak dari para petani menuntut ilmu di sana. Pondok pesantren itu juga menarik guru tugas, yang dikirim dari pondok-pondok besar. Pastinya ilmu guru-guru tugas tersebut sudah matang, dan siap meluncur melayani masyarakat.

Di tahun ini, Ihsan, santri dari Pondok Pesantren al-Nur, akan terbang dan mendarat di permukaan desa itu. Mendidik dan mengasuh para santri. Ihsan adalah pemuda dengan postur tubuh yang sempurna dan wajah bersih, bisa dibilang tampan. Pula kacamata bulat yang modelnya ala Korea, menambah ketampanan bak anggota K-Pop. Banyak sekali sorot mata santriwati yang dilempar ke arahnya, ketika Ihsan keluar dari mobil di halaman madrasah. Saat itu, pendaftaran santri dibuka. Perempuan dengan kisaran umur 17 tahun bersama wanita paruh baya juga turut mendaftar, duduk bersebelahan, menunggu namanya dipanggil. Agaknya wanita itu adalah ibunya. Tatapan perempuan 17 tahun itu, masih saja meluncur ke arah Ihsan, dengan rasa yang sangat kagum akan ketampanan. Ihsan pun sadar, tatkala ia berjalan menuju jok mobil. Sekilas pandangan pria itu jatuh ke tanah. Ya, begitulah lelaki yang saleh.

Lirikan dan Harapan Wanita

Nampaknya Ihsan kesulitan saat membawa barang bawaannya. Seketika perempuan tadi lari ke arah Ihsan, berniat membantu pemuda itu. Entahlah, mengapa di dalam hatinya tak ada rasa ragu sedikitpun. Sepertinya ada rasa suka yang terselip di hatinya.

“Sini, kubantu,” kata perempuan itu, senyum sambil mengulurkan tangannya.

“Eh enggak usah, makasih,” ucap Ihsan menolak dengan lembut,  malah meminta tolong pada pak supir. Dia khawatir benih fitnah tumbuh di antaranya.

Senyuman manis yang terukir di bibirnya hangus seketika, menjadi manyun. “Ada aku, kok minta tolong ke supirnya sih,” Lina menggerutu. Itu adalah kali pertama mereka bertemu. Akankah mereka bertemu kembali?.

“Lina!,” Panggil ibu perempuan itu, seraya berisyarat dengan tangannya, supaya kembali. Perempuan itu pun bergegas kembali, menuju ibunya.

Kesan Santri Baru

Jarum jam telah menunjukkan angka 11. Kala itu juga semua santri wajib tidur. Lantaran sedari tadi mereka telah melaksanakan kegiatan pondok pesantren semata wayangnya, pasti tubuh mereka terasa lelah dan letih. Belum lagi jam 3 pagi mereka akan dibangunkan. Bagaimana dengan keadaan santri baru?. Ya, bisa ditebak. Tak sedikit dari mereka yang melelehkan air mata di atas tempat tidurnya. Merasakan kekangan di dalam tahanan suci.

Begitu pula dengan Lina. Perempuan remaja yang baru daftar pagi tadi. Hati kecilnya meronta-ronta ingin pulang. Wajah ayah, ibu, adik dan neneknya selalu terbayang di pikiran. Namun, semuanya luntur begitu saja ketika wajah Ihsan terlintas di pikiran. Entah kenapa, malam itu teringat lelaki yang ia temui tadi. Tiba-tiba kedua bibirnya pun tertarik, menjadi senyuman kecil. Ia senyam-senyum sendiri malam itu. Sekarang, jauh dalam relung hati Lina tersimpan rasa yang berbeda. Benar sekali, Lina sedang jatuh cinta.

“Woy, tidur!,” Ucap salah satu pengurus, sengit yang tengah mengontrol. Sontak dia terkejut, dan memejamkan mata seketika.

Aktivitas Sekolah

Mentari pagi mulai naik, sayup-sayup sinarnya mulai menggoda bunga-bunga untuk merekah. Kegalapan pun lebur menghilang sedikit demi sedikit. Hiruk pikuk santri semburat dari dalam masjid, usai melakukan wirid setelah shalat Subuh. Mereka pun kembali ke pemukiman masing-masing, guna bersiap untuk bersekolah.

Lina tampak sibuk bersiap-siap untuk pergi sekolah di hari pertamanya. Seragam busana kuning, dengan rok biru sudah bertengger di tubuh cantiknya. Tak lupa pula kerudung persegi, yang dilipat menjadi segitiga, ia kenakan di kepala, menambah paras wajah.

Wush… ujung kerudung terombang-ambing mengikuti alur angin. Lina berjalan melewati halaman pondok. Memandang sebentar hiruk pikuk santri, yang juga berangkat ke madrasah di seberang jalan. Ia pun melangkah ke utara, melewati gerbang, dan menyeberangi jalan. Madrasah al-Rasyid, madrasah yang didirikan untuk para santri yang berdomisili di Pondok Pesantren al-Hadi.

Baca Juga:   Kiai Ali Mustafa Yaqub [1]: Beliau di Pesantren dan Halaqah-Pengajian

Kriiing… suara bel menyeruak di penjuru madrasah. Para santri pun terlihat bergegas masuk ke kelas mereka masing-masing, begitu juga dengan Lina. Ia masuk ke ruangan yang bertuliskan nomer 4 di atas pintu. Kemudian ia memilih bangku yang paling belakang. Ya, entah kenapa bangku paling belakang yang sering direbutkan.

Perkenalan Wali Kelas

“Assalamualaikum,” pria berbaju putih, dengan songkok hitam di kepala dan jenggot yang tipis memasuki ruangan. Itu adalah Ustaz Ali. Ia adalah wali kelas Lina.

“Perkenalkan nama saya Ali, wali kelas kalian semua,” ucap Ustaz Ali.

“Di hari pertama ini, kita hanya mengisi waktu kita dengan perkenalan saja. Ustaz akan panggil satu persatu kalian menurut absen. Lalu perkenalkan diri kalian.” Lanjutnya.

Saat Lina dipanggil, lelaki tampan dengan berpakaian seperti Ustaz Ali, masuk ruangan. Ia adalah Ustaz Ihsan, guru tugas yang mengajar di sana. Entah, ada urusan apa dengan Ustaz Ali. Mereka berdua tampak berbincang serius di depan. Setahunya, Ustaz Ali adalah pengurus yang menangani guru tugas. Mungkin mereka berbicara seputar tugas untuk Ustaz Ihsan.

Belasan sorot mata tertuju pada pemuda itu, apalagi Lina. Senyuman tipis bertebaran di wajah-wajah seri santriwati. “Calon imamku” salah satu bisikan yang hampir terdengar. Sangat jelas sekali, Ustaz Ihsan sangat diidamkan para kaum hawa.

Tak lama di sana, Ustaz Ihsan keluar dari sana. Namun, tatapan Lina masih saja membuntuti sampai keluar. Tatapannya menembus ke kaca jendela. Sampai pada tempat di mana Ustaz Ihsan memasuki ruang. Ternyata kelasnya, tepat ada di depan kelas Lina.

“Woy, lihat apa kau!,” Sentak Ustaz Ali. Sontak Lina terkejut dan dirundung rasa malu yang sangat berat. Kemudian dia pun melanjutkan perkenalannya.

Pulang Sekolah dan Menunggunya

Tak terasa, jam pulang pun datang. Sengaja pulang cepat, karena hari pertama dan tak ada yang harus diajarkan. Semua murid tampak berdiri dan meninggalkan kelas. Namun, retina mata Lina menangkap kelas Ustaz Ihsan yang masih berlangsung. Ia pun membulatkan tekad untuk menunggu dan mengungkapkan sesuatu pada Ustaz Ihsan.

Tatkala Ustaz Ihsan keluar, Lina bergegas menyusulnya. “Ustaz,” panggil Lina. Spontan Ustaz Ihsan menoleh ke arah pemilik suara.

“Ya, ada apa?,” Tanyanya.

“Saya ingin menyampaikan sesuatu.” Kata Lina terbata-bata dengan hati yang terasa gempa. Semua rasa berbaur menjadi satu.

“Apa?.”

“Saya suka sama Ustaz,” pengakuan Lina. Begitu beraninya ia mengungkapkan cintanya begitu saja. Yang parah lagi. Lina mengungkapkan rasanya kepada seorang Ustaz. Entahlah, apakah di lubuk hatinya tak ada segelintir rasa malu, atau takut ditolak mentah-mentah?. Ya begitulah anak muda zaman sekarang, membayangkan akhir yang nyaman.

“Emmm, maaf apa yang kamu katakan?. Saya tidak mengerti,” jawab Ustaz Ihsan, lalu pergi begitu saja.

“Saya benar-benar suka sama ustaz.” Ucap Lina lagi, dengan suara yang agak keras. Ustaz Ihsan pun berhenti sejenak.

Ditolak Mentah-mentah

“Maaf, perjalanan saya masih panjang. Tolong jangan jadi penghambat jalan saya, lagi pula saya tidak mengenalmu,” kata Ustaz Ihsan, dan meneruskan perjalanannya.

Hati Lina terasa kecewa, sebab ditolak mentah-mentah. Dadanya terasa sakit, seolah ditusuk beribu-ribu duri. Baru kemarin saja Lina bertemu. Kemudian rasa itu singgah di hati Lina begitu saja. Lina pun menyimpannya. Sekarang rasa itu lebur menjadi puing-puing kecil. Rasa sakit ini, hanya datang sekali. Memang sebelumnya, banyak sekali pria di sekolah lama yang tertarik padanya. Kali ini ia ditolak mentah-mentah.

Sekarang Lina pulang ke kamar, dengan rasa sakit yang mendalam.

Berusaha Mendapatkan Cintanya

Seusai salat Isya, di masjid yang berada di antara pemukiman santri dan santriwati. Lina melewati pintu masjid dengan hati yang masih susah. Namun, begitu netranya menangkap Ustaz Ihsan. Deg, hati kecilnya mulai bangkit, ingin mengejar. Tetapi dia tahu, kalau akhir nanti akan ditolak lagi. Sorot matanya masih saja mengejar sang pujaan, sampai di titik suatu tempat. Ya, itu kamarnya yang tak jauh dari masjid. Sekilas otak Lina berputar, memikirkan cara yang lumayan jahat.  Itu semua hanya karena cinta yang sampai.

Baca Juga:   Membongkar Dinding Mading

Waktu berjalan begitu cepat. Semua kegiatan berjalan semata wayangnya. Jam 11:30 begitulah nomor yang ada di jam tangan digital Lina. Entah, mengapa ia tak tidur di waktu itu?, Apa yang ia akan lakukan?.

Perempuan berbaju hitam itu sekarang menuju masjid, tempat ia salat Isya tadi. Sampai di depan masjid, ia berjaga-jaga, khawatir ada yang membuntutinya. Masjid itu terdapat di antara permukiman santri dan santriwati. Hanya tempat itu yang menghubungkan antara keduanya. Namun, ada penjaga yang tepat berada di teras masjid. Tapi saat itu, sepertinya penjaga di sana dililit rasa kantuk, sesekali kepalanya jatuh dan bangun lagi.

Lina pun menerobos masuk ke halaman permukiman santri, saat penjaga itu menjatuhkan kepalanya. Ya, Lina pergi ke kamar Ustaz Ihsan dengan mengendap-endap.

“Ceklek… ” suara daun pintu dikuak. Pintunya tak dikunci. Lantaran kuncinya rusak, belum diganti.

Ustaz Ihsan tampak tengah salat di atas sajadah merah. Tatkala selesai salam, dia dikejutkan dengan Lina yang berada tepat di belakangnya.

“Ngapain kamu?,” Tanya Ustaz Ihsan, kaget.

“Menurut Ustaz?,” Tanya balik Lina, sembari tersenyum jahat.

“Tolong, keluar dari kamar saya!.”

Rencana Buruk

“Untuk apa?, Saya sudah bersusah payah masuk ke sini.” Ketusnya, seraya maju pelan-pelan. Badan Ustaz Ihsan sudah panas dingin, ditelan rasa khawatir, sambil mundur pelan-pelan. Entahlah, dicap apa namanya nanti?. Sungguh, saat itu tak ada lagi jalan keluar. Pintu ada di depan, tapi dihalang wanita jalang.

Sampai di ujung ruangan. Ustaz Ihsan sudah tidak bisa kemana-mana lagi. Tak ada lagi peluang. Semuanya sudah mentok. Namun, ada satu jendela yang mengarah langsung ke sawah. Hanya itu satu-satunya jalan keluar. Spontan dia membulatkan keputusan. Dia lompat ke jendela itu. “Bruk!” Dia pun jatuh di persawahan yang sangat gelap.

Lina lantas terlihat kesal, lantaran rencana yang dibentuk tak berjalan lancar. Akan tetapi pikirannya masih saja terlihat lebar. Kini bola matanya menangkap sehelai kain serban di cantolan, yang biasa dikalungkan di leher Ustaz Ihsan saat hendak ke masjid. Ya, Lina membawa serban itu, lalu pergi dari sana.

Dituduh Berbuat Keji

“Ini buktinya, Bu nyai.” Ucap Lina kepada gerangan tua di hadapannya, sambil menyodorkan sehelai serban.

“Baiklah, cepat panggil dia sekarang!,” Ucap Bu nyai, tegas.

Pagi itu, kantor pusat pondok pesantren digemparkan dengan sebuah berita absurd, yaitu hubungan ustaz dan muridnya. Tapi bisa saja ini terjadi. Yang anehnya lagi, si Lina memutar balikkan fakta. Ia mengaku kepada Bu nyai, bahwa tadi malam Ustaz Ihsan masuk ke kamarnya. Semua itu dibuktikan dengan sehelai serban.

“Assalamualaikum,” ucapan salam dari pria yang baru saja dighibah.

“Waalaikumsalam,”

“Duduk di sini,” lanjut Bu nyai sambil menunjuk ke sebuah kursi.

“Apakah benar, tadi malam anda menyelusup masuk ke kamar Lina?,” Tanya Bu nyai yang langsung to the point.

Deg, detak jantung Ustaz Ihsan terasa berhenti sejenak. “Apa yang telah diperbuat wanita ini?,” Batin Ustaz Ihsan, tak menerima.

“Sebenarnya dia yang masuk ke kamar saya,” jawab Ustaz Ihsan dengan nada halus.

Apa maksud anda?, Dan apa ini?.” Kata Bu nyai seraya mengangkat serban yang dibawa Lina tadi. Ustadz Ihsan pun terdiam, bola matanya terbelalak. Dia tak bisa berkata-kata lagi. Pasalnya dia tak punya bukti yang cukup kuat. “Bagaimana ini?, Apa yang harus saya lakukan, ya Allah?.” Batin pemuda itu.

Setelah itu aku tak tahu kelanjutannya. Sebab Ustaz Ihsan, pamanku, pulang ke rumah istrinya karena kemalaman.

Hikmah dari Cerita Di atas

Berdasarkan cerita di atas, penulis mengambil pelajaran di antaranya adalah harus berhati-hati ketika hidup di daerah lain, perempuan harus menjaga harga dirinya dan jangan ganjen, jangan terlalu berharap kepada perasaan cinta, mencintai seseorang biasa saja, dan jangan menghalalkan sesuatu yang haram. Mungkin masih banyak pelajaran yang dapat diambil oleh para pembaca, silahkan menyimpulkan sendiri dengan cara pandang masing-masing.

Written by Fahmi
Gerangan asal kota Pasuruan Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.